Jika “Mayam” Tergantikan dengan Giok Aceh


Batu Giok Aceh Indocrease (Foto @Iqbal_Mhd)KALAU Anda sering berkunjung ke Aceh ataupun pernah mendengar kata-kata “mayam” berarti Anda sudah familiar dengan tatanan sosial masyarakat setempat.

Mayam, dalam bahasa Indonesia berarti mahar. Fenomena dolar dan mahar yang identik dengan emas murni di Aceh memang bukan hal yang lapuk ditelan masa. Kegirangan lelaki sejati dan romantis yang mendambakan seorang putroe (putri) cantik nan eksotis bisa saja luluh jika dihadapkan pada persoalan mahar.

Penjelasan ringkas mayam atau jumlah mahar di Aceh mungkin sudah banyak yang membahas, atau jika Anda tertarik boleh membuka tautan yang berjudul “Jumlah Mahar di Aceh untuk 23 Kota/Kabupaten“, namun terhitung sudah tidak update lagi.

Tapi tenang saja, mayam di Aceh tidak berpengaruh terhadap fluktuasi kenaikan bahan bakar minyal (BBM). Jadi kalau ada komentar yang menyebutkan, “ka meuhai lom meueh” atau ada yang sebut “nyoe ka diek lom jeulamee, hek that aneuk muda” tentu harus kita seminarkan dulu.

Giok Aceh Go Publik

Kita tinggalkan mayam dan jeulamee dulu, coba kita tengok sejenak tentang berita hot sepanjang sejarah perbatuan di Indonesia pada umumnya dan di Aceh pada khususnya.

Bayangkan saja, cukup bayangkan jangan Anda terawang terlalu jauh. Di Aceh, Gunung Giok sudah ada yang bernama asli Gunung Singgah Mata berada di Kabupaten Nagan Raya. Siapa tahu kan, pemuda-pemuda Nagan untuk melamar seorang pemudi ke depan mungkin sudah cukup menggantikan nilai mayam atau jeulamee dengan batu saja.

Giok Aceh memang tidak bisa cilet-cilet alias asal soal harga, batu giok Aceh asal Nagan pernah terjual dengan harga fantastis, Rp 2,5 miliar dalam pameran “Indonesia Gamestone” di Jakarta beberapa waktu lalu, itu bukan bongkahan lho, tapi sudah jadi mata cincin yang diborong oleh pengusaha Taiwan.

Ku Lamar Dia dengan Sebongkah Giok

Kalau kira-kira sudah menjelang deadline untuk prosesi, ada tips yang menarik bisa dilakukan oleh pemuda di Aceh sepertinya, jika terlalu mainstream melamar sang pujaan dengan kadar hitungan berapa mayam. Kini bisa dengan hitungan padum boh geurebak taba batee (berapa buah gerobak kita bawa batu) sebagai tanda jadi.

Maksudnya seperti ini lho, giat-giatnya Anda sebagai pemuda untuk mencari batu, perhatikan jenis dan polanya serta tentukan pemasaran yang sedikit diluar mainstream. Lalu jual itu batu giok, dan tukarkan dengan meuh (emas).

Bagaimana menarik bukan untuk dicoba? Maka lamarlah si dia dengan sebongkah giok. Dan catatan terakhir, batu giok Aceh yang ada di gunung, jika tidak ada pemerhati dan peneliti yang serius dengan kondisi perbantuan dari sekarang, kedepan bakal diprediksikan sama ngeri dengan kondisi penebangan pohon di hutan.[]Banda Aceh

Tulisan ini terinspirasi karena sudah lama tak sempat update dan percakapan di linimasa serta di sebuah ruangan berukuran 3 x 3 tanpa ada intel.

28 Responses

  1. mas gan itu beneran 2,5m? tapi memang betul kata mas gan, ngeri bakal suatu saat tidak ada lagi gunung untuk dilihat, semuanya rata demi mencari batu berharga.

    • Benar mas gan, harga setinggi itu memang ada dan jadi rekor baru.

  2. Blognya mantap,Aulia. Folback ya🙂

    • Siap, tapi gimana cara ya folback di lintas platfom blog?😀

  3. batu giok memang bagus tapi harganya mahal gan.

    • Itulah, agan mesti cari rupiah yang lebih untuk cari giok😀

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: