Ketika #Pesona10001Saman Gayo Kembali Mendunia


Foto Hendra MurdaniSAAT orang menyebut Saman, secara langsung orang-orang akan ingat Aceh. Dimana pun kita berada, kekuatan ikon Saman telah melekat kuat dengan nilai kearifan lokal beserta sejarah yang panjang hingga menjadi salah satu Daftar Representatif Budaya Tak benda Warisan Manusia dari UNESCO.

Setelah sempat tertunda dan tertunda dalam hitungan jari, akhirnya Ahad (13/8/2017) telah menjadi sejarah baru dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) bahwa penampilan Saman massal berhasil mencapai angka 12.262 penari terbanyak selama ini mengalahkan hajatan sebelumnya pada tahun 2014 silam sebanyak 5.057 penari.

Eforia kemegahan Saman masih terasa, dibalik semua berita dan opini yang naik ke permukaan soal dana dan boikot pascapersiapan seakan jadi sirna. Laskar digital di Aceh dan dibantu dari sejumlah wilayah di Indonesia pun sepakat menviralkan #Pesona10001Saman menjadi Trending Topic Indonesia (TTI), tepatnya pada hari Senin (14/8/2017) di bawah komando Kemenpar.

trending topic saman

Ini menjadi bukti, bahwa Saman bukan hanya milik suku Gayo dan Aceh secara provinsi, tetapi menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia. Buktinya, hampir disetiap even luar negeri lintas lembaga/instansi yang tampil disana khususnya berhubungan dengan kegiatan budaya, Saman masih tetap menjadi pertunjukkan yang menyita perhatian masyarakat luar.

Sejak dipentaskan secara kolosol Ahad lalu, video dan foto Saman juga viral lintas media besar-besar di dunia, siapa saja mereka, ini beberapa yang berhasil saya telusuri:

Sejarah Saman dan Kekuatan Atraksi Budaya

Banyak orang diluar sana, bahkan mungkin di Aceh sendiri masih bertanya siapa Syekh Saman yang kuat dugaan menjadi sejarah yang melekat hingga muncul sebutan tari Saman.

Tarian yang juga dikenal dengan nama “Tari Seribun Tangan” ini di namakan Saman menurut sekian banyak literatur karena dikenalkan oleh seorang ulama Aceh bernama Syekh Saman pada sekitar abad XIV Masehi yang berasal dari dataran tinggi Gayo.

Awalnya, tarian ini hanyalah berupa permainan rakyat yang dinamakan Pok Ane. Namun, kemudian ditambahkan iringan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT, serta diiringi pula oleh kombinasi tepukan-tepukan para penari. Saat itu, tari saman menjadi salah satu media dakwah.

Pada mulanya, tari Saman hanya ditampilkan untuk even-even tertentu, khususnya pada saat merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Biasanya, tari Saman ditampilkan di meunasah (sejenis surau panggung). Namun seiring perkembangan zaman, tari Saman pun ikut berkembang hingga penggunaannya menjadi semakin sering dilakukan.

Kini, tari yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada tanggal 24 November 2011 silam di Bali dapat digolongkan sebagai atraksi hiburan atau pertunjukan, karena penampilan tari tidak terikat dengan waktu, peristiwa atau upacara tertentu.

Tari Saman dapat ditampilkan pada setiap kesempatan yang bersifat keramaian dan kegembiraan, seperti pesta ulang tahun, pesta pernikahan, atau perayaan-perayaan lainnya. Untuk tempatnya, tari Saman biasa dilakukan di rumah, lapangan, dan ada juga yang menggunakan panggung.

Gerak dan Ritme Saman itu Selaras

Kehadiran tari Saman yang bisa ditemukan dimana-mana saat ini sebenarnya tidak boleh lepas dari gerak dan ritme yang telah ada sejak dulu, demi menjaga keharmonisan gerak dan kelestariannya.

Pada tari saman terdapat beberapa gerak dan juga ritme yang khas. Gerak yang ada dalam Saman banyak di antaranya singkih, lingang, tungkuk, langak, anguk, girik, gerak selalu, gerutup, guncang, dan surang-saring. Ritme yang ada dalam Saman adalah rengum, dering, sek, redet, dan saur.

Setiap tari Saman yang dimainkan harus sesuai dengan gerak serta ritme yang ada dalam tari Saman karena memang seperti wujud dari Saman. Oleh karena itu, jika ada tari yang menamakan tari Saman yang tidak sesuai dengan pola yang ada, bukan merupakan tari Saman.

Ketimpangan gerak tari Saman, dewasa ini kerap terjadi dan bahkan terdapat gerakan-gerakan yang tidak dilakukan atau dilakukan dengan tidak sempurna. Tidak dilakukannya salah satu gerak dalam tari Saman atau tidak sesuainya gerak yang dilakukan akan mengakibatkan bergesernya nilai-nilai sebuah tari tradisional.

Semoga tari yang hanya dilakoni oleh penari laki-laki ini tetap pada koridornya, momen kolosal secara massal kemarin diharapkan menjadi rule of model Saman yang sebenarnya, jauh dari nilai kreasi baru dan masih tetap menjadi nilai budaya yang tak luntur ditelan masa sebagai media penyatu dan perekat bangsa besar Indonesia, Salam Merdeka!

Advertisements

2 Responses

  1. kerennn banget bangga jadi orang indonesia

  2. bagus dan bikin haru. budaya kita beragam luar biasa.

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: