MATAHARI pagi itu masih menyengat saja, inilah Aceh pukul 9 pagi cuaca berawan masih tetap menerangi langit negeri para raja. Tepat 27 Desember, masyarakat Gampong Peulanggahan memperingati 7 tahun musibah gempa dan tsunami.
Pada tanggal 27 Desember ini juga, dimana Sultan Iskandar Muda wafat diumur yang masih muda 43 tahun. Kini 375 tahun sudah sultan yang dikenal seantero dunia tersebut mangkat dan meninggalkan begitu banyak sejarah bagi generasinya. Walaupun akhirnya banyak generasi muda-mudi yang luput dengan tanggal wafatnya beliau, yaitu 27 Desember 1636 Masehi atau bertepatan 29 Ra’jab 1046 Hijriyah.
Tapi ini bukan kisah sang raja, karena ada sebuah kisah yang tidak jauh dari abad itu. Sekitar abad ke-18 pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Mahmud Syah (1760-1791). Seorang ulama dari Timur Tengah yang bernama lengkap Sayyid Abubakar Husein Bafaqih atau juga sering disebut dengan Syaikh Abubakar bin Husein Bafaqih yang kini dikenal dengan Teungku Dianjong datang membawa ajaran Islam untuk masyarakat di Kutaradja.
Awal Cerita Mencari Tahu
Sehari sebelumnya, tanggal 26 Desember saya mencoba berkeliling Banda Aceh ingin melihat dan menyaksikan peringatan 7 tahun tsunami, beberapa titik saya kunjungi seperti ke Lampulo, Punge Blang Cut, Kp. Mulia, Lampaseh Kota, dan Peulanggahan tentunya.
Setelah menunaikan shalat Dzuhur di mesjid Tgk. Dianjong, rasanya tidak ingin segera meranjak ke luar karena cuaca memang sangat menyengat. Sembari menunggu Ashar saya beserta salah satu teman berjalan-jalan disekitar komplek mesjid.
“Bal, ini kita sudah di mesjid Tgk. Dianjong, lalu dimana makam beliau ya?” tanya saya pada Iqbal yang tidak lain salah satu kontributor @iloveaceh regional Banda Aceh.
“Makam Tgk. Dianjong ada disebelah sana”, tunjuk Iqbal ke arah selatan. Terlihat sekilas disana ada beberapa orang tua, mereka saling bercakap dan menyantap nasi bungkus. Saya pikir ada piknik apa disebelah mesjid ini, ternyata para tetua kampung sedang menyiapkan musyawarah untuk persiapan peringatan tsunami besok.
Tidak lama saya pun beranjak ke selatan mengikuti arahan Iqbal, tidak jauh hanya 2 meter dari pintu selatan mesjid hamparan kuburan terlihat begitu jelas. “Ini lebih cocok disebut tempat kuburan umum”, gumam saya dalam hati sambil melihat banyak sekali kuburan dalam komplek mesjid ini.
Melihat-lihat sekeliling makam, ada satu tempat yang memang begitu bagus pemugarannya dan pintu pun tertutup rapat. “Ini makamnya, tapi tidak ada keterangan”, sahut Iqbal kepada saya.
Memang tidak aneh, banyak tempat sejarah di Aceh miskin akan keterangan dan itu pun saya maklumi. Namun, apa dikata tidak ada orang yang bisa kami tanyai tentang keberadaan makam ini karena tidak mungkin mengganggu para tetua kampung sedang musyawarah.
Berselang satu hari, kami pun mendatangi mesjid Tgk. Dianjong kembali. Siapa tahu pas pada acara peringatan 7 tahun tsunami ini ada orang-orang yang bisa mencerita dan berbagi sedikit informasi.
Singkat cerita, selesai acara yang dipimpin oleh Abuya Syekh H. Amran Al-Khalidy pimpinan majelis pengkajian tauhid-tasawuf tampak beberapa rekan media yang duduk santai di kantor keuchik bersama lelaki berbaju putih, usut asal usut lelaki ini adalah pimpinan gampong alias keuchik Gp. Peulanggahan, Kec. Kutaraja, Banda Aceh, begitulah kata rekan media yang saya kenal itu.
Tidak berselang lama sedikit cerita sejarah pun terajut dari kami berenam disitu, panas matahari dibalik dedaunan rimbun masih tetap setia menenami kami di siang menjelang sore itu.
Siapa Teungku Dianjong
Tgk. Dianjong ini dikenal sebagai ulama pada masa hidupnya, beliau adalah salah satu ulama dari Timur Tengah yang mulai dikenal luas serta bermukim di Kutaradja pada masa sultan Sultan Alaiddin Mahmud Syah. Tidak banyak catatan sejarah yang saya temukan tentang ulama asal Hadhramaut, negeri Yaman tersebut.
Tidak ada yang tahu kapan pastinya Tgk. Dianjong ini sampai ke Aceh, namun kedatangan beliau ke Aceh bukan secara tiba-tiba. Ada kisah panjang dibalik itu semua, konon cerita turun temurun seperti yang dituturkan oleh keuchik setempat, dulunya Tgk. Dianjong tidak datang langsung ke Aceh melalui Yaman, namun singgah terlebih dahulu ke Madinah untuk belajar dan mengamalkan berbagai ilmu dan kitab, salah satunya kitab Bidayatul Hidayah karya Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali bersama dengan dua ulama lainnya.
Dua ulama lainnya itu adalah Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Alaydrus yang pada waktu itu melanjutkan perjalanan ke Mesir dan satunya lagi Sayyid Syeikh Bin Muhammad Al-Jufri yang berlabuh ke wilayah Malabar, negara India yang dikenal saat ini.
Namun, dari hasil perkiraan masa kepemimpinan antara sultan ke sultan lainnya pada masa itu, Tgk. Dianjong sudah mulai mendakwahkan Islam di Aceh sejak tahun 1642 M (masa Sultanah Sri Ratu Safi al-Din Taj al-Alam).
Setelah Syaikh Abubakar bin Husein Bafaqih meninggal, kemudian dimakamkan di samping mesjid tersebut. Oleh karena itu, sebagai tanda penghormatan masyarakat, maka namanya diabadikan pada nama mesjid tersebut, yaitu Mesjid Teungku Dianjong.
Pada waktu itu, ulama yang dikenal santun dan suka menolong orang kesusahaan ini, memanfaatkan rumah kecilnya (rumoh cut) sederhananya sebagai tempat pengajian dan belajar agama Islam, beliau pun menampung murid-murid untuk bermalam disana yang datang jauh-jauh untuk belajar bersamanya, sehingga lambat laun beliau mendirikan mesjid yang difungsikan sebagai tempat ibadah, juga untuk bermusyawarah, pengajian serta bagi muridnya.
Daerah Peulanggahan dulunya begitu terkenal keluar, sampai-sampai gelar Tgk Dianjong (orang yang tinggi statusnya atau disanjung) sendiri didapatnya dari masyarakat setempat karena beliau dikenal banyak menghabiskan ibadahnya dengan shalat, berzikir, bershalawat dan membaca ratib di anjungan masjid. Bahkan ulama tasawuf ini juga berperan sebagai ulama fiqih dalam membimbing manasik haji bagi calon-calon jamaah baik dari kesultanan Aceh, Sumatera maupun dari pulau jawa bahkan juga jamaah dari Semenanjung Malaya yang akan menunaikan ibadah haji. (Rakyat Aceh, 14 Agustus 2010).
Namun, ada juga gelar Tgk Dianjong ini dikaitkan pada saat beliau menikah dengan putri hulubalang dan tinggal di anjungan rumah mertuanya daerah Lamgapang, Ulee Kareng. Istrinya kemudian meninggal tanpa ada anak dan pada waktu itu beliau kembali ke Hadhramaut.
Tgk Dianjong kembali ke Aceh setelah mempersunting Syarifah Fatimah binti Sayid Abdurrahman Al-Aididid di negeri asalnya. Isteri beliau di kebumikan tepat disebelah makamnya yang kini sudah dipugar kurang lebih 4 x 5 meter.
Mesjid Teungku Dianjong
Dulunya mesjid Tgk. Dianjong sangat unik bentuknya, dimana mirip dengan mesjid peninggalan kuno yang ada di Indrapuri, Samalanga dan tempat lainnya di Aceh. Mesjid yang mempunyai bentuk tumpang dan bersusun kecil ke atas untuk atapnya.
Mesjid Tgk Dianjong didirikan di atas pondasi yang berdenah bujur sangkar, dengan ukuran 14,80 x 9.20 m dan tinggi 16 m. Selain itu, juga terdapat ruang berukuran 166 x 166 cm dan tingginya 177 cm, yang digunakan untuk tempat imam memimpin shalat berjamaah (mihrab).
Mesjid tersebut mempunyai atap tumpang dua dan bersusun semakin mengecil ke atas. Pada sisi paling depan bangunan tersebut terdapat serambi yang merupakan bagian dari bangunan induk mesjid. Mesjid tersebut sudah memiliki langit-langit yang terbuat dari triplek sehingga udara tidak bebas keluar masuk dari ventilasi atap tumpang.
Di mesjid inilah, pada masa pergolakan Belanda, Teuku Umar diambil “sumpah” untuk menjadi pejuang Belanda dan berbalik arah melawan pejuang Aceh. Cerita ini sering disebut dengan taktik Teuku Umar, sehingga ada yang mengatakan bahwa langkah yang ditempuh Teuku Umar sebagai salah satu bentuk strategi dalam perjuangan.
Melihat mesjid yang diberi julukan Tgk Di Anjong ini memang bukan tidak berasalan, nama ini disematkan masyarakat setempat sebagai bentuk nilai sejarah untuk mengenang dan menghormati sang ulama, yang tidak lain pendiri masjid itu sendiri. Kini mesjid Tgk. Dianjong banyak mengalami perubahan, dan hampir detail-detail peninggalan lama tidak terlihat lagi, ganasnya ombak dan gempa yang melanda 7 tahun lalu telah membuat mesjid ini ikut hancur yang luas kompleknya sekarang seluas empat hektar. (Agus Budi Wibowo, 3 Maret 2009)
Ada berbagai hal yang menakjubkan jika memang jika Anda sempat bertandang kesana dan masuk ke dalam makam Tgk Dianjong, karena tidak semua pengunjung bisa masuk begitu saja walaupun tempat ini sering dimanfaatkan untuk tradisi peuleuh kaoy (melepaskan nazar).
Haul (hari wafatnya) Tgk. Dianjong sendiri sering diperingati pada 19 Ramadhan setiap tahunnya, pada waktu itulah sanak saudara, handai taulan dari garis keturunan beliau sering berkunjung ke makam tersebut untuk berdo’a dan memanjatkan do’a dari berbagai daerah baik dalam dan luar negeri. Jadi, disitulah salah satu kesempatan untuk melihat jelas makam yang telah dikelambu tersebut.
Haul (hari wafatnya) Tgk. Dianjong sendiri diperingati pada 14 Ramadhan setiap tahunnya, namun pada tahun 2011 (1432 H) sempat diperingati pada tanggal 19 Ramadhan dikarenakan panitia pelaksana waktu itu mengalami beberapa kesulitan, jadi terpaksa diundur pada tanggal 19 Ramadhan. (Ralat -Baktiar)
Salah satu bukti yang terlihat, di makam yang berukhir kaligrafi dan ayat-ayat Al-Qur’an ada bekas air pada waktu tsunami yang merendam daerah sekitar itu. Tidak tinggi hanya 30 centimeter, padahal disaat itu tinggi ombak tsunami yang menerjang gampong Peulanggahan sampai 15 meter.
“Dulunya pas air tsunami sampai di Peulanggahan hampir melewati atas mesjid paling atas, kira-kira 15 meter begitulah,” ungkap keuchik Husaini yang diaminkan oleh tetua gampong disitu sebagai saksi sejarah.
Inilah kuasa Allah SWT kepada para walinya, tidak ada yang harus kita lebihkan. Karena ketentuan Allah memang selalu diberikan kepada orang-orang yang telah dikehendakinya. Wallahu’alam
Tertarik berkunjung ke makam Tgk. Dianjong, Anda pastinya tidak akan tersesat. Apalagi daerah Gp. Peulanggahan, Gp. Keudah, Merduati, Gp. Pande, dan Gp. Jawa ini adalah salah satu bekas sejarah dulu pada masa sebelum berpindahnya kerajaan Aceh ke dekat Mesjid Raya Baiturrahman, atau dikenal dengan istana Darud Donya.
Karena itulah, daerah-daerah yang telah disebut di atas itu layak menyandang sebutan Truly Kutaradja (Kutaraja yang sebenarnya). Dengan pendirinya Sultan Johan Syah (Sultan Alaidin Mahmud Syah). Semoga dilain kesempatan kita bisa sambung lagi dengan sejarah-sejarah yang tidak pernah habisnya untuk digali dan dipelajari oleh generasi sekarang ini. Salam![]
Terimakasih kepada Pak Geuchik, Perangkat Gampong, Rekan media yang sudah ikut gabung bersama mencari tahu sejarah ini. Ada sebuah pesan dari Pak Geuchik setempat yang mungkin perlu bantuan Anda, yakni pendataan korban tsunami untuk pembangunan Monumen Korban Tsunami Peulanggahan.
Filed under: Aceh Hari Ini, Agama, History Tagged: | 26 Desember, Peulanggahan, Sejarah Aceh, Tgk Dianjong, Ulama, Visit Aceh














Saleum,
Lama sudah saya mencari kisah tentang tengku dianjong bang, sejak sya tinggal di lampaseh kemaren, nama ini sering saya dengar. akhirnya nemu disini. trimong gaseh that…
semoga amal ibadah beliau di terima di sisi alloh SWT,,
Amiin
[...] Mengenal Teungku Dianjong di Peulanggahan [...]
[...] sebutan alias nama yang dikenal oleh masyarakat. Sama halnya seperti tulisan saya dulu tentang Tgk Di Anjong Peulanggahan yang merupakan salah satu ulama dari Timur [...]
Ralat,
“Haul (hari wafatnya) Tgk. Dianjong sendiri sering diperingati pada 19 Ramadhan setiap tahunnya, pada waktu itulah sanak saudara, handai taulan dari garis keturunan beliau sering berkunjung ke makam tersebut untuk berdo’a dan memanjatkan do’a dari berbagai daerah baik dalam dan luar negeri”
yag benar adalah :
“”Haul (hari wafatnya) Tgk. Dianjong sendiri diperingati pada 14 Ramadhan setiap tahunnya, dan pada tahun 2011 (1432 H) diperingati pada tanggal 19 ramadhan akibat panitia pelaksana pada waktu itu mengalami kesulitan-kesulitan, jadi terpaksa diundur Haul Tgk Dianjong menjadi 19 Ramadhan”
demikian untuk dimaklum…..
terima kasih atas koreksinya
selain dakwah, apakah ada peninggalan dari beliau seperti kesenian tari dsb?
dari hasil saya wawancara dengan warga setempat tidak ada satu pun yang sempat menyinggung tentang peninggalan beliau tentang kesenian berupa tari bagi warga disitu, bisa jadi beliau memang tidak mengajarkan kesenian tari pada masa itu.