• Kicauan Terakhir

    • RT @ompian: Melek internet rupanya tak terbatas bagi penderita gangguan jiwa, paket internet lebih penting daripada makan, katanya. 7 hours ago
    • RT @iloveaceh: Gajah Sumatera yang hidup di Hutan Leuser, merupakan Satwa yang harus dilindungi agar tetap terjaga kelestariannya #CareLeus7 hours ago
  • Baca Juga

  • Komentar Anda

    Aulia Fitri on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Mesin oven on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Aulia Fitri on The Light of Aceh – Caha…
    mengejarmimp1 on The Light of Aceh – Caha…
    androidtechnicia on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Safprada on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Aulia Fitri on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
  • Arsip

  • Kategori

  • Para netter yang doyan ke OWL

    Aulia87.wordpress.com website reputation
    MyFreeCopyright.com Registered & Protected

Kisah Museum Aceh dari Koloniale Toonstelling


Museum Aceh di Banda Aceh (IST)MENGENAL asal usul Museum Aceh memang tidak luput dari nama persinggahan, artinya beberapa sejarah Aceh yang terekam dalam catatan atau dokumentasi ke-Aceh-an banyak saya dapatkan saat berada jauh dari Aceh itu sendiri.

Termasuk mengenal Museum Aceh yang tepat pada 31 Juli ini genap sudah berusia 100 tahun alias seabad dari perhitungan Masehi. Ihwal, saya mengenal museum yang berbentuk Rumoh Aceh ini secara fisik kurang lebih 10 tahun yang silam atau lebih, lagi-lagi waktu melakukan persinggahan untuk merantau ke Banda Aceh.

Namun, yang uniknya kisah Museum Aceh hingga sampai ke Banda Aceh, malah saya temukan saat merantau ke Semarang.

Ceritanya waktu itu, beberapa anak muda-mudi Aceh sepakat untuk jalan-jalan malam ke kota tua di Semarang, tepatnya ke Pasar Sentiling, dari sinilah beberapa koleksi foto-foto peninggalan Belanda dan sejarah terpampang diantara keramaian pengunjung yang memadati area pameran dan pasar malam tersebut.

Kegiatan yang dibalut seperti festival tersebut di Pasar Sentiling memang terbilang keren dan unik, pasalnya acara-acara penuh nilai sejarah ini dikomandoi oleh komunitas dan anak-anak muda bekerjasama dengan beberapa lembaga perwakilan dari Belanda.

Suasana De Koloniale Tentoonsteling di Semarang (IST)

Dari hasil jalan-jalan tersebutlah saya bertemu dengan sebuah foto, dan dari foto klasik itu tertulis nama F.W. Stammeshaus. Nama ini tidak asing lagi, karena beberapa tulisan menyebutnya sebagai Kurator Atjeh Museum pada acara De Koloniale Testooteling (Pameran Kolonial) yang diadakan di Semarang pada tanggal 13 Agustus-15 November 1914.

Kisah Koloniale Toonstelling

Konon, perhelatan Koloniale Toonstelling pada tahun 1914 di Semarang termasuk salah satu pameran dunia terbesar dimasanya, bahkan Pekan Raya Jakarta sendiri belum mampu menandinginya.

Seperti dikutip dari blog Bambang Priantono, menyebutkan, Koloniale Toonstelling merupakan gabungan antara PRJ dan Taman Mini Indonesia Indah, dimana banyak negara dan kerajaan Nusantara yang ikut berpartisipasi dalam ajang pameran yang dibuat untuk memperingati 100 tahun lepasnya Belanda dari kekuasaan Napoleon Bonaparte (dan ironisnya diadakan di tanah jajahannya sendiri).

Museum Aceh tampak samping di pameran De Koloniale Tentoonsteling (IST)

Pada awal berdirinya bangunan Museum tersebut hanya berupa Rumoh Aceh, yaitu suatu modifikasi bangunan rumah tradisional Aceh yang berasal dari Paviliun Aceh.

Di samping memamerkan berbagai macam koleksi pribadi F.W.Stammeshous, Paviliun Aceh saat itu juga memamerkan aneka ragam benda pusaka para pembesar Aceh sehingga Paviliun tersebut tampil sebagai paviliun yang paling lengkap koleksinya dan memperoleh 4 medali emas, 11 medali perak, 3 perunggu, dan piagam penghargaan sebagai paviliun terbaik.

Atas keberhasilan tersebut F.W.Stammeshous mengusulkan kepada Gubernur Aceh H.N.A.Swart agar Paviliun itu dibawa kembali ke Aceh untuk dijadikan Atjeh Museum yang kemudian diresmikan 31 Juli 1915 di Banda Aceh.

Setelah Indonesia merdeka, operasionalisasi Museum Aceh secara bergantian diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Tk.II Banda Aceh sampai tahun 1969, Badan Pembina Rumpun Iskandarmuda (Baperis) sampai tahun 1975, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sampai tahun 2002, dan kini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonomi (Pasal 3 ayat 5 butir 10f), operasionalisasi Museum tersebut menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Nomor 10 Tahun 2002 tanggal 2 Februari 2002, status Museum Aceh menjadi UPTD di lingkungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.

Teuku Panglima Polem bersama F.W. Stammeshaus sang kurator Museum Atjeh, 16 Februari 1928. (IST)

Pada tahun 1969 atas prakarsa T. Hamzah Bendahara, Museum Aceh dipindahkan dari tempatnya yang lama (Blang Padang) ke tempatnya yang sekarang ini, yakni di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah, pada tanah seluas 10.800 m2. Sejak 28 Mei 1979 statusnya diubah menjadi Museum Negeri Aceh. Peresmiannya baru dapat dilaksanakan setahun kemudian atau tepatnya pada tanggal 1 September 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Yoesoef. (asosiasimuseumindonesia.org)

Kini, Museum Aceh telah berusia seabad dan pertanda umur museum ini sudah sangat tua. Namun, masih banyak catatan untuk memanej museum ini menjadi ikon tersendiri di Aceh sehingga tidak lagi kalah pamor dengan Museum Tsunami.

Seperti kita ketahui, berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 1995, museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti materiil hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.

Selamat ulang tahun Museum Aceh, semoga dengan semangat transformer peradaban menjadi awal baik dalam melayani masyarakat dan generasi muda untuk lebih dekat mengenal sejarah dan jati diri bangsa.[]

5 Responses

  1. Sekilas kayak rumah panggung Palembang, cuma tidak berundak-undak. Aceh adalah salah satu destinasi Indonesia yang pingin banget didatangi, semoga ada kesempatannya nanti. Amiiin

    • Sip, jangan lupa kalau datang nanti kita sajikan kopi mantap deh buat omnduut🙂

    • Sama, kapan ya bisa dateng ke Aceh

  2. sejarah mantap? sukses selalu ya

  3. Pokoknya Aceh selalu dihati…

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: