• Kicauan Terakhir

  • Baca Juga

  • Komentar Anda

    Miftah Habibi on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    Noer on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    morishige on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    Muhammad Farhan on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    Alfiandar on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    13 Tahun jadi Blogge… on Tersadar Kalau @Twitter Sudah…
    13 Tahun jadi Blogge… on Flying and Blogging with @Word…
  • Arsip

  • Kategori

  • Para netter yang doyan ke OWL

    Aulia87.wordpress.com website reputation
    MyFreeCopyright.com Registered & Protected

7 Anggota Untuk 7 Tempat di Neraka


fire-background-piqselscomDALAM sebuah kesempatan diawal bulan-bulan Ramadhan saya masih berada di kampung halaman, walaupun kuliah sudah mulai tapi saya tetap saya mengliburkan diri untuk seminggu. Dikarenakan kangen dengan suasana puasa di kampung yang kurang lebih hampir selama tiga tahun tidak pernah merasakannya.

Nah, tapi bukan hal itu yang akan saya cerita kali ini. Barang kali kapan-kapan ketika ‘dokumentasi’ sudah lengkap tentang kisah liburan kemarin baru deh saya posting. Maklum sudah hampir sebulan lebih jarang update. Continue reading

Melihat Uang Dengan Hati


Tepat tanggal 24 (Jum’at) beberapa hari yang lalu, saya kembali melangkah maju untuk “come back to Depok”. Namun, ada sesuatu menarik yang mungkin bisa saya bagi dalam kesempatan kali ini. Hal itu tanpa tepat ketika saya berada dalam pesawat, kebetulan disaku tempat pesawat terdapat majalah (Lionmag) kebetulan masih diperkenankan untuk naik lion lagi, soalnya PP kali ini dipenuhi dengan penerbangan maskapai lion air.
Dari segala kekosongan menunggu sampai di tempat tujuan (bandara cengkareng), akhirnya majalah inilah teman yang bisa menemani selama kurang lebih 2 jam perjalanan. Halaman demi halaman saya buka, ternyata isinya cukup menarik (tidak boring). Namun, entah kenapa saya membaca majalah tersebut dari halaman belakang pertama. Setelah membuka-buka halaman sampai di tengah majalah ada sebuah tulisan yang berjudul melihat uang dengan hati. Pertama melihat judul ini saya merasa tulisan ini sepertinya membahas tentang cara melihat uang yang asli (uang palsu), ternyata salah besar dugaan saya itu.
Tulisan tersebut menarik karena ada beberapa poin penting, yang kemungkinan besar banyak orang-orang yang belum bisa melihat uang secara pikiran dan hati, melainkan sekarang banyak orang menilai uang hanya sebatas nilai dengan matanya.
Ada sebuah ilustrasi cerita sederhana mengenai cara melihat uang ini, yakni tentang 3 seorang pengamen di tempat yang sama.
Pengamen pertama, disebuah rumah makan ayam bakar seorang pengamen hadir di sebuah meja keluarga, tanpa berpikir panjang lagu pun dilantunkan. Belum habis satu lagu dinyanyikan, langsung disodorkan kantong duitnya. Memang terkesan bila seorang pengamen hadir ditempat-tempat rumah makan sering mengganggu para pengunjungnya. Dan sangat jelas bila keadaan sudah begitu pengunjung biasanya hanya bersedia memberikan uang senilai bisa ditebak 100 perak, 500 perak dan yang paling tinggi 1000. Disini sangat jelas bahwa orang disini hanya menilai uang dengan mata saja, hanya sebatas untuk mementingkan perut sendiri bagi si pengamen.
Lalu bagaimana dengan pengamen kedua, tempat dan kondisi masih sama di rumah makan. Si pengamen ini tahu akan aturan bila menghadapi para pengunjung yang sedang menikmati hidangan di rumah makan. Tak heran bila pengamen tanpa sungkan-sungkan lebih dahulu meminta permisi untuk menampilkan tembangnya dan tak jarang pula biasanya malah meminta pengunjung untuk merequest lagu yang diinginkan. Dan hal yang penting si pengamen tidak pernah terburu-buru untuk menyodorkan kantong duitnya, karena dia tahu pengungjung bila mengeluarkan duit dengan tanggannya yang kotor belepotan sedang makan akan terasa terganggu. Nominalnya yang didapat pun oleh si pengamen juga memuaskan bisa jadi sampai 5 ribu, karena dia melihat uang dengan pikirannya.
Dan sampailah pada si pengamen yang terakhir dengan tempat yang sama yakni di sebuah rumah makan ayam bakar. Mungkin yang terakhir ini lebih profesional dalam melakukan aksi ngamennya. Dia hanya menggelar tempat seadanya tanpa mendekati meja pengunjung dan dia pun memamerkan beberapa CD lagu-lagunya dengan nada lembut tanpa ada harga yang ditetapkan dan satu tulisan terpampang di depannya kepada pengunjung “uang anda akan sangat berguna bagi panti asuhan”, karena jelas niatnya adalah sosial untuk membantu anak-anak panti karena akan disisihkan sebagian hasil ngamennya untuk membantu anak-anak panti. Jadi terlihat lah bahwa uang di mata pengamen ini tersirat dari hatinya dan para pengunjung pun tidak sungkan-sungkan membeli CD-nya dengan mengoceh uang seadanya dan bisa jadi 20 ribu paling banyak bisa ia dapat dari para pengunjung yang berhati sosial dengannya.
Inilah sekelumit cerita yang mungkin bisa membawa kita menilai uang bukan secara kasat mata, namun menjadi sebuah tamsilan bahwa dibalik nominal itu masih banyak yang bisa kita lakukan bukan demi sesuap nasi melainkan demi jiwa yang sosial ini.

Ketika Mataku Tertutup


Saat indah memang kita selalu ingin mengenangnya, begitu pula sebaliknya saat-saat yang suram selalu terbayang dalam ingatan ini. ketika sebuah peristiwa itu tiba, dia selalu setia dan sabar dalam menunggu. Dengan niat yang tulus, dia mulai menimbangkan semua keputusan yang diambilnya.

Sejak dia masih menjadi remaja, kedekatannya dengan seorang teman menjadi lebih dekat dan hampir selalu dipenuhi dengan kenangan layaknya seorang teman. Hari pun beranjak dari waktu ke waktu, kedekatannya kini pun lebih beranjak dalam sebuah persabahatan.

Tidak ada hal yang mereka tutupi, terlebih dalam sisi kehidupan ini hanya untuk berbagi merasakan apa yang harus dirasakan dalam hidup ini terkecuali itu mengenai sebuah hal pribadi masing-masing, sehingga membuat mereka lebih saling menghargai dalam sesama menjadi orang yang mau peduli. Sifat keegoisannya memang selalu datang saat waktu-waktu kebosanan menimpanya terlebih bila hal itu membuat dia semakin kesal dengan sesuatu.

Luapan yang dihadiahkan pun tidak pernah menjadi halangan baginya yang kesemuanya hanya Allah Maha Mendengar seluruh isi hati hambaNya.

Tidak ada cara untuk merubah hidupnya kini, karena sifatnya ini telah ada sewaktu dia kecil, buah hati yang begitu disayangi dalam sebuah keluarga dengan penuh cinta dan kasih sayang, namun semua itu harus berada pada ketetapan yang telah Allah gariskan.

Saat indah dulu yang pernah dilewati menjadikan dirinya begitu bahagia, kini kehadiran seseorang dalam hatinya tidak lebih hanya sahabat yang selalu mengerti semua keluh dan kesah dalam hidup ini.

Ingin untuk selalu diperhatikan dan juga selalu disayangi, meminta itu memang bukan hal yang wajar bagi kita manusia untuk sesama manusia, tetapi satu lagi hanya sang Khalik lah yang begitu setia dan tulus menyayangi hambaNya yang dhaif ini. Teman, sabahat, orang dekat dan keluarga adalah salah satu tempat untuknya bercerita, mencurahkan isi hati dikala suka dan duka.

Cinta yang kini dirasakan tidaklah selalu akan menemani kehidupannya, namun kesabarannya yang ada kini akan selalu di uji dan terus diuji sampai dia mengerti betapa besar kasih sayang yang telah diberikan tidak akan ada bila sampai saatnya ketika mataku tertutup nanti. Terus dan terus lah berjuang wahai engkau kekasih sejati.

%d bloggers like this: