• Kicauan Terakhir

  • Baca Juga

  • Komentar Anda

    pekanbola on Ketika #Pesona10001Saman Gayo…
    Aulia Fitri on Gunongan, Tempat Bermainnya Pu…
    Aulia Fitri on Ketika #Pesona10001Saman Gayo…
    Monza Aulia on Ketika #Pesona10001Saman Gayo…
    Elizabeth on Gunongan, Tempat Bermainnya Pu…
    Jual aksesoris handp… on Voucher Diskon Jadi Tren Belan…
    Jual aksesoris handp… on Cara Mencegah Virus #WannaCry…
  • Arsip

  • Kategori

  • Para netter yang doyan ke OWL

    Aulia87.wordpress.com website reputation
    MyFreeCopyright.com Registered & Protected

  • Advertisements

Caleg Kok Gitu Sih?


poster caleg

Foto: hinamagazine.com

Perjalanan pulang kampung alias pulkam saya kali ini (12/01) ke Aceh, alhamdulillah berjalan lancar dan sehat wal’afiat tanpa kurang dari suatu apa pun baik mulai dari keberangkatan sampai dikediaman tercinta (Matang My Lovely).

Lalu apa hubungan dengan judul di atas “Caleg Kok Gitu Sih?”, sebenarnya kalimat sebelumnya itu hanya sebagai intro saja. Berhubung sekalian saya berbagi pengalaman kali ini, namun jika anda merasa ‘kurang berkenan’ membaca dari embel-embel tulisan ini tanpa to the point silakan atuh loncat ke bagian/sub poin “Caleg di Jalan-Jalan”. Read more kalau mau >>>

Advertisements

Aktif Kembali


Setelah lama nian kita berliburan, mungkin segala kesuntukan dan kebosanan selama satu semester yang lalu sudah cukup terbayar. Kini saatnya tanggal 4 Februari 2008 nanti menjadi hari pertama, dimana lembaran baru untuk kembali mencari dan menapaki ladang ilmu di balik gedung bundar (balgebun).
Kampus pun kini yang semakin ceria telah menunggu kedatangan muka-muka yang segar dan penuh keceriaan untuk mengawali masa kuliahnya. Kini terasa untuk bermain di blog sudah agak begitu “berkesan”, entah kenapa ide-ide yang ada sudah berterbangan untuk memulai sebuah postingan yang baru. Mungkin ini juga sebuah pengaruh, bila otak sudah lama tidak terkontaminasi dengan namanya tantangan baru (kuliah).
Ya sudahlah, cukup sekian yang bisa diutarakan. Dan bagi teman-teman yang masih berlibur harap segera mempersiapkan diri terutama dikala suasana cuaca yang sering hujan dan angin yang tidak karuan. Semoga kebanjiran tidak lag menjadi jatah bagi anak-anak yang berumah di Jakarta. Semoga[]

Melihat Uang Dengan Hati


Tepat tanggal 24 (Jum’at) beberapa hari yang lalu, saya kembali melangkah maju untuk “come back to Depok”. Namun, ada sesuatu menarik yang mungkin bisa saya bagi dalam kesempatan kali ini. Hal itu tanpa tepat ketika saya berada dalam pesawat, kebetulan disaku tempat pesawat terdapat majalah (Lionmag) kebetulan masih diperkenankan untuk naik lion lagi, soalnya PP kali ini dipenuhi dengan penerbangan maskapai lion air.
Dari segala kekosongan menunggu sampai di tempat tujuan (bandara cengkareng), akhirnya majalah inilah teman yang bisa menemani selama kurang lebih 2 jam perjalanan. Halaman demi halaman saya buka, ternyata isinya cukup menarik (tidak boring). Namun, entah kenapa saya membaca majalah tersebut dari halaman belakang pertama. Setelah membuka-buka halaman sampai di tengah majalah ada sebuah tulisan yang berjudul melihat uang dengan hati. Pertama melihat judul ini saya merasa tulisan ini sepertinya membahas tentang cara melihat uang yang asli (uang palsu), ternyata salah besar dugaan saya itu.
Tulisan tersebut menarik karena ada beberapa poin penting, yang kemungkinan besar banyak orang-orang yang belum bisa melihat uang secara pikiran dan hati, melainkan sekarang banyak orang menilai uang hanya sebatas nilai dengan matanya.
Ada sebuah ilustrasi cerita sederhana mengenai cara melihat uang ini, yakni tentang 3 seorang pengamen di tempat yang sama.
Pengamen pertama, disebuah rumah makan ayam bakar seorang pengamen hadir di sebuah meja keluarga, tanpa berpikir panjang lagu pun dilantunkan. Belum habis satu lagu dinyanyikan, langsung disodorkan kantong duitnya. Memang terkesan bila seorang pengamen hadir ditempat-tempat rumah makan sering mengganggu para pengunjungnya. Dan sangat jelas bila keadaan sudah begitu pengunjung biasanya hanya bersedia memberikan uang senilai bisa ditebak 100 perak, 500 perak dan yang paling tinggi 1000. Disini sangat jelas bahwa orang disini hanya menilai uang dengan mata saja, hanya sebatas untuk mementingkan perut sendiri bagi si pengamen.
Lalu bagaimana dengan pengamen kedua, tempat dan kondisi masih sama di rumah makan. Si pengamen ini tahu akan aturan bila menghadapi para pengunjung yang sedang menikmati hidangan di rumah makan. Tak heran bila pengamen tanpa sungkan-sungkan lebih dahulu meminta permisi untuk menampilkan tembangnya dan tak jarang pula biasanya malah meminta pengunjung untuk merequest lagu yang diinginkan. Dan hal yang penting si pengamen tidak pernah terburu-buru untuk menyodorkan kantong duitnya, karena dia tahu pengungjung bila mengeluarkan duit dengan tanggannya yang kotor belepotan sedang makan akan terasa terganggu. Nominalnya yang didapat pun oleh si pengamen juga memuaskan bisa jadi sampai 5 ribu, karena dia melihat uang dengan pikirannya.
Dan sampailah pada si pengamen yang terakhir dengan tempat yang sama yakni di sebuah rumah makan ayam bakar. Mungkin yang terakhir ini lebih profesional dalam melakukan aksi ngamennya. Dia hanya menggelar tempat seadanya tanpa mendekati meja pengunjung dan dia pun memamerkan beberapa CD lagu-lagunya dengan nada lembut tanpa ada harga yang ditetapkan dan satu tulisan terpampang di depannya kepada pengunjung “uang anda akan sangat berguna bagi panti asuhan”, karena jelas niatnya adalah sosial untuk membantu anak-anak panti karena akan disisihkan sebagian hasil ngamennya untuk membantu anak-anak panti. Jadi terlihat lah bahwa uang di mata pengamen ini tersirat dari hatinya dan para pengunjung pun tidak sungkan-sungkan membeli CD-nya dengan mengoceh uang seadanya dan bisa jadi 20 ribu paling banyak bisa ia dapat dari para pengunjung yang berhati sosial dengannya.
Inilah sekelumit cerita yang mungkin bisa membawa kita menilai uang bukan secara kasat mata, namun menjadi sebuah tamsilan bahwa dibalik nominal itu masih banyak yang bisa kita lakukan bukan demi sesuap nasi melainkan demi jiwa yang sosial ini.
%d bloggers like this: