• Kicauan Terakhir

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • Baca Juga

  • Komentar Anda

    pekanbola on Ketika #Pesona10001Saman Gayo…
    Aulia Fitri on Gunongan, Tempat Bermainnya Pu…
    Aulia Fitri on Ketika #Pesona10001Saman Gayo…
    Monza Aulia on Ketika #Pesona10001Saman Gayo…
    Elizabeth on Gunongan, Tempat Bermainnya Pu…
    Jual aksesoris handp… on Voucher Diskon Jadi Tren Belan…
    Jual aksesoris handp… on Cara Mencegah Virus #WannaCry…
  • Arsip

  • Kategori

  • Para netter yang doyan ke OWL

    Aulia87.wordpress.com website reputation
    MyFreeCopyright.com Registered & Protected

  • Advertisements

Schism Ala Arab Saudi


Tanggal 1 Maret menjadi puncak dari balasan (reply) film monumental Fitna hasil garapan Geert Wilders, seorang anggota parlemen asal negeri gandum Belanda. Berita yang dimuat di detik.com memang sedikit berbeda dengan tulisan-tulisan yang dimuat pada berita-berita lainnya. Simak penuturan dan berita yang saya dapatkan.

Dalam berita muatan di detik.com, durasi film ini (Schism, -pen) hanya berdurasi 6 menit. “Senin (14/4/2008), film yang berdurasi 6 menit ini dibuat berdasarkan tafsir Alkitab yang mendorong orang untuk berperang dan melakukan tindak kejahatan, bahkan menampilkan adegan serdadu-serdadu sedang menyiksa orang Irak. Sedangkan dari hasil penelurusan di youtube.com, film tersebut berdurasi 9 menit.

Selain itu, beberapa tudingan juga bermunculan seperti kenapa film ini menjadi bahan tandingan untuk film fitna yang sudah mencapai hit tertinggi selama 2 pekan lebih. Dari mana data itu diperoleh, atau hanya sebatas menonton isinya saja. Diskusi lengkap ada di forum detik.

Film yang dibuat oleh seorang pemuda Arab Saudi yang berumur 33 tahun ini bernama Raid Al-Saeed, dalam penuturannya di sebuah media Arab News dia mengatakan pengerjaan film ini hanya dalam satu kali 24 jam. Sedangkan maksud dari pembuatan film ini, menurut Saeed bukan untuk menyebarkan kebencian terhadap umat kristen melainkan sebagai bentuk protes bagi orang yang salah dalam menilai Islam dari menonton film Fitna.

Saeed juga memprotes pihak youtube, karena tepat tanggal 1 Maret video-nya dihapus dari youtube oleh sang admin, atas perihal tersebut Saeed melayangkan pernyataan sikap kepada youtube atas penempatan film fitna yang belum dihapus. Akhirnya pada tanggal 2 Maret, Saeed kembali mem-publish videonya di youtube dan sampai sekarang belum ada tanggapan lagi dari youtube.

Advertisements

Terkait Penutupan Youtube


Beberapa waktu lalu, Youtube.com dikenakan status “pending” pengaksesan dari Indonesia sesuai dengan amanat dari Mentri Depkominfo M. Nuh. Pada waktu yang sama juga Depkominfo menyempatkan diri untuk berbincang khusus dengan para blogger Indonesia.

Terkait dengan hal tersebut, banyak pengguna Internet mengganggap situs resmi pemilik saham google.com ini diblok atau istilahnya blocking dengan kerjasama para penyedia provider di Indonesia atas instruksi Depkominfo. Ada hal penting yang ingin saya kemukakan mengenai penutupan situs sharing video tersebut.

Dari hasil ceramah Pak Edmon selaku staf ahli Depkominfo dari hasil kuliah Telematika hari ini (11/4) teridentifikasi bahwa, timbulnya satu judul yakni “Apakah UU ITE Mengancam?“. Hal ini tidak lepas dari berbagai pernyataan pendapat dari kalangan Dewan Pers tentang pemberlakuan UU tersebut serta pendapat-pendapat lainnya yang kian berterbangan di media massa dan elektronik.

Dari sebuah judul sederhana tersebut, ternyata terpencar banyak bagian-bagian yang sangat “berkelas” dari penerapan UU ITE tersebut. Sebut saja contoh seperti pemblokiran youtube.com beberapa waktu yang lalu, myspace.com yang berencana akan ditutup juga, penggunaan proxy anonymous serta sampai dalam regulasi telekomunikasi untuk pihak penyelenggara.

Disini saya tidak melihat masalah yang terpencar dari bagian-bagian tersebut, melainkan melihat kondisi Indonesia yang sangat lemah dalam menilai arti cyber police dan/atau cyber law dalam dunia maya. Mengapa dewan pers Indonesia kembali menggugat pasal 27 ayat (1) dan ayat (3)? Jelas menyangkut nama baik atau pencemaran nama baik karena melanggar UU.

Adakah masalah lain dibalik itu? tentu jawabannya masih banyak. Mulai dari penetapan akan tindak pidana (KUHP) serta penyinggungan masalah SARA. Hal ini tentu membuat kalangan-kalangan yang berpentingan akan merasa gerah, contoh kasus om Roy Suryo yang selama ini di “hujat” apakah itu salah satu dari pencemaran nama baik orang!

Banyak juga permasalah yang membuat bangsa ini kian hari kian tertipu dengan media yang dibaca dan didengarnya. Culture (kultur) bangsa Indonesia yang berjalan pluralisme dan berbagai macam keanekaragaman budaya tentu menjadi sesuatu yang bisa lebih berpotensi dalam memikirkan intelektual tinggi.

Tidak saja orang-orang hukum bisa mendapat gelar dengan begitu gagah, namun tidak tahu akan arti kepentingan hukum itu sendiri. Hal mudah saja bisa kita lihat dari bentuk kelalaian seorang manusia bisa berbuah hukuman (apalah istilahnya kalau tidak KUHP atau pun KUHAP), kenapa bisa begitu? jelas itu adalah bentuk tidak kesengajaan, tetapi itulah perlu adanya kehati-hatian (orang hukum lebih mengerti akan pasal-pasalnya).

Kembali ke youtube tadi, sebenarnya bangsa ini tidak perlu begitu bersikeras dengan pihak-pihak youtube atas penayangan / publish video GW asal Belanda tersebut. Pemblokiran yang ada pun bukan semata karena adanya interfensi atau flow (arus), istilah ini bisa dipelajari lebih lanjut atas pernyataan sikap dari pihak google selaku pemilik saham youtube kepada pihak pemerintah (lihat detik).

Untuk itu pemerintah Indonesia pun harus banyak belajar dalam kasus muatan SARA tersebut pada situs youtube, sehingga peristiwa seperti ini tidak membuat bahan pikiran baru dari respek sebagian banyak pecinta cyber.

Melihat sisi lain dari sebagian kenyataan yang ada di Indonesia, memang sangat beralasan dimana seseorang sering mengalami sesuatu hal yang tanpa memiliki identitas benar atau salah. Pemikiran taktis dengan strategi itu adalah sebuah sikap dan perbuatan yang tidak akan nyambung bila kita mengaitkannya dengan kasus yang dialami Indonesia sekarang ini.

Film Fitna sebut saja yang mendapat reaksi keras, tentu hal yang mutlak dilkukan bukanlah mengatur strategi melainkan taktis. Orang yang sedang digempur oleh lawan saat berperang misalnya, tidak mungkin dia akan memikirkan strategi lagi karena antara dua pilihan menembak musuh atau ditembak musuh. Maka peran akan taktis sangat diperlukan.

Masih banyak cerita lainnya yang belum saya utarakan, mungkin cukup untuk sekian dulu pada versi [tidak stabil ini] dan akan diupdate untuk seterusnya.

Fitnah “Besar” Kembali Lagi


Di negara penghasil gandum terbesar di dunia, kabar duka membuat umat di hampir seluruh negara geram dan bersuara. Fitna, ya itulah sebuah nama film yang dibuat oleh seorang anggota parlemen dari Partai Kebebasan di Belanda, film yang berdurasi 15 menit seperti yang diperlihatkan dari awal film itu berlangsung membuat para umat-umat agama di negara ini mengelus-eluskan dada.

Film yang digarap sudah lama oleh seorang politikus ini ternyata baru dirilis hari kamis waktu setempat dan dipublis di media-media seperti internet pada hari jum’at waktu Indonesia. Tidak berlama pun isu itu telah tersebar bak air yang mengalir di sungai yang memasuki liku-liku bebatuan.

Sebelum film ini dirilis pada publik pada waktu setempat, perdana menteri Belanda telah meminta Geert Wilders si pembuat film dokumenter ini untuk tidak menyebarkannya di negara Belanda apa lagi ke negara-negara lain. Mengingat anggota parlemen termasuk PM Belanda tidak setuju terhadap isi dari film tersebut yang terlalu menyudutkan agama lain.

Ternyata harapan mereka dari parlemen, disia-sia oleh Wilders. Film tersebut dengan sangat santainya memasuki internet melalui situs-situs sharing video (youtube, live leak, dsb). Berbagai aksi kekerasan dalam film yang berdurasi 15 menit disampaikan Welders dengan menyandang berbagai ayat-ayat suci Al-Quran. Tak luput dari itu, Welders secara gamblangnya menerjemah ayat-ayat suci tersebut dengan “sebutan” yang anarkis, hal terlihat dari sudut pandang dia mengambil ayat-ayat berisikan tentang perjuangan atau jihadnya umat Islam.

Selain ayat-ayat yang dipaparkan dalam tanyangan tersebut, Wilders juga mengambil rekaman-rekaman orasi, eksekusi dari berbagai kalangan-kalangan pejuang Islam yang menggambarkan betapa semangatnya mereka meneriakkan (jihad, red) agama sambil menghunuskan pedang, dan lagi-lagi si Wilders melecehkan akan isi dari orasi tersebut.

Lalu apa yang terjadi sekarang ini di berbagai belahan dunia atas reaksi dari film yang berdurasi 15 menit tersebut? Jawabannya hanya satu yakni teriakan keras untuk menuntut Wilders dari perbuatannya yang dinyatakan sangat bersalah. Dan tentu teriakan-teriakan lainnya masih ada, namun itulah yang paling umum kita lihat dan dengar sekarang.

Berbagai media cetak dan elektronik kian gempar dengan berita tersebut, tidak ketinggalan suara-suara dari para ulama, pejabat, ormas dan lain-lain sebagainya terhampar di media. Mungkin bagi media ini adalah fokus utama dari memberikan rate/hit dalam berita. Namun, sebaliknya media internet seperti situs-situs sharing video tidak ketinggalan pun mengalami dilematis atas reaksi tersebut, youtube.com yang terkenal dengan media sharing salah satunya mendapat reaksi keras untuk ditutup dari berbagai pihak dengan adanya tanda flag video (video-video yang bernilai tidak layak publish) dari para penonton yang menilainya.

Bagaimana dengan si pembuat film saat ini? yang jelas dia telah dilepas (pecat) dari parlemen Belanda dari keanggotaannya. Memang Indonesia yang mayoritas muslim menilai hal ini adalah cobaan bagi agama dari serangan secara non physically melainkan metode baru dalam peperangan ghazwul fikri.

Kesabaran yang diuji merupakan salah satu jalan untuk bertaqarrub kita kepada Allah dari segala musibah dan cobaan. Memohon doa, jangan hanya teriakan saja. Allah cinta akan hamba-Nya ketika hamba-Nya selalu ingat dan selalu memohon ampun dengan penuh kerendahan untuk mendapat ridha Allah SWT.

NB: Tulisan ini sudah dipublikasikan di SeNat (Selembar Nasehat) FUKI tanggal 3 April 2008

Bermalam Minggu Di Kampus


Sore-sore ke kampus hari sabtu, padahal jadual sebenarnya udah dari pagi. Namun, akibat terkendala dengan hal-hal ekstra baru dikesempatan sore bisa menikmati internet.

Tak terasa malam berlalu begitu saja, tahu-tahu sudah malam minggu. Bertahan sampa jam 10 malam lewat dikampus sambil bermesraan berdua, ayo siapa dia??. Mulai dari unduh klip nasyed negara arab yang berbahasa Urdu di youtube, update member di acehblogger.org sampai bermain saham online di marketwatch.

Posisi sementara masih berada di peringkat 5 dari klasemen sementara, di puncak pertama masih di pimpin oleh kelompok Pagi – 07 dengan perolehan angka kekayaan mencapai US$ 106.798,50. Jadi kalau dihitung-hitung mereka bisa membeli aset negara di Indonesia.

Dan hampir sebagai time schedule hari ini terbagi buat kegiatan ekstra tanpa ada pekerjaan untuk belajar atau buat tugas. Padahal suasana dikampus sendiri, anak-anak pada sibuk mengerjakan tugas. Benar-benar free minggu ini (padahal PR masih menunggu jatah). Selamat Bermalam Minggu!

 

%d bloggers like this: