Do’a Yang Tanpa Hijab


Ilustrasi hijabDALAM sehari semalam, bagi kita yang muslim akan terus berada dalam indahnya bertemu dengan sang Pencipta minimal lima kali, namun belum lagi jika ibadah yang sunnah lain kita kerjakan.

Bertepatan dengan bulan Ramadhan, seluruh pintu kebaikan untuk memperbanyak amal sangat terbuka, dari mulai amal yang sunnah diganjar dengan pahala yang wajib, keutamaan-keutamaan dalam berpuasa bahkan dengan do’a-do’a yang senantiasa akan diijabah oleh Allah SWT.

Nabi Musa dengan segala mukjizat yang telah diberikan Allah, baik itu diberikan kemudahan untuk menyembuhkan orang yang sakit, menghidupkan orang yang sudah meninggal bahkan sekali pun bisa berbicara dengan Allah SWT, walaupun pembicaraannya itu terhalang dengan tujuh pulu ribu hijab (pembatas). Continue reading

Antara Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha


Isra Mi'raj

PERISTIWA fenomenal sepanjang sejarah hidup Baginda Rasulullah SAW di antara kebimbangan manusia yang jauh di luar perkiraan, akhirnya dengan izin Allah SWT, Nabi bisa menjalani perjalanan bersejarah tersebut. Hari ini, begitulah tema yang disampaikan khatib jum’at (25/7) di Mesjid Ukhuwah Islamiyah (MUI) Depok.

Melihat peristiwa ini menjadi yang sangat berharga bagi umat Islam, maka saya kutip sebuah tulisan di wikipedia.org yakni sebagai berikut: Continue reading

Sahabatnya Nabi Yang Satu Ini


sahabat

Ilustrasi: Google Images

29 Jumadil Akhir 1429 H bertepatan dengan hari jum’at (4/7), suasana di MUI hari ini terasa sedikit panas dengan cuasa yang berawan. Khasnya jum’at kali ini, sang khatib Bapak Nurwahidin MA, menyampaikan khutbah dengan Tema Sa’id Bin Amir r.a. yang merupakan salah satu termasuk dalam sahabat nabi.

Berhubung khutbah ini disadur dari beragam tulisan, karena sang khatib pun mencoba untuk membaca teks. Jadi saya simpulkan untuk menyadur juga dari tulisan yang saya kutip dari situs ini. Lalu siapa Sa’id bin Amir itu?, berikut penuturan dari tulisannya. Continue reading

Malu Hati Bukan Pemalu


Jum’at ini lagi-lagi saya berada di kosan, dengan satu lain hal karena mulai pagi masih standby saja di kosan. Berbekal semalam pulang telat dari kampus, jadi kesiangan lagi deh buat kuliah.

Hari ini saya kembali dengan sedikit uraian yang kemungkinan besar beberapa hari lagi umat Islam di Indonesia akan merayakannya, apalagi kalau bukan maulid Nabi Besar Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal 1429 H bertepatan dengan 20 Maret 2008.

Berhubung hari ini juga hari salah satu hari besar umat Islam yakni hari jum’at, jadi uraian ini adalah hasil khutbah singkat jum’at kali ini yang bertemakan ushwatun hasanah baginda besar Muhammad SAW. Banyak untaian kata yang khatib sampaikan kepada para jamaah, terlebih satu hal yang khatib harapkan yakni kesalah tafsiran akan makna malu yang pernah Nabi ungkapkan dalam beberapa sabdanya.

Salah satu sabda Nabi dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari yang artinya “Bila kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu”. Sungguh rasa malu menjadi perhatian besar dalam agama Islam ini.

Malu salah satu sifat yang Nabi miliki bukan semata sebagai orang yang pemalu atau malu-malu, sabda Nabi yang paling banyak kita lihat dan dengar adalah malu merupakan cabang-cabangnya iman. Kata Al-haya’, dikalangan umat muslim menilai ini adalah sifat pemalu. Dimana seseorang yang memiliki akan sifat pemalu cenderung akan merendahkan diri, secara gampangnya hal merendahkan diri tidak memiliki akan sebuah kepercayaan untuk bisa berdiri di depan/menyerukan umat bahkan sekalipun tidak berguna untuk dirinya sendiri.

Namun sifat malu yang Nabi contohkan adalah malu hati semata-mata karena mengharap ridha Allah, sehingga malu hati ini membuat manusia kian menjadi orang yang berendah hati. Tauladan kita Rasulullah tidak pernah sungkan-sungkan untuk duduk bersama orang dhuafa dalam satu majelis, menjahit bajunya yang sobek, beliau juga sangat senang membagikan rezekinya kepada mereka-mereka orang miskin serta beliau tidak pernah lupa menghadiri/melayat umatnya yang meninggal dan masih banyak contoh lainnya.

Dalam sebuah kitab hadist (lupa saya namanya) di bab terakhir kitab tersebut dijelaskan sangat detail mengenai sifat malu hatinya Nabi kepada Allah, namun sayang bab terakhir dari kitab tersebut tidak banyak dipahami oleh umat Islam.

Para sahabat selalu mengikuti perbuatan dan sifat Nabi yang mereka lihat, disebuah ketika seorang sahabat menanyakan tentang sifat dan sikap malunya Nabi. Wahai baginda, kami sudah berlaku malu hati, maka apa yang akan kami dapat?, Nabi pun bersabda yang lebih kurangnya begini, malu hati kalian wahai sahabat saat kalian memelihara akan anggota tubuh mulai dari kepala sampai ujung kaki.

Kepala yang mulia ini tidak akan bersujud dan tunduk selain kepada Allah, tapi juga kepala ini akan berani menengadah untuk membela kebenaran bukan karena congkak maupun angkuhnya dihadapan manusia. Maka dari itu jagalah sebuah anggota di kepalamu, mulut, lidah, pendengaran semua harus memohon dan meminta perlindungan Allah.

Kemudian perutmu, maka jagalah dia jangan sampai dimasuiki dengan sesuatu zat yang mengharamkan atau pun cara memperolehnya yang haram. Selain itu jagalah kemaluanmu dan semua anggota tubuhmu dari murka Allah SWT. Semoga malu hatimu ini menjadi ridha karena Allah.

Inilah uraian singkat yang khatib sampaikan dan saya tulis di blog ini agar ada manfaat dan ilmunya. Hari ini juga pada kesempatan yang sama setelah shalat jum’at ternyata mesjid Jami’ Mardhotillah juga kembali kehilangan satu jamaah yang telah pulang kerahmatullah dan telah dishalatkan juga tadi di mesjid sebagai sebuah kemuliaan dimana sang mayat meninggal dimalam yang penuh kemuliaan juga.

Perihal diakhir shalat jenazah pun sangat berkesan, disaat-saat terakhir terlantun kata-kata pesan tausyiah sebagaimana tata laksana shalat jenazah yang memberikan pelajaran penting untuk penulis sendiri. Hidup di dunia ini tidak lepas dari sebuah peristiwa kematian, semoga do’a para jamaah mendapat balasan ampunan bagi si mayat serta bagi kita semua. Amiin ya rabbal’alamin.

 

Was Ayesha A Six-Year-Old Bride? [part II/II]


BUKTI #5: Perang BADAR dan UHUD Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab karahiyati’l-isti`anah fi’l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: “ketika kita mencapai Shajarah”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-jihad wa’l-siyar, Bab Ghazwi’l-nisa’ wa qitalihinnama`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb].”

Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud and Badr. Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-maghazi, Bab Ghazwati’l-khandaq wa hiya’l-ahza’b): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb.” Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perangm, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud. Continue reading

%d bloggers like this: