Ngedakwah itu Gak Cuma Tugas Da’i Lho

Ukhuwah dan Dakwah

MENDENGAR kata dakwah mungkin bagi sebagian kita sudah membayangkan seseorang naik mimbar, podium, panggung lalu berbicara di depan orang banyak.

Ya, mungkin itulah sebuah opini pemikiran yang lazim kita temukan sekarang. Atau pun istilah ngetren sekarang, ada ustadz gaul, ustadz cinta, dan sebagainya (aduh ntah apa itu).

Tapi disini bukan mau ngedikte para pembaca kok, judul di atas memang nyentrik dengan harapan setelah membaca ini bisa menjadi konstruksi pemikiran dan wawasan kita tua dan muda untuk mengenal dan lebih dekat dalam berdakwah.

Tulisan kali ini memang inspirasi dari khutbah jum’at hari ini (20/1), biar pun waktunya singkat namun cukup mengena dengan topik yang sudah sering kita dengar seperti di atas. Read more »

Mengenal Teungku Dianjong di Peulanggahan

Silsilah Tgk Dianjong

Silsilah Tgk Dianjong yang berada di samping pintu masuk makam (Dok. Pribadi)

MATAHARI pagi itu masih menyengat saja, inilah Aceh pukul 9 pagi cuaca berawan masih tetap menerangi langit negeri para raja. Tepat 27 Desember, masyarakat Gampong Peulanggahan memperingati 7 tahun musibah gempa dan tsunami.

Pada tanggal 27 Desember ini juga, dimana Sultan Iskandar Muda wafat diumur yang masih muda 43 tahun. Kini 375 tahun sudah sultan yang dikenal seantero dunia tersebut mangkat dan meninggalkan begitu banyak sejarah bagi generasinya. Walaupun akhirnya banyak generasi muda-mudi yang luput dengan tanggal wafatnya beliau, yaitu 27 Desember 1636 Masehi atau bertepatan 29 Ra’jab 1046 Hijriyah.

Tapi ini bukan kisah sang raja, karena ada sebuah kisah yang tidak jauh dari abad itu. Sekitar abad ke-18 pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Mahmud Syah (1760-1791). Seorang ulama dari Timur Tengah yang bernama lengkap Sayyid Abubakar Husein Bafaqih atau juga sering disebut dengan Syaikh Abubakar bin Husein Bafaqih yang kini dikenal dengan Teungku Dianjong datang membawa ajaran Islam untuk masyarakat di Kutaradja. Read more »

Film Tsunami Aceh Hadir di Layar Lebar

Pemeran Delisan (Chantiq Schagerl)/Foto: Facebook @DelisaMovie

SAYA awalnya gak yakin novel saya difilmkan, apalagi saya kan akuntan. Bahkan dalam mimpi tak pernah terpikir. Saya belum pernah ke Aceh, tapi saya yakin setiap orang akan mengingat bencana itu. Sebagai penulis saya ingin mengenangnya. Semoga lebih banyak orang bisa dapat hikmah.”

Itulah sepenggal kalimat yang dilontarkan oleh Tere Liye yang tidak lain adalah sang penulis novel “Hafalan Shalat Delisa” seperti dikutip dari Kapanlagi.com, Rabu (21/12).

Novel yang membuat pembaca menitikkan air mata ini memang sekilas bisa menggambarkan apa yang terjadi pada saat tsunami dan gempa bumi mengguncang serta meluluhlantakkan sebagian Aceh. Apalagi kisah yang diangkat dalam novel ini menjadi sebuah titik temu, dimana perjalanan hidup keluarga sederhana di pesisir pantai nan indah, Lhoknga, Aceh Besar.

Pertama kali mengetahui fim ini sejak tahun 2009 lalu, iseng-iseng mencari tahu tentang film tsunami dan akhirnya saya menemukan  sebuah forum daring mahasiswa yang mengangkat thread atau judul “Film Hafalan Shalat Delisa (Coming soon)”. Usut punya usut saya pun penasaran dengan film ini, hampir berselang satu tahun menemukan sebuah e-book dan tidak butuh waktu lama dalam 3 malam hampir tamat membacanya. Read more »

3 Tahun Perjalanan Bersama Twitter

Twitter ilustrated credit by http://gnews.comPERJALANAN tiga tahun bersama Twitter, tepatnya hari ini (19/12) ganjil sudah umurnya (begitulah kata akun @themieracle untuk kata-kata ganjil, padahalkan mau bilang genap sudah) :D

Ada berbagai kisah menarik selama mengenal Twitter, tapi sayang tidak tahu lagi Tweet pertama pada hari itu. Namun, tetap saja tanggal 19 Desember ini membuat sejarah tersendiri lewat berkicau bersama banyak teman disana.

Memang benar, ketemu teman dunia maya itu tidak lengkap jika tanpa mengenal dunia nyata. Tapi yang paling berkesan bisa membuat komunitas ‘buzz’ lewat sosial media itu menjadi sesuatu yang berharga. Read more »

Diam Bukan Berarti Tidak Ada Jawaban

singa vs anjing

SABAN hari belakangan ini saya membuka Twitter, mungkin bisa dibilang terhitung sejak malam minggu (10/12) mencoba melihat perkembangan yang ada di linimasa yang penuh hiruk pikuk beragam lintasan kicauan.

Sayang beribu sayang, dimana tanah saya pijak sekarang (Aceh, -red) membanjiri saluran (channel) di Twitter. Padahal lazimnya setiap hari saya selalu sempatkan waktu mengecek saluran pembicaraan/informasi dari seluruh dunia, namun entah kenapa beberapa hari belakangan sampai tulisan ini saya buat memberikan kesan bahwa ada yang tidak beres.

Entah saya yang kurang paham, entah orang lain yang sibuk dengan urusan dunia. Saya pun melihat perkembangan yang bernama berita, disana pun aliran begitu keras dan semakin menjadi atau bisa dibilang lebay seperti kata anak ABG dewasa ini. Read more »

Diantara Keistimewaan dan 4 Desember

Daerah Istimewa

BANYAK dari kita yang kerap mengingat hari lahir, hari jadian, atau hari-hari yang memang begitu indah jika dilewatkan. Namun, salahkan kita jika melupakan hari jadi daerah? ya kalau boleh dibilang ini sesuatu yang berkaitan dengan kecintaan pada negeri yang sering dikenal nasionalisme.

Jika merunut sejarah tempo dulu, Indonesia (NKRI, -red) mempunyai dua daerah istimewa dan salah satunya adalah DI (Daerah Istimewa) Aceh yang hari jadinya jatuh pada tanggal 7 Desember 1956 atau setara 55 tahun Dista Aceh sebutan lazimnya telah diakui di Indonesia sejak kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945.

Sejenak jika kita melihat kondisi Aceh pada bulan Desember 2011 ini, memang yang terbayang hanya sekilas miladnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tidak lebih sudah berumur 35 tahun pada tanggal 4 Desember yang lalu. Read more »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 63 other followers