• Kicauan Terakhir

  • Baca Juga

  • Komentar Anda

    morishige on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    Muhammad Farhan on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    Alfiandar on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    13 Tahun jadi Blogge… on Tersadar Kalau @Twitter Sudah…
    13 Tahun jadi Blogge… on Flying and Blogging with @Word…
    Arti Funny Indonesia… on Facebook Ubah Lagi Halaman Eve…
    Rahel sasongko on Cara Mencegah Virus #WannaCry…
  • Arsip

  • Kategori

  • Para netter yang doyan ke OWL

    Aulia87.wordpress.com website reputation
    MyFreeCopyright.com Registered & Protected

Forum & Forum


Hampir sepekan lebih saya terus-terusan bermain di forum, semenjak diangkat menjadi “pembantu” Admin di forum sekolah. Saya bertambah amanah lagi jadinya. Forum dan forum, itulah kerjaan selama 2 pekan liburan ini.

Selain aktif sebagai member, ternyata menjadi admin penuh dengan tantangan tersendiri. Mulai dari memenej user sampai memonitor postingan yang ada. Memang sih forum sekolah yang saya pegang belum begitu banyak yang join dan masih level-level amatiran.

Tapi dengan semangat nyampah buat publikasi akhirnya ada juga yang gabung, awalnya terasa kapan forum sekolah ini bisa jadi ramai dikunjungi. Ternyata seiring dengan waktu berjalan berbagai diskusi terbuka juga di forum tersebut. Continue reading

Koleksi Lama Setelah Tsunami


Keadaan perpus yang makin membenah diri

Jelas bantuan rakyat Jepang

Buku-buku yang berhamburan di bawa air

Kelas yang diterjang ombak dan diguncang gempa

Hampa terasa begitu lapangnya

Kelas yang baru lebih nyaman dan teratur

Semua foto ini diambil pasca 2 tahun tsunami berlalu yang berlokasi di SMA Negeri 2 Kampung Mulia Banda Aceh tempat SMA saya dulu. Semenjak tsunami melanda Banda Aceh, saya pun pindah ke SMA Negeri 1 Bireuen, jelang kelulusan di tahun 2005 saya pun kerap mengunjungi sekolah dimana begitu banyak kisah dan cerita serta ilmu yang saya peroleh disini bersama teman-teman seangkatan dan beberapa telah mendahului kami.[]

Tiga Tahun Tsunami


Peringatan TsunamiTIGA tahun yang lalu tepatnya tanggal 26 Desember 2004, musibah yang menimpa lebih dari 200 ribu nyawa manusia hilang diterjang ombak besar di ujung barat pulau sumatera. Kesedihan yang tiada terkira mengisi semua jiwa manusia di bumi ini, tak mengenal tua dan muda, dalam dan luar negeri. Semua mata tertuju padanya, Aceh dan Nias.

Kilas balik cerita 3 tahun yang lalu, saya sangat bersyukur sampai saat ini musibah tersebut telah membuat memori terindah selama hidup di dunia ini. Walaupun kenangan itu terasa pahit dan duka, namun tidak membuat rasa syukur saya kepada Allah SWT kurang dari segalanya. Hidup dan nyawa yang telah Allah berikan, bukan sesuatu yang biasa-biasa saja. Hanya dalam 3 menit, ratusan jiwa manusia telah pulang ke hadirat-Nya. Kadang kita lupa akan perjalanan hidup ini, kadang pula kita kurang bersyukur atas nikmat-Nya.

Betapa dahsyat peristiwa yang dinamakan tsunami ini bisa “membunuh” sekalian manusia, Aceh, Nias, India, Thailand dan negara-negara lainnya. Namun, satu berkat yang sangat terlihat ketika semua orang menilai tsunami adalah sebuah ujian untuk Aceh yang selama ini dikenal Serambi Mekkah. Kenapa harus Aceh yang menjadi pilihannya? apakah orang Aceh pada waktu itu telah ingkar kepada Allah SWT seperti kaum-kaum yang terdahulu ataukah Aceh sudah luar biasa maksiatnya? Wallahu’alam.

Belajar dari pengalaman musibah yang saya alami bukan menjadi sebuah titik balik untuk bisa selalu dikenang, melainkan sebuah momen yang bisa membuat hidup ini lebih dari kemuslihatan umat. Bukan topeng belaka yang hanya dikenal orang sebagai daerah yang penuh dengan teriakan-teriakan “Syariat Islam” dan juga satu lagi mereka para “WH (Wilayatuh Hisbah)”.

Pergi Untuk Selamanya

Teringat dulu ketika masih dikelas tiga SMA, beberapa waktu yang lalu ketika membuka-buka file tentang masa SMA terlintas dengan mereka para teman-teman yang selalu menemani hari demi hari sampai waktu perpisahan sesungguhnya memisahkan kami. Ada sebuah file dokumen ketika saat itu saya dipercayai untuk membuat daftar piket kelas. Inilah hasil rekapan dan insyaAllah muka-muka mereka masih selalu terbayang.

Amiruddin, Andi Saputra (Alm), Dedi Oktaviadi, Reza Fahlevi, T. Munazar Fadhli, Teuku Ferry Fadly, Yulia, M. Rizki, Rizki Hariadi (Alm), Raudatul Ulva, Ulfah Fadillah, Erna Muliana, Dewi Susanti, Eka Mardiana, Desy Maulida, Fera Annisa, Neta Suryani, Siska Masnanda, Rina Maya Sari, T. Fachnuzal, Farid Saputra, Mirza Wijaya, Stevan Riza, Syifaul Qalbi, M. Ravsanjani, Sudirman, Suwardi, M. Yasin, Asmaniar, Sri Ayu, Efrina Lestari (Alm), Susianti, Meilinda, Putri Rizky, Sheila De Tiroina, Merlinta Anggilia, Jurtawani, Yurika, Vinda Puri Orchianda (teman-teman kelas 1).

Vivi Novalia, Nurhasanah, Rahmawati, Putri Risda Juwita, Dwi Septi Asih Fitri, Cut Yunita Sari Nur (Alm), Mula Juliana, Eny Sahara, Fera Astriya, Rizfani, Eka Mardiana, Erna Muliana, Eni Andriani, Fera Annisa, Sheila De Tiroina, Aulia Fitri, Andi Saputra (Alm), Rizki Hariadi (Alm), Mirza Julian Saputra, Maimun Bahri, Rinaldy (Alm), Susianti, Merlinta Anggilia, Jurtawani, Oriza Sativa, Uly Hafnita, Mutia Salma, Dian Fitri Wahyuni, Mulya Rizkina (Alm), Cut Riza Alastri Putri, Sri Wahyuni, Misna Yanti, Fajrianti, Siti Nurhaliza, Opi Yanti, Putri Rizki, Andika Mismal J, Faaizin, Andi Saputra M, Hafidh Daiyana, Putra Hidayat, Zulfikri (teman-teman kelas 2).

Merekalah yang telah menemani saya selama dua tahun penuh di sebuah SMA daerah Kampung Mulia, saat kami kelas tiga mereka juga ada sebagian besar masih bersama disudut bangunan kelas paling ujung (kini sudah tiada). Kenangan ini sungguh luar biasa, layaknya masa-masa paling indah di SMA.

Selamat jalan pahlawan muda, semoga jiwa dan raga kalian mendapat kemuliaan disisi-Nya.Amiin. Do’a kami untuk semua jiwa yang telah pergi. Allahu Akbar.[]

%d bloggers like this: