• Kicauan Terakhir

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • Baca Juga

  • Komentar Anda

    Arti Funny Indonesia… on Facebook Ubah Lagi Halaman Eve…
    Rahel sasongko on Cara Mencegah Virus #WannaCry…
    rahelsasongko on Ketika #Pesona10001Saman Gayo…
    pekanbola on Ketika #Pesona10001Saman Gayo…
    Aulia Fitri on Gunongan, Tempat Bermainnya Pu…
    Aulia Fitri on Ketika #Pesona10001Saman Gayo…
    Monza Aulia on Ketika #Pesona10001Saman Gayo…
  • Arsip

  • Kategori

  • Para netter yang doyan ke OWL

    Aulia87.wordpress.com website reputation
    MyFreeCopyright.com Registered & Protected

Forum & Forum


Hampir sepekan lebih saya terus-terusan bermain di forum, semenjak diangkat menjadi “pembantu” Admin di forum sekolah. Saya bertambah amanah lagi jadinya. Forum dan forum, itulah kerjaan selama 2 pekan liburan ini.

Selain aktif sebagai member, ternyata menjadi admin penuh dengan tantangan tersendiri. Mulai dari memenej user sampai memonitor postingan yang ada. Memang sih forum sekolah yang saya pegang belum begitu banyak yang join dan masih level-level amatiran.

Tapi dengan semangat nyampah buat publikasi akhirnya ada juga yang gabung, awalnya terasa kapan forum sekolah ini bisa jadi ramai dikunjungi. Ternyata seiring dengan waktu berjalan berbagai diskusi terbuka juga di forum tersebut. Continue reading

Peusapat Kawoem Muda


Sejak hari jum’at (18/4) yang lalu saya kehilangan akan dunia luar, ketika informasi yang ada berubah menjadi suasana politisasi dalam sejuknya udara puncak Bogor. Ya itulah namanya “Peusapat Kawoem Muda” atau dalam arti bahasa Indonesia “Temu Kaum Muda” yang merupakan acara perdana dalam kontrak sosial pendidikan politik untuk pemuda dan mahasiswa Aceh di Jakarta dan sekitarnya.

Acara yang berlangsung selama 2 hari ini, mendatangkan pembicara dari berbagai kalangan, pengamat dan aktivis politik. Acara ini diselenggarakan penuh oleh panitia Asrama FOBA Setiabudi Jakarta dengan dibantu oleh BRR (yang tidak jelas rimbanya).

Dalam kontrak sosial ini, diangkat sebuah tema yakni “Perdamaian Abadi sebagai Basis Peradaban dan Kebudayaan Rakyat Aceh” dalam dua sesi berbeda yaitu panel forum dan workshop. Pengalaman yang sungguh luar biasa ternyata dalam ikut serta acara ini, dimana wawasan akan dunia perpolitikan Aceh dikupas secara mendalam dan terbaru.

Tak lepas dari itu juga, tentunya sesi panel forum lebih membuka sejumlah opini dan pendapat dari berbagai kalangan aktivis muda di Jakarta. Acara yang sempat dihadiri oleh staf ahli Menpora Bang Arief Jamaluddin ini membuka sebuah wacana baru untuk pergerakan mahasiswa Aceh ke depan.

Selain panel forum yang terbuka bebas ini, malam apresiasi film yang berjudul “Hotel Rwanda” juga menjadi topik yang sangat menarik disela-sela malam mingguan di puncak. Dimana konflik yang terjadi di Rwanda selama ini teradopsi sebagai sebuah pertikaian yang sangat erat bersuasana politik seperti di Aceh saat ini.

Workshop yang di fasilitatori oleh Teuku Kemal Fasya asal dosen Universitas Malikussaleh pada hari kedua juga mengangkat sisi baru bagi peserta acara ini. Sebuah makna kata rekonsiliasi yang dimiliki oleh Aceh diangkat sampai ke tema skenario untuk memerankan aksi-aksi yang telah ada.

Isu pemekaran, perbedaan etnis, budaya dan ekonomi sampai kepentingan politik akan pihak ke tiga (spoiler of peace) juga menjadi isu hangat suasana dalam workshop tersebut. Tak ketinggalan juga dalam acara ini juga turut hadir peserta dari kaum wanita dengan mengangkat sisi gender yang selama ini tumpang tindih.

Selain itu, acara yang berlangsung dengan suasana santai dan nyaman ini menjadi titik awal bagi para pemuda dan mahasiswa Aceh di Jakarta untuk bisa berkontribusi penuh dalam membangun pemerintah Aceh untuk masa depan. Jeda waktu yang selama ini ada memang sangat diutamakan untuk proses rekonsiliasi (perdamaian) setelah penandatanganan MoU Helsinki 15 Agustus 2005.

Akhir kata saya pribadi mengucapkan selamat atas kerja keras mahasiswa Aceh FOBA untuk terselenggaranya acara ini, semoga tahun depan menjadi acara tahunan yang selalu mendapat tanggapan positif dari berbagai kalangan. Berita selengkapnya juga bisa di lihat di blog SAMAN UI hasil postingan saya, lengkap dengan rangkaian acara.

Saya Bersuara Untuk Kampusku


Gak tahu ya, entah kenapa pas lewat Fisip tadi pagi langsung kesambet sama kata-kata yang bertuliskan dengan cat pilok di kantin Yong Ma, yang paling jelas “kami bukan sapi perahan” gitulah intinya. Tanpa berpikir panjang saya langsung ingat dengan isu kenaikan SPP/BOP UI beberapa saat lalu ketika saya dapat di kampus dari saudara Taufiq ’07.

Memang mendadak saya tahu begitu saja, tentu berkaitan juga dengan beasiswa bagi 1000 anak bangsa. Dan setelah membaca-membaca dan terus mencari, terlebih ketika mendapat tulisan di blognya Smile, rasanya jari ini ingin “unjuk kebolehan”. Langsung saja tulisan ini saya muat di blog SAMAN UI dengan berjudul “Kenaikan SPP/BOP Universitas Indonesia”. Jadi untuk itu saya copas sajalah, bila ada komentar dan segala macam silakan anda share bersama, berikut tulisannya:

Baru-baru ini banyak kalangan mendapat berita tentang isu kenaikan SPP untuk mahasiswa S1 reguler seluruh fakultas yang ada di UI. Tak heran bila ini menjadi polemik tersendiri bagi para mahasiswa terlebih mereka yang berkutat dengan aktivis kampus, tentu bisa anda bayangkan betapa susahnya masuk UI dari awal hingga saat ini.

Seperti yang kita tahu bersama, UI dan beberapa universitas negeri lainnya di Indonesia termasuk ITB, UGM dan IPB telah “menganut” paham BHMN. Dimana letak tanggung jawab yang tersirat sepenuhnya dikelola oleh PTN tersebut dengan persentase sekian-sekian. Hal utama yang bisa kita lihat adalah “pengkorbanan” stakeholder, stakeholder yang bagaimana? tentu peran akan mahasiswa dalam mengarungi pendidikan dengan mengutamakan sebuah kewajiban untuk membayar SPP/BOP atau sejenisnya menjadi sebuah hal yang utama bagi sebuah PTN untuk mendapatkan sumber pendapatan dana yang paling sangat gampang tentunya serta mahasiswa objeknya.

Lalu bagaimana stakeholder lainnya, selain para penuntut ilmu (mahasiswa, -red). Apakah para dosen, karyawan dan lain sebagainya hanya bisa bersenang-senang saja? Tentu jawabannya tidak (baca ini). Terlebih lagi para jajaran tingkat tinggi (rektorat, -red), tentu mereka lebih pusing dan kewalahan dalam mengatur ini semua dimana angka pengeluaran (operasional) yang dikeluarkan setiap waktunya tidak lebih dari pada keadaan yang tidak jelas (perekonomian yang tidak selalu imbang). Ini jelas terlihat bila PTN di Indonesia tidak lepas juga dari peran pemerintah dan seterusnya.

Namun satu hal yang harus disadari dari isu kenaikan ini adalah transparansi keuangan yang telah digunakan selama ini oleh jajaran tinggi universitas untuk memberikan respon ke pada seluruh civitas akademik, memang hal tersebut bukan merupakan jaminan pasti untuk diketahui oleh umum, melainkan bisa menjadi awal perumusan UI untuk menyikapi hal ini secara musyawarah dengan segenap elemen dan jajaran kampus. Sehingga cita-cita dan tujuan untuk menjadi universitas World Class, tidak hanya tertempel sebatas di poster atau spanduk saja melainkan bisa ikut dirasakan oleh semua pihak, baik warga kampus maupun masyarakat luar.

Baru-baru ini pun pihak rektorat kembali membuat sebuah kebijakan baru juga melalui bantuan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI Departemen Adkesma untuk mensosialisasikan program beasiswa untuk 1000 anak bangsa dengan ketentuan dan syarat berlaku tentunya bagi siswa-siswi SMA yang ingin melanjutkan studinya di UI tahun 2008 nanti. Ini pun sebatas pandangan yang penulis dapat cukup bersifat mendadak setelah adanya isu dari kenaikan SPP tersebut. Secara tidak mendasar, ini merupakan hal konkrit bila sebenarnya apa yang telah “diusungkan” oleh pihak-pihak kampus untuk menaikkan SPP tidak berbuntut pada mahasiswa baru nantinya.

Bisa anda bayangkan dalam hal ini dengan menggempar 1000 anak bangsa yang ingin masuk UI sungguh sangat tidak bisa diterima begitu saja, walaupun kita berpikir bagus tetapi tidak salahnya ini akan berefek buruk di lain sisi. Pendapat berbagai kalangan disini tentu juga akan sangat berperan, bisa kah kita menilai dari MWA (Majelis Wali Amanat) yang sangat berpengaruh disini telah menyampaikan isi seluruh konsekuensi yang akan dihadapi untuk kedepan lebih jauh? menurut saya ini tidak mewakili atas semuanya, atas nama manusia selalu saja ada kata kekurangan.

Semoga kebijakan atas kebijakan yang diambil ini oleh pihak jajaran universitas tentunya tidak banyak pihak yang dirugikan atau saling merugikan terlebih bila ada yang bermain dibelakangnya ini adalah sebuah kecurangan. Kita semua mempunyai hak dan tuntutan seperti yang telah diamanatkan dalam undang-undang, setiap warga negara berhak atas pendidikan.

Hijrahnya Fisabilillah


Ilustrasi hijrah (desamempesona.blogspot.com)Jum’at kali ini adalah keempat kalinya saya berada di Aceh, namun hari ini agak sedikit berbeda berhubung tidak berada di kediaman sendiri karena saya harus membantu teman-teman panitia SSG’08 di Banda Aceh.

Tepatnya hari jum’at ini (11/1) saya dan Maftuh (Ketua SAMAN UI 07/08) melakukan kunjungan Roadshow lanjutan ke SMAN 10 Fajar Harapan. Namun sayang waktu kali ini untuk roadshow sangat singkat berhubung kami baru bisa jalan sekitar jam 10.45 menuju sekolah tersebut. Tepatnya jam 11.00 kita sudah bertatap muka dengan siswa-siswi SMA Japan (Fajar Harapan) tersebut. Tanpa berlama-lama saya dan Maftuh pun tepat pada jam 12.30 kita dari panitia SSG langsung pamit dan undur diri berhubung waktu jum’atan tinggal menghitung menit.

Tanpa berfikir panjang, saya langsung mencari Mesjid terdekat. Beberapa lama kemudian terpikir ternyata mesjid yang sangat dekat tidak ada di daerah sekolah itu, akhirnya langsung menerawang target mesjid dekat kantor BRR Aceh – Nias. Dan alhamdulillah waktu pelaksanaan jum’at belum di mulai. Toh Malaikat masih berdiri di pintu mesjid. Seperti biasanya kita ke mesjid, shalat dan duduk menjadi kebiasaan yang mulia untuk mendengarkan khutbah.

Nah, inilah poin yang akan saya utarakan kali ini. Semenjak dua kali jum’at saya selalu mendapatkan tema tentang khutbah seputar kematian atau dengan kata lain alam barzah. Saya sadar bahwa ini adalah ketiga kalinya saya mendengar khutbah tentang prosesi berbagai macam tentang pulangnya kita ke pangkuan Allah (meninggal dunia).

Namun, versi kali ini memang berbeda berhubung sang khatib cukup energik dalam menyampaikan pesan singkatnya. Tema yang dibawa kali ini erat hubungan dengan kehidupan kita selaku umat Muhammad yang sering lupa akan keberkahan hidup ini sehingga kita juga melupakan akan sebuah makna hijrah (tahun baru Islam).

Memang kesempatan yang disampaikan khatib dalam isian khutbah pada kali itu tidak lupa menyangkutkannya dengan bulan Muharram 1429 H ini, dimana waktu yang membuat makin bertambah umur kita menjadi umpan balik juga yakni menjadi sebaliknya dimana hidup kita juga semakin dekat dengan kematian.

Hal menarik disini adalah sebuah contoh tentang 3 orang yang melimpahkan hartanya di jalan Allah, yang pertama orang yang memberikan seluruh hartanya untuk Mesjidil Haram, kedua orang yang menggaji/memberi upah semua orang yang membersihkan Mesjidil Haram dari pagi sampai malam dan yang ketiga adalah orang yang hijrah membawa agama Islam ke seluruh bagian dunia.

Begitulah kurang lebihnya, namun para sahabat menanyakan kepada Nabi. Ya Rasul diantara ketiga itu mana yang lebih besar pahalanya. Nabi menjawab, “wahai sahabatku semua amal itu besar pahalanya dan hanya Allah yang bisa menentukannya”. Maka atas pernyataan itulah turunnya wahyu Allah kepada baginda Rasul dalam sebuah ayat Al-Quran yang menyatakan (kurang lebihnya seperti ini) bahwa sebaik-baiknya amal yang dilakukan oleh umatmu Muhammad adalah membawa agama Islam (hijrah) dari Mekkah ke seluruh pelosok bumi ini. Jadi jelaslah bahwa orang-orang yang melakukan hijrah dijalan Allah (fisabilillah) akan memperoleh pahala yang luar biasa. Wallahu’alam

Walaupun kali ini saya tidak menekankan isi pesan dari khutbah tersebut, namun paling tidak dari tiga kali jum’at yang saya dapat berturut-turut ini bisa memberikan kekuatan bagi kita untuk tidak pernah berhenti mencari yang namanya amal sampai hayat menjumpai kita.[]

%d bloggers like this: