Antara Anak Muda, Wanita dan ‘Netizen’


Wow Marketing 2014 (Foto Iqbal)SEBUAH kicauan memang bisa memberikan inspirasi tertentu, gara-gara blog OWL (Orekan Waktu Luang) sudah cukup lama tak terawat, akhirnya tiga kata-kata di atas membuat saya untuk sedikit mengisi kekosongan blog ini.

Bulan April 2014 lalu, memang menjadi momen yang sudah lama saya tunggu-tunggu. Selain berjumpa dengan tim kece rewe dengan sejumlah agenda, saya berkesempatan menimba ilmu bersama CEO dan Founder MarkPlus, Inc. Hermawan Kartajaya (HK).

Saya menganggap pertemuan yang berlangsung dari pagi hingga sore tersebut sebagai sebuah kegiatan ekstra kurikuler untuk menambah sedikit pengalaman dan ilmu soal marketing yang masih awam di kepala ini.

Sebelumnya, saya tidak mau bercerita kronologi acara dari pagi hingga sore di tulisan, karena ini tulisan singkat langsung kepada inti seperti yang telah tertera pada judul di atas.

Ada apa dengan anak muda? Kenapa tidak orang-orang tua yang sudah berpengalaman. Lalu apa kaitan dengan wanita alias perempuan atau cewek-cewek. Dan yang terakhir apa itu ‘netizen’? Istilah asing bisa disebut dengan awam berarti mereka pengguna teknologi canggih, gadget, bahkan perang smart yang disebut phone atau smartphone.

Pak HK, menyebutkan bahwa tiga kompenen di atas tersebut adalah salah satu bagian dari tren di Indonesia yang menjadi sub dari marketing (pemasaran).

Kenapa Harus Mereka

Tentu inilah jawaban yang akan kita kupas, seperti yang pernah disebutkan Hasanuddin dkk (2011), bahwa di era internetisasi ini ada tiga komunitas yang menjadi subkultur yang menggerakkan dunia saat ini, yakni Youth, Women, Netizen, ketiganya ini merupakan New Wave Ready Customer.

Anak muda (Youth) memang komponen yang terlepas saat ini dengan komunitas, artian komunitas bisa disebutkan adalah masyarakat luas. Namun, dibalik tangan-tangan anak muda itulah banyak melahirkan inspirasi baru yang kreatif, baik itu produk, keahliaan, ataupun jasa (yang tak terlihat).

Orang tua sebenarnya juga mampu berada diposisi komunitas, sayangnya gerakan orang-orang tua lambat dalam berinovasi (malah banyak masuk dalam kategori non-produktif). Tidak perlu melihat contoh jauh, tapi lihatlah disekiling kita. Hal yang paling cocok adalah mengaitkan anak muda dengan orang tua untuk saling mengisi, bukan menyaingi, memberikan dorongan dan arahan tentu membuat komponen anak muda pasti lebih hidup, karena setiap perubahan akan terisi dengan semangat-semangat dari yang muda, begitu pula untuk hal marketing.

Berikutnya adalah wanita atau perempuan, baik sudah bersuami atau masih single kece. Pentingnya wanita dalam marketing tidak terlalu jauh perlu dijelaskan, potensi ibu-ibu arisan, ibu-ibu PKK atau perkumpulan remaja-remaja ABG paling cepat dan cekatan menyangkut hal-hal baru untuk dikonsumsi alias kaum hawa lebih berada pada tingkatan konsumtif tinggi dibandingkan kaum adam. Percaya atau tidak? Buktikan sendiri saat Anda berjalan ke pasar atau mall, lihatlah interaksi dan ambisi seorang perempuan dalam berbelanja.

Maka dari itulah, wanita menjadi penentu dalam marketing. Sampai-sampai hampir semua iklan (produk/brand) komposisi wanita lebih buanyak daripada pria-pria kesepian (mungkin ada riset, tapi saya belum mencari lebih detailnya). Waspadalah, potensial yang dimiliki wanita, silap mengartikan bisa berarti negatif.

Terakhir yaitu netizen, siapa mereka? Ya kita-kita yang sering menulis di blog, menulis di kicauan, dinding Facebook dan sejumlah akun media sosial lainnya. Lihatlah sekarang, bertapa banyak orang berjualan secara daring (online), dari Facebook, Instagram, BB, dan masih banyak perangkat lainnya yang membuat begitu mudah dan dekat dengan calon pembeli.

Pengaruh dari netizen bisa jadi bentuk transformasi dari word of mouth (WOM) dari secara nyata menjadi digitalisasi lewat merebaknya jejaring sosial. Bukan tidak mungkin, perbincangan produk atau jasa bisa sangat membantu seseorang untuk mengangkat branding suatu objek, baik itu diri sendiri atau barang.

Nah, itulah cerita singkatnya soal anak muda, wanita, dan netizen. Barangkali saya bisa menambahkan satu lagi, pengaruh teknis dari jaringan yang ada di Indonesia juga mempengaruhi dalam pemasaran. Coba bayangkan jika fasilitas jaringan yang kita gunakan tidak mendukung, sering hilang sinyal, internet putus-putus, betapa banyak orang akan menggerutu.[]

Tulisan ini tidak bersifat ilmiah atau teoritis, semua yang disebut disini hanya mengadopsi dari apa yang pernah pak HK sampaikan. Selebihnya adalah karangan saya dengan minimnya literatur ilmiah yang disebut disini.

45 Responses

  1. Yang muda memang sebagai penggerak terdepan.

    • Yup, saatnya yang muda bergerak di depan dan yang tua pendukung dibelakang🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: