Ngedakwah itu Gak Cuma Tugas Da’i Lho


Ukhuwah dan Dakwah

MENDENGAR kata dakwah mungkin bagi sebagian kita sudah membayangkan seseorang naik mimbar, podium, panggung lalu berbicara di depan orang banyak.

Ya, mungkin itulah sebuah opini pemikiran yang lazim kita temukan sekarang. Atau pun istilah ngetren sekarang, ada ustadz gaul, ustadz cinta, dan sebagainya (aduh ntah apa itu).

Tapi disini bukan mau ngedikte para pembaca kok, judul di atas memang nyentrik dengan harapan setelah membaca ini bisa menjadi konstruksi pemikiran dan wawasan kita tua dan muda untuk mengenal dan lebih dekat dalam berdakwah.

Tulisan kali ini memang inspirasi dari khutbah jum’at hari ini (20/1), biar pun waktunya singkat namun cukup mengena dengan topik yang sudah sering kita dengar seperti di atas.

Dalam hidup ini kita memang butuh nasehat dan saling menasehati, begitu juga halnya dalam berdakwah. Dakwah itu sendiri tentunya mengajak untuk berbuat makruf dan mencegah untuk hal-hal yang mungkar pastinya.

Mengenal muda-mudi serta generasi Aceh saat ini sungguh beragam, berbagai kesibukan orang tua kadang sering luput dalam mengajari anaknya sendiri. Maka dari itu jangan heran banyak dari generasi terpengaruh dengan ‘dakwah luar’ selain dari Islam.

Kalau sekarang kita mengenal banyak penceramah di Aceh dan sampai dibuat dalam rekaman seperti video dan audio, namun jangan salah buat kita yang muda-mudi gak harus pintar ngomong seperti para da’i/penceramah itu kok.

Sejenak kita lihat dulu deh firman Allah berikut ini yang artinya, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3] : 104).

Jika kita membaca dengan seksama dan tahu akan ayat tersebut, tentu disana disebut segolongan umat. Tentu kita tahu umat mana yang diseru untuk mengerjakan kebajikan tersebut. Apalagi jika ayat di atas kita sokong dengan ayat selanjutnya lagi, dimana Allah berfirman, “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat) kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran dan kalian beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran [3] : 110).

Jadi, dalam hidup bermasyarakat kita pasti punya yang namanya pemimpin. Dimana pemimpin juga mempunyai tanggung jawab yang diamanahkan lebih besar dari sekedar masyarakat biasa, mulai dari kepala keluarga paling kecil, terus kepala desa (keuchik), mukim, dan seterusnya.

Namun, dari setiap kita itu sebenarnya pemimpin, maka dari setiap pemimpin itu adalah da’i bagi diri sendiri setidaknya. Kita tidak perlu bersusah payah memikirkan kenapa para penceramah/da’i selalu sibuk menasehati orang lain, sibuk mengajari dan mengingatkan orang lain, sibuk ngomong sana sini, tapi tanpa sadar kadang kita belum pernah satu kata pun mengingatkan diri sendiri.

Dalam khutbah singkat ini, salah satu hadis Nabi saya lupa lengkapnya ada sebuah perumpaan untuk kita dalam menyikapi diri dengan sesama dalam mengingatkan untuk berdakwah.

Misalnya kita sering duduk bersama teman sejawat atau kerabat di warung kopi, salah satu dari teman kita itu jarang atau bahkan tidak ke mesjid hari jum’at, tentu ada cara tersendiri untuk menanyakan kenapa dia jarang ke mesjid dengan cara kita, tidak harus kasih dalil atau hadist –yang bisa memberatkan kita– untuk mengajaknya berbuat makruf.

Sudah kebayangkan, apa yang kita lakukan sama teman di warkop itu sudah masuk berdakwah lho, memang terkesan simpel tapi yakinlah itulah cara yang bisa kita lakukan dalam sehari-hari.

Ada juga pendapat begini, yang konon sering disebut nafsi-nafsi. Buat apa ingatin orang lain, diri sendiri aja belum beres dalam beribadah atau beragama, sok munafik, sok suci, dan lain yang kerap kita dengar dalam masyarakat hal-hal senada seperti itu malah yang lebih parah ada yang mengatakan yang melihat kemaksiatan malah mendumel itukan urusan keuchik, WH, atau siapalah yang disalahkan.

Sungguh disayangkan sekali jika pemikiran seperti itu masih saja menjadi belenggu bahwa tidak ada kewajiban bagi orang yang berpikir nafsi-nafsi ini untuk berdakwah, padahal bagi sesama muslim itu adalah saudara.

“Seorang mukmin itu terhadap mukmin yang lain adalah laksana bangunan, yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain”. (HR Bukhari dan Muslim)

Coba bayangkan, ada sebuah kapal dimana setiap penumpang pasti akan memasukinya dengan tempat masing-masing yang ada di dalamnya. Ada yang di atas dek, di tengah, bahkan di bawah (dek yang paling dasar). Umpama dek kapal ini bagaimana tingkatkan kita dalam ilmu dan beragama, tentunya orang yang berilmu banyak dan agama akan berada di atas, lalu rakyat jelatan yang biasa-biasa saja ada di bawah.

Maka dari itu orang-orang yang ada di atas sesekali dan kerap harus peduli dengan orang di bawah (dek bawah) saling menasehati, saling menghargai, tidak membiarkan dalam kebodohan dan sebagainya. Apa jadinya jika orang di dek bawah mengambil air laut lewat ngebor dinding kapal, jika tidak diajari tentu kapal bisa karam dan semua penumpang akan tenggelam. Begitu juga sebaliknya, ketika orang-orang di atas mengingatkan orang di bawah untuk tidak boleh sembarangan, punya cara dan trik tertentu.

Begitulah sebuah perumpaan, semoga kita bisa tetap saling mendakwahi sesama. Bukan nafsi-nafsi dalam kemasiatan atau kemungkaran. Wallahu’alam[]

Ilustrasi dari thechamberoffriendship.wordpress.com

45 Responses

  1. saat ini kesadaran kita lah kurang, tak ada risau terhadap agama saudaranya, kadang malah- malah kita menyalahkan mereka. merasa paling benar, hingga kadang mengeluarkan berbagai dalil. ini bukannya membawa kepada hidayah.
    akhlaq yang mulia adalah sebaik- baik da’wah.. begitu orang akrab dengan kita, insya Allah kita akan mudah mengajaknya kepada kebaikan, mengajak kepada kebaikan, dengan sendiri ia kan berusaha meninggalkan keburukan. Allahu a’lam

    • karena lewat kesadaranlah kadang datangnya keprihatinan, inilah salah satu hal yang sudah langka dikalangan umat semoga lewat teladan dan akhlak baik bisa kembali membuat saudara-saudara kita sadar dan kembali dalam lingkup ukhuwah untuk berbuat makruf.

      terimakasih Sayyidah atas renungannya🙂

  2. betul sekali.. seperti judulnya ngedakwah itu bukan cuma tugas da’i… yg harus berada didepan podium.. banyak sekali bentuknya.. termasuk artikel ini juga salah satu bentuk dakwah.. yg penting salah satu misinya adalah hijrah.. keburukan menjadi kebaikan, yang baik menjadi lebih baik lagi..
    salam🙂

    • terimakasih sobat telah menambahkan dan melengkapi untuk berdakwah, terasa bahagia saat disisi lain kita bisa saling menasehati, semoga kita diberikan rahmat serta lindungan dari-NYA. Amin🙂

      salam

  3. “nge-dakwah itu bukan hanya tugas dai'”.saya setuju dengan pernyataan ini. tapi, menurut saya ada satu hal yang perlu menjadi bahan pertimbangan.
    saya memiliki teman dari berbagai latar belakang dan pemikiran yang berbeda, bagi orang yang telah belajar islam lebih dalam atau mulai belajar diluar dari pelajaran yang diberikan di rumah rasanya tidak akan sulit mengingatkan dengan dalil atau hadist. tapi ada juga tipe orang yg di KTP tertulis islam namun tiap hari tidak bersikap layaknya muslim. dengan tipikal seperti ini pendekatannya menurut saya harus disesuaikan. awalnya harus didekati dengan kebaikan, tidak langsung membahas hadist.
    jadi perlu penyesuaian cara penyampaian, dengan begitu akan lebih banyak orang yang tidak takut belajar tentang agamany sendiri. karena kalau pikirannya yang digugah yg bersumber hadist atau ayat dan sikap nyata bahwa islam itu memuliakan tentunya akan lebih banyak yang tertarik.
    karena banyak teman saya diuar dari yang berkecimpung di dunia dakwah kampus justru takut belajar islam. karena dianggap mengekang tanpa memahami betul alasannya. jd lebih dari sekedar menyampaikan perlu kiranya pikirannya digugah dl, entah dengan kondisi masa kini, atau penggambaran perilaku positif.

    • nah cara inilah yg menjadi kreasi dari setiap pribadi kita, seperti apa yang saya coba utarakan dengan contoh pergaulan sesama teman di atas misalnya sedang berada di warung kopi (tempat publik) lainnya.

      menggugah pemikiran itulah yang kini tidak semua orang bisa, kecuali bagi kita kita yang sudah tahu bagaiman tabi’at teman kita sendiri, intinya setiap niat kebaikan, insyaAllah akan ada cara tersendiri yang baik pula untuk mengajak orang berbuat makruf.

      terimakasih Citra sudah menambahkan bahan pertimbangannya🙂

  4. […] Ngedakwah itu Gak Cuma Tugas Da’i Lho […]

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: