Schism Ala Arab Saudi


Tanggal 1 Maret menjadi puncak dari balasan (reply) film monumental Fitna hasil garapan Geert Wilders, seorang anggota parlemen asal negeri gandum Belanda. Berita yang dimuat di detik.com memang sedikit berbeda dengan tulisan-tulisan yang dimuat pada berita-berita lainnya. Simak penuturan dan berita yang saya dapatkan.

Dalam berita muatan di detik.com, durasi film ini (Schism, -pen) hanya berdurasi 6 menit. “Senin (14/4/2008), film yang berdurasi 6 menit ini dibuat berdasarkan tafsir Alkitab yang mendorong orang untuk berperang dan melakukan tindak kejahatan, bahkan menampilkan adegan serdadu-serdadu sedang menyiksa orang Irak. Sedangkan dari hasil penelurusan di youtube.com, film tersebut berdurasi 9 menit.

Selain itu, beberapa tudingan juga bermunculan seperti kenapa film ini menjadi bahan tandingan untuk film fitna yang sudah mencapai hit tertinggi selama 2 pekan lebih. Dari mana data itu diperoleh, atau hanya sebatas menonton isinya saja. Diskusi lengkap ada di forum detik.

Film yang dibuat oleh seorang pemuda Arab Saudi yang berumur 33 tahun ini bernama Raid Al-Saeed, dalam penuturannya di sebuah media Arab News dia mengatakan pengerjaan film ini hanya dalam satu kali 24 jam. Sedangkan maksud dari pembuatan film ini, menurut Saeed bukan untuk menyebarkan kebencian terhadap umat kristen melainkan sebagai bentuk protes bagi orang yang salah dalam menilai Islam dari menonton film Fitna.

Saeed juga memprotes pihak youtube, karena tepat tanggal 1 Maret video-nya dihapus dari youtube oleh sang admin, atas perihal tersebut Saeed melayangkan pernyataan sikap kepada youtube atas penempatan film fitna yang belum dihapus. Akhirnya pada tanggal 2 Maret, Saeed kembali mem-publish videonya di youtube dan sampai sekarang belum ada tanggapan lagi dari youtube.

Terkait Penutupan Youtube


Beberapa waktu lalu, Youtube.com dikenakan status “pending” pengaksesan dari Indonesia sesuai dengan amanat dari Mentri Depkominfo M. Nuh. Pada waktu yang sama juga Depkominfo menyempatkan diri untuk berbincang khusus dengan para blogger Indonesia.

Terkait dengan hal tersebut, banyak pengguna Internet mengganggap situs resmi pemilik saham google.com ini diblok atau istilahnya blocking dengan kerjasama para penyedia provider di Indonesia atas instruksi Depkominfo. Ada hal penting yang ingin saya kemukakan mengenai penutupan situs sharing video tersebut.

Dari hasil ceramah Pak Edmon selaku staf ahli Depkominfo dari hasil kuliah Telematika hari ini (11/4) teridentifikasi bahwa, timbulnya satu judul yakni “Apakah UU ITE Mengancam?“. Hal ini tidak lepas dari berbagai pernyataan pendapat dari kalangan Dewan Pers tentang pemberlakuan UU tersebut serta pendapat-pendapat lainnya yang kian berterbangan di media massa dan elektronik.

Dari sebuah judul sederhana tersebut, ternyata terpencar banyak bagian-bagian yang sangat “berkelas” dari penerapan UU ITE tersebut. Sebut saja contoh seperti pemblokiran youtube.com beberapa waktu yang lalu, myspace.com yang berencana akan ditutup juga, penggunaan proxy anonymous serta sampai dalam regulasi telekomunikasi untuk pihak penyelenggara.

Disini saya tidak melihat masalah yang terpencar dari bagian-bagian tersebut, melainkan melihat kondisi Indonesia yang sangat lemah dalam menilai arti cyber police dan/atau cyber law dalam dunia maya. Mengapa dewan pers Indonesia kembali menggugat pasal 27 ayat (1) dan ayat (3)? Jelas menyangkut nama baik atau pencemaran nama baik karena melanggar UU.

Adakah masalah lain dibalik itu? tentu jawabannya masih banyak. Mulai dari penetapan akan tindak pidana (KUHP) serta penyinggungan masalah SARA. Hal ini tentu membuat kalangan-kalangan yang berpentingan akan merasa gerah, contoh kasus om Roy Suryo yang selama ini di “hujat” apakah itu salah satu dari pencemaran nama baik orang!

Banyak juga permasalah yang membuat bangsa ini kian hari kian tertipu dengan media yang dibaca dan didengarnya. Culture (kultur) bangsa Indonesia yang berjalan pluralisme dan berbagai macam keanekaragaman budaya tentu menjadi sesuatu yang bisa lebih berpotensi dalam memikirkan intelektual tinggi.

Tidak saja orang-orang hukum bisa mendapat gelar dengan begitu gagah, namun tidak tahu akan arti kepentingan hukum itu sendiri. Hal mudah saja bisa kita lihat dari bentuk kelalaian seorang manusia bisa berbuah hukuman (apalah istilahnya kalau tidak KUHP atau pun KUHAP), kenapa bisa begitu? jelas itu adalah bentuk tidak kesengajaan, tetapi itulah perlu adanya kehati-hatian (orang hukum lebih mengerti akan pasal-pasalnya).

Kembali ke youtube tadi, sebenarnya bangsa ini tidak perlu begitu bersikeras dengan pihak-pihak youtube atas penayangan / publish video GW asal Belanda tersebut. Pemblokiran yang ada pun bukan semata karena adanya interfensi atau flow (arus), istilah ini bisa dipelajari lebih lanjut atas pernyataan sikap dari pihak google selaku pemilik saham youtube kepada pihak pemerintah (lihat detik).

Untuk itu pemerintah Indonesia pun harus banyak belajar dalam kasus muatan SARA tersebut pada situs youtube, sehingga peristiwa seperti ini tidak membuat bahan pikiran baru dari respek sebagian banyak pecinta cyber.

Melihat sisi lain dari sebagian kenyataan yang ada di Indonesia, memang sangat beralasan dimana seseorang sering mengalami sesuatu hal yang tanpa memiliki identitas benar atau salah. Pemikiran taktis dengan strategi itu adalah sebuah sikap dan perbuatan yang tidak akan nyambung bila kita mengaitkannya dengan kasus yang dialami Indonesia sekarang ini.

Film Fitna sebut saja yang mendapat reaksi keras, tentu hal yang mutlak dilkukan bukanlah mengatur strategi melainkan taktis. Orang yang sedang digempur oleh lawan saat berperang misalnya, tidak mungkin dia akan memikirkan strategi lagi karena antara dua pilihan menembak musuh atau ditembak musuh. Maka peran akan taktis sangat diperlukan.

Masih banyak cerita lainnya yang belum saya utarakan, mungkin cukup untuk sekian dulu pada versi [tidak stabil ini] dan akan diupdate untuk seterusnya.

Aksi Untuk UU ITE


Berbagai pesan melalui chattingan saya hari ini pada jam 17.40 WIB masuk dengan statmen-statmen yang begitu keras dan memberontak dalam arti kata tidak setuju terhadap UU-ITE.

Semenjak Pak M. Nuh Depkominfo bertemu dengan para blogger Indonesia beberapa hari yang lalu, Pak Nuh mengatakan para Blogger adalah keluarga (our family). Pertemuan yang diadakan pada senin malam itu terkait halnya keberadaan situs youtube.com yang disinyalir akan ditutup (blokir) karena memuat video-video yang berbau dengan film fitna yang sempat hit beberapa minggu ini.

Akibat dari itu, pihak youtube.com pun sudah diberitahukan untuk tidak mengedarkan atau mem-publish video tersebut berhubung suasana ancaman terhadap dalangnya film tersebut Geets Wilders makin memuncak.

Tidak ada sesuatu yang khusus sebenarnya terkait dengan UU ITE dengan si GW tersebut, namun entah kenapa aksi dan isu-isu yang menolak ITE semakin hari semakin semeraut. Lihat saja berita-berita yang ada di berbagai media cetak maupun elektronik, semua pasti ada judul yang berhubungan dengan ITE sampai dengan seruan untuk terus diminta direvisi dan dikoreksi untuk lebih bijak dan sosialis terhadap negara ini.

Pasal demi pasal dalam UU ITE pun kian rancu dimata-mata orang yang berkepentingan. Lain lagi dengan masalah pemblokiran situs-situs ternama di internet menambah hangat masalah UU yang satu ini.

Youtube.com, Multiply.com, Rapishare.com, dan masih banyak lainnya yang akan dilist untuk menjadi objek pemblokiran karena dianggap melanggar dari UU ITE. Hasil forward dari chattingan hari ini pun membawa isu Google, Friendster bahkan sampai YM (Yahoo Messanger) akan menjadi list berikutnya.

Jelaslah bahwa pesan chattingan begitu seru dengan aksi untuk mendemo Depkominfo, untuk meminta kejelasan tentang isu-isu yang akan diblok beberapa situs-situs unggulan para pecinta dunia cyber apalagi kalau bukan seperti mbah google, friendster dan lain-lain sebagainya.

Perlukah aksi ini bergulir kedepan untuk kembali terjun ke “lapangan” lagi, apakah tidak cukup hanya sebatas pertemuan para netter seperti yang dilakukan senin malam tersebut oleh Depkominfo? atau emang rakyat ini harus bangun dari meleknya teknologi. Bersama kita bisa!

Fitnah “Besar” Kembali Lagi


Di negara penghasil gandum terbesar di dunia, kabar duka membuat umat di hampir seluruh negara geram dan bersuara. Fitna, ya itulah sebuah nama film yang dibuat oleh seorang anggota parlemen dari Partai Kebebasan di Belanda, film yang berdurasi 15 menit seperti yang diperlihatkan dari awal film itu berlangsung membuat para umat-umat agama di negara ini mengelus-eluskan dada.

Film yang digarap sudah lama oleh seorang politikus ini ternyata baru dirilis hari kamis waktu setempat dan dipublis di media-media seperti internet pada hari jum’at waktu Indonesia. Tidak berlama pun isu itu telah tersebar bak air yang mengalir di sungai yang memasuki liku-liku bebatuan.

Sebelum film ini dirilis pada publik pada waktu setempat, perdana menteri Belanda telah meminta Geert Wilders si pembuat film dokumenter ini untuk tidak menyebarkannya di negara Belanda apa lagi ke negara-negara lain. Mengingat anggota parlemen termasuk PM Belanda tidak setuju terhadap isi dari film tersebut yang terlalu menyudutkan agama lain.

Ternyata harapan mereka dari parlemen, disia-sia oleh Wilders. Film tersebut dengan sangat santainya memasuki internet melalui situs-situs sharing video (youtube, live leak, dsb). Berbagai aksi kekerasan dalam film yang berdurasi 15 menit disampaikan Welders dengan menyandang berbagai ayat-ayat suci Al-Quran. Tak luput dari itu, Welders secara gamblangnya menerjemah ayat-ayat suci tersebut dengan “sebutan” yang anarkis, hal terlihat dari sudut pandang dia mengambil ayat-ayat berisikan tentang perjuangan atau jihadnya umat Islam.

Selain ayat-ayat yang dipaparkan dalam tanyangan tersebut, Wilders juga mengambil rekaman-rekaman orasi, eksekusi dari berbagai kalangan-kalangan pejuang Islam yang menggambarkan betapa semangatnya mereka meneriakkan (jihad, red) agama sambil menghunuskan pedang, dan lagi-lagi si Wilders melecehkan akan isi dari orasi tersebut.

Lalu apa yang terjadi sekarang ini di berbagai belahan dunia atas reaksi dari film yang berdurasi 15 menit tersebut? Jawabannya hanya satu yakni teriakan keras untuk menuntut Wilders dari perbuatannya yang dinyatakan sangat bersalah. Dan tentu teriakan-teriakan lainnya masih ada, namun itulah yang paling umum kita lihat dan dengar sekarang.

Berbagai media cetak dan elektronik kian gempar dengan berita tersebut, tidak ketinggalan suara-suara dari para ulama, pejabat, ormas dan lain-lain sebagainya terhampar di media. Mungkin bagi media ini adalah fokus utama dari memberikan rate/hit dalam berita. Namun, sebaliknya media internet seperti situs-situs sharing video tidak ketinggalan pun mengalami dilematis atas reaksi tersebut, youtube.com yang terkenal dengan media sharing salah satunya mendapat reaksi keras untuk ditutup dari berbagai pihak dengan adanya tanda flag video (video-video yang bernilai tidak layak publish) dari para penonton yang menilainya.

Bagaimana dengan si pembuat film saat ini? yang jelas dia telah dilepas (pecat) dari parlemen Belanda dari keanggotaannya. Memang Indonesia yang mayoritas muslim menilai hal ini adalah cobaan bagi agama dari serangan secara non physically melainkan metode baru dalam peperangan ghazwul fikri.

Kesabaran yang diuji merupakan salah satu jalan untuk bertaqarrub kita kepada Allah dari segala musibah dan cobaan. Memohon doa, jangan hanya teriakan saja. Allah cinta akan hamba-Nya ketika hamba-Nya selalu ingat dan selalu memohon ampun dengan penuh kerendahan untuk mendapat ridha Allah SWT.

NB: Tulisan ini sudah dipublikasikan di SeNat (Selembar Nasehat) FUKI tanggal 3 April 2008

The Fitna


Semaraknya dunia perfilman di Indonesia ternyata berbuah kejutan besar sebut saja AAC yang sudah mencapai 3,5 juta penonton di Indonesia yang mengalah film-film bioskop lain sepanjang sejarah dunia lebar di Indonesia. Berbagai kalangan pun tidak luput dari tontonan AAC mulai dari masyarakat jelata sampai Pak SBY juga tidak ketinggalan.

Hari jum’at kemarin (28/3) ternyata kesemarakan tersebut membuahkan kemarahan bagi umat Islam seluruh dunia terhadap anggota parlemen Belanda yang bernama Geert Wilders. Hal tersebut mencuat dari isu adanya film Fitna yang akan dirilis jum’at tersebut, padahal pihak PM di Belanda sudah meminta untuk tidak merilis film tersebut karena terkait ancaman kemarahan umat Islam terhadap film tersebut.

Bukan saja umat Islam sebenarnya yang geram terhadap film tersebut, melainkan pihak-pihak agama lain juga melarang keras film itu untuk beredar di kalangan bebas. Sehingga efek emosi umat Islam tidak menjadi peperangan dengan pihak-pihak lainnya.

Apa sebenarnya isi dari film tersebut? bagaimana seharusnya hal ini disikapi oleh masyarakat muslim dunia. Untuk melihat film tersebut anda bisa mencari atau searching di google atau langsung di youtube.com. Isi dari film ini adalah sebuah kontroversi dari si pembuat film Geert terhadap kebenciannya pada umat Islam yang sudah sejak lama dipendam dan belum bisa di buat dalam bentuk media audio visual, apakah ini ada terindentifikasi dengan masalah politik juga?.

Dilihat dari latar belakangnya sendiri memang Geert adalah anggota parlemen (dewan) Belanda yang berasal dari fraksi Partai Kebebasan, sebelum film itu dirilis pada hari jum’at kemarin, PM Belanda dari partai Kristen Demokrat sendiri menolak atas tindakan Geert terhadap film tersebut yang menilai Islam sebagai umat “brutal” serta menampilkan ayat-ayat Al Quran yang tidak di dasari atas tafsiran yang benar.

Semoga dari kejadian ini yang diharapkan adalah umat Islam untuk menahan diri dan jangan terpancing dengan emosi, karena bisa jadi Geert Wilders adalah turunan raja Fir’aun laknatillah. Wallahu’alam

%d bloggers like this: