Mulai Soal Media Sosial, Branding, dan Wisata


Destination marketing on social mediaMUNGKIN dia lelah, ya bisa jadi kita pasti akan meraskan lelah saudara-saudara. Bulan Desember menjadi pertanda akhir dari perjalanan waktu dalam hitungan tahun, segala macam tumpah ruah mengejar target biasanya akan terlihat pada setiap waktu berakhir.

Tapi kali ini, bukan soal waktu dan lelah yang kita bicarakan. Melainkan seputar hal-hal kecil yang kerap sekali kita lakoni setiap hari, khususnya pengguna gadget atau pun mereka yang smart lewat phone alias smartphone.

Hari Senin (1/12/2014) lalu, sebagai pembuka awal tanggal di bulan Desember, saya diberikan kesempatan oleh Direktur Eksekutif MIT Indonesia, Teuku Farhan untuk berbagi pengalaman seputar media sosial dan promosi wisata di stasiun TVRI Aceh bersama dengan Ustad Mujiburrizal, yakni salah satu penggagas wisata syariah di Aceh yang dipandu oleh Dosi Alfian.

Dari hasil diskusi dan berbagi pengalaman tersebut, saya mendapatkan pelajaran otodidak yang jauh dari teori baku di buku, ya apalagi kalau bukan soal media sosial, branding, dan wisata.

Angkat Positifnya

Aceh memang telah dikenal sejak dulu (kala), bicara soal Aceh memang menjadi menarik mata dunia. Hal-hal negatif yang masih terbekas dari image branding Aceh masih saja hingga saat ini, semisal konflik, aturan syariah, dan lainnya sebagainya.

Padahal dibalik paradigma dan persepektif negatif itu, Aceh sudah lama menunjukkan eksistensi dengan segenap potensi yang luar biasa, positifnya inilah yang terkadang masih terpendam dan tidak jarang publik terlewatkan untuk mengetahuinya.

Dalam sebuah diskusi singkat dengan CEO Syafaat Marcomm asal Jogja, Andika DJ beberapa waktu lalu, saya sempat belajar banyak hal soal pandangan orang luar tentang Aceh. “Saya melihat potensi Aceh di wisata 50 persen itu ada di alamnya, dan sisanya itu ada di kuliner, budaya, kesenian, dan lainnya yang seharusnya juga bisa dijual,” sebutnya sembari menikmati secangkir —minuman sanger panas (SP).

Mas Andika menyebutkan, wisata yang identik dengan budaya di Aceh dan kearifkan lokal harus betul-betul diperhatikan.

“Saya sempat pagi itu ke warung kopi yang pagi-pagi buta sudah ramai, mereka penikmat kopi terlihat sangat asyik dan penuh keakraban,” sebutnya yang saya gepeeskan lokasinya warkop tersebut berada di Beurawe Banda Aceh.

Artinya apa? Dari hasil penuturan singkat soal warkop pagi-pagi buta tersebut dari Mas Andika, yakni menghasilkan sebuah nilai (value) atau pengalaman yang berharga, mungkin sering disebut dengan experience dalam menikmati sebuah tempat yang dikunjungi oleh tamu (wisatawan).

Pengalaman yang didapatkan oleh wisatawan saat mengunjungi sebuah tempat menjadi roh dari sebuah kata kerja “wisata”, itulah dampak positif yang harus dipahami betul oleh mereka yang mampu menjaga hal tersebut.

Nilai positif yang kecil ini bukan berarti tidak berdampak besar, Aceh yang dikenal (orang) diluar “mencekam” tentu akan terbias dengan pengalaman-pengalaman wisatawan yang datang kesini menikmati dan menghayati lewat apa yang dilihat dan dirasakannya (bukan dibacanya) langsung. Ini poin pentingnya!

Kolaborasikan Ide dan Media Sosial

Kehadiran pegiat wisata syariah di Aceh menjadi nilai tambah yang begitu berperan bagi ekonomi masyarakat, dalam diskusi saya dengan Ustad Mujib juga sempat menyebutkan soal “wisata cambuk”, kenapa tidak? Sangking tertariknya dan penasarannya orang luar yang ingin melihat prosesi cambuk mereka harus benar-benar datang ke Aceh, bukan sebatas baca di koran atau cukup lihat di TV.

Artinya apa? Lagi-lagi orang tersebut atau calon wisatawan ini harus punya rasa dan pengalaman untuk melihat langsung. Tapi sudahlah, kita tidak bahas ini disini nanti jadi terlalu panjang pasal dan kontranya.

Yang saya sebutkan soal wisata syariah disini, bahwa kedepan dan saat ini pun Aceh telah mampu menyebutkan diri sebagai salah satu destinasi wisata syariah yang ada di nusantara, walaupun dari pihak kementerian terkait sendiri belum memberikan lampu hijau untuk diberlakukan bagi Serambi Mekkah ini.

Sebut saja contohnya wisatawan negeri jiran Malaysia, Aceh hingga saat ini masih menjadi daerah favorit untuk mereka kunjungi, tidak saja sendiri melainkan juga mereka mengajak sanak famili untuk berlibur dan datang ke Aceh. Terlebih ikatan darah Melayu antara Aceh dan Malaysia sangat dekat, dan sangat wajar hubungan emosional pun akan begitu kental terasa saat wisman negeri jiran berkunjung ke Aceh.

Jadi, mari positifkan Aceh lewat media sosial dan wisata, bersama kita kolaborasikan aksi nyata.[]

43 Responses

  1. betul sekali..media for business🙂

    • Yoi mas Sukma, karena lebih murah dan juga efektif dalam membrandingkan sesuatu produk atau jenis usaha lainnya🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: