Makam Tgk Di Cantek, Terlantarkan Begitu Saja!


Makam Tgk Di Cantek Desa Baet, Kecamatan Baitussalam - Aceh Besar

TAK ada tanda-tanda yang jelas, hanya berawal dari berbagi informasi sesama blogger dan akhirnya menemukan salah satu makam, atau maaf cakap kuburan Tgk Di Cantek Baet, tepatnya berada di desa Baet, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.

Jika kita melintasi jalan Banda Aceh ke Krueng Raya, tidak jauh dari jembatan Krueng Cut tersebut ke depan sekitar 500 meter tepatnya di sebelah kiri bahu jalan akan terlihat dua buah pamflet.

Di salah satu pamflet bertuliskan “Peninggalan Sejarah dan Purbakala..” dan satunya lagi adalah “Makam Tgk Di Cantek Desa Baet..” yang saling berdekatan.

Awalnya saya sempat salah jalan, melewati dan menyusuri krueng (sungai) yang mengarah ke Alue Naga, dan akhirnya saya konfirmasi ulang kepada salah satu teman blogger/media yang sempat mengabarkan tempat tersebut, bahwa TKP-nya bukan disana.😀

Hampir 10 menit sembari menikmati sore hari di bantaran Krueng Raya, tidak apa pun pikir saya. Melihat dan menyusuri lorong-lorong kampung setempat setidaknya ada hal lain yang bisa didapat.

Pemandangan laut pun saya tinggalkan, melaju lagi ke TKP yang sudah dikonfirmasi tadi mencoba memperkirakan jarak 500 meter ke depan dan tepat setelah salah satu rumah makan, akhirnya menemukan titik terang.

Yang memang disayangkan adalah lokasi makam ini seperti tidak terurus lagi, pecahan batu bata yang dipugar pun telah tidak beraturan. Posisi makam yang tidak beraturan cukup menyedihkan.

Siapa Tgk Di Cantek?

Mengetahui sejarahnya Tgk Di Cantek memang ini yang sedang saya coba cari tahu, bertanya pada rekan-rekan blogger yang waktu itu juga hadir ke TKP juga tidak mengerti betul. Tanpa pikir panjang kami pun bersantai sejenak di tempat penjual air tebu yang berada di sebelah makam.

Sembari menikmati air tebu sore-sore, saya pun menanyakan sama penjual tebu disitu. Pertanyaan tidak lain dan tidak bukan, “siapa itu Tgk Di Cantek?”, tanya saya sama abang-abang itu.

“Beliau ulama disini,” sebut singkat penjual air tebu sambil membersihkan mejanya.

Wah, jawaban ini memang sudah diprediksi beliau adalah seorang ulama. “Beliau ulama di desa Baet,” tambahnya.

Tapi tidak diketahui siapa nama asli beliau, ‘Di Cantek’ itu di Aceh pada umumnya dikenal dengan sebutan alias nama yang dikenal oleh masyarakat. Sama halnya seperti tulisan saya dulu tentang Tgk Di Anjong Peulanggahan yang merupakan salah satu ulama dari Timur Tengah.

Jika dikaitkan kata cantek (cantik) apakah ini berarti ulama ini seorang yang cakap, sehingga beliau menyemat nama sebutan cantek. Wallahu’alam. Apalagi nama aslinya tidak diketahui jelas.

“Dulu disini sebelum tsunami kalau tidak salah ada pohon besar. Bahkan jalan raya dulu tidak selebar sekarang ini, di bawah pohon itulah makam tengku berada”, jelas abang tadi lebih detail.

Dan saya pun mulai membayangkan, bahwa kebanyakan makam-makam memang berada di bawah pohon besar. Namun, seiring perluasan jalan pohon besar itu juga sudah ditebang dan posisi makam pun sangat dekat dengan jalan raya (kurang lebih 2 meter).

“Semenjak perluasan jalan pohon ditebang, saya pun kurang tahu kenapa bisa berserakan begitu batu batanya, bisa jadi akibat gempa dan membuat pinggirnya retak,” ujar abang penjual air tembus sembari kami bersiap-siap untuk pamit.

Dalam pikiran saya sejenak merasa gelisah, walaupun Tgk Di Cantek bukan ulama yang setenar nama-nama lain setidaknya kenapa begini nasib pusaranya. Tidak terurus bahkan terasa berantakan, siapa nanti yang akan tahu kalau di Desa Baet ini pernah tinggal seorang ulama, pernah memberikan ilmu-ilmunya pada masyarakat dipesisir pantai tersebut.

Sebelumnya sempat mencari tahu makam Tgk Di Cantek di Google, yah walaupun itu ‘rajanya’ mesin pencari tetap untuk sosok yang satu ini belum ada satupun referensi yang saya dapat.

Yang ada hanya informasi bahwa Desa Baet memiliki lima dusun dan salah satunya Dusun Tgk Cantek, selain itu juga ada Dusun Tgk Chik. Selebihnya saya juga mendapatkan sebuah file dari pihak USAID, bahwa makam ini terkenal kramat dari hasil pencarian tersebut, disebutkan dalam sebuah bagian tulisan yang bertuliskan Makam Kramat I Tengku Cantek di selatan Dusun Cantek.

Pastinya mendokumentasi sejarah makam ini bukan saja menjadi tugas dinas/instansi purbakala atau pariwisata saja (kebiasaan dinas/instansi lamban), melainkan juga tugas masyarakat setempat dalam mengenalkan sejarah kepada masyarakat luas (Banda Aceh dan sekitarnya).

Besar kemungkinan jika regenerasi akan lupa dengan kehadiran makam di sudut dusun desa tersebut atau bisa jadi kisah makam ini hanya tinggal dalam sejarah para pendahulunya. Semoga kemungkinan ini tidak terjadi!

This slideshow requires JavaScript.

52 Responses

  1. thx untuk artikelnya. bagus dan bermanfaat banget

    • terimakasih toko baju, semoga sukses dengan dagangannya🙂

  2. sbl tsunami sy sering ke desa baet ( krn ada keluarga sy tinggal di sana), makam tgk dicantek masih kelihatan asli dan asri di bawah pohon besar, makamnya berdsih, kecuali sekitar 4 atau 5 mtr disekeliling ditumbuhi rerumputan, pusaranya jelas, batu nisannya masih kokoh, tdk ada tanda makamnya br dipugar, pusaranya dicor semen yg sudah lama (tdk ada batu bata) dan di hari ke dua tsunami sys ke desa baet lg mencari keluarga sy yg jd korban tsunami, krn rumah pd hancur pepohonan banyak yg tumbang, hari terik tdk ada air yg bisa sy minum smntr sy gerah dan lelah, sy berteduh di bwh pohon besar nan rindang di samping mkm tgk dicantik dan menghampiri seorang emak-emak ntuk bertanya ttng keberadaan keluarga sy (abang, istri dan anak-anaknya) waktu itu sy terkagum2 krn makam trg dicantik sprt tidak pernah dilalui air bah tsunami, masih sprt sedia kala (sblm tsunami) tdk ada cacat da rusak sedikitpun (seingat sy) februari 2012 sy ke mkm tgk dicantek lg sy melihat makam dan lokasinya sudah centang prenang banyak sampah sprti sengaja dibuang di sana (masya Allah menyedihkan)

    • terimakasih Pak Ramlan telah berbagai cerita, semoga ke depan kita saling bantu untuk mengingatkan warga setempat dan orang terkait dengan pelestarian tempat purbakala dan sejarah.

  3. artikel nya keren gan, thanks

    • thanks yadi🙂

  4. […] Makam Tgk Di Cantek, Terlantarkan Begitu Saja! […]

  5. Dasar para pemuja kuburan, yang diperhatikan kuburan saja dipuja2 melebihi memuja Allah, Tuhannya, Takut kepada kuburan melebihi takutnya kpd Allah, trus tu kuburan dibersih2 kan, di cium2, di bangun bangunan megah, bahkan dibangun masjid, sholat disitu minta2 disitu, dibangun pasar disitu,

    • Jangan terlalu gegabah Arif dalam berkomentar, tetap berpikir positiflah🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: