• Kicauan Terakhir

  • Baca Juga

  • Komentar Anda

    Miftah Habibi on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    Noer on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    morishige on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    Muhammad Farhan on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    Alfiandar on 13 Tahun jadi Blogger, Kini Pe…
    13 Tahun jadi Blogge… on Tersadar Kalau @Twitter Sudah…
    13 Tahun jadi Blogge… on Flying and Blogging with @Word…
  • Arsip

  • Kategori

  • Para netter yang doyan ke OWL

    Aulia87.wordpress.com website reputation
    MyFreeCopyright.com Registered & Protected

Betapa Kau Menyukai Mereka


paku pohon

Paku di pohon/Foto: oh.blogombal.org

INI bukanlah romansa baru, tapi sebuah pesan lama yang kadang kita lupa dengan keberadaan si pendahulu jejaring sosial yang lazim kita sebut dengan social media, yakni Friendster (FS).

Perubahan jaman memang telah menggantikan pendahulu dengan yang baru di tahun berikutnya. Saatnya FS dinyatakan akan segera “tutup” pada akhir Mei 2011 ini, saya termasuk salah satu orang yang melakukan backup data profil dan segala emblemnya.

Hasil yang sudah backup, tentunya bisa kita nikmati kembali sembari offline. Nah, dari sinilah saya kembali memborkar-bongkar berbagai kenangan lama di FS, salah satunya yang terkenal di FS dulu selain fitur sapa “testimonial” juga ada yang nama Pesan Berantai yang dari hari ke hari sering diteruskan (forward) oleh banyak teman. Continue reading

Menangisnya Wanita


Wanita Menangis

UNTUK hari ini resensi khutbah jum’at tidak dimuat, berhubung datang agak telat ke MUI, jadi gak begitu reflek dengan khutbah dan juga plus keadaan panah yang menyelimuti Depok. Walaupun cuaca sedikit mendung, namun suhunya lumayan meneteskan keringat. Jadi sebagai peganti, kebetulan dapat sebuah tulisan dari temen-temen di MP (multiply) yang sayan anggap lumayan untuk perjuangan seorang wanita walaupun untuk judul tidak disamakan dengan sumbernya (ini atau ini). Inilah cuplikan ceritanya:

Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya kepada ibunya.

“Ibu, mengapa Ibu menangis?”. Ibunya menjawab, “Sebab, Ibu adalah seorang wanita, Nak”.

“Aku tak mengerti,” kata si anak lagi.

Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat. “Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti….”

Kemudian, anak itu bertanya pada ayahnya. “Ayah, mengapa Ibu menangis? Sepertinya Ibu menangis tanpa ada sebab yang jelas?” Sang ayah menjawab, “Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan”.

Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya. Lama kemudian, si anak itu tumbuh menjadi remaja dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Continue reading

%d bloggers like this: