Negeri Pasie Karam, dari Masa Kerajaan hingga Meulaboh


Foto salah satu ulee balang di Meulaboh sekira tahun 1894 (Dok. KITLV)KEBIASAAN saya menelusuri hal-hal yang berbau sejarah memang terbilang masih sangat baru di dunia daring, namun soal ke-Aceh-an hampir di setiap waktu saya sisihkan sedikit waktu diantara kesibukan rutinitas keseharian.

Mencari, memahami, dan membaca adalah sesuatu yang kerap dan sering kita lakukan, tapi yang pasti juga tidak boleh ketinggalan untuk menulisnya kembali, seperti asal muasal Negeri Pasi Karam yang kini dikenal sebagai Meulaboh, di Kabupaten Aceh Barat.

Kisah ini bermulai dari tulisan blog HM Yousri Nur Raja Agam yang berjudul “Datuk Raja Agam dan Negeri Meulaboh, Aceh” yang ditulis tahun 2008 silam. Singkat ceritanya, beliau menuturkan sebuah kisah turun temurun dari nenek moyangnya yang sedikitnya tahu betul cerita perang Aceh, dimana membuat keluarganya harus berpindah dari Minangkabau, Padang hingga sampai ke Meulaboh, Aceh Barat.

Wajar saja, jika HM Yousri ini memiliki banyak saudara-saudara atau keluarga yang masih berada di Meulaboh dan juga Tapaktuan, sama seperti kisah Cut Nyak Dhien yang memiliki keturunan dari Minangkabau.

Riwayat Negeri Meulaboh

Meulaboh dulu dikenal sebagai Negeri Pasir (Pasi) Karam. Kedatangan orang Minangkabau yang lari dari negerinya membuat perkebunan di daerah itu maju. Ungkapan “disikolah kito berlaboh” disebut-sebut sebagai asal mula nama Meulaboh. Menurut H M Zainuddin dalam buku Tarikh Aceh dan Nusantara (1961) asal mula Meulaboh adalah Negeri Pasir Karam. Negeri itu dibangun dibangun pada masa Sultan Saidil Mukamil (1588-1604). Pada masa Kerajaan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636) negeri itu ditambah pembangunannya (Baca HM Yousri, 2008).

Merujuk pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, keberadaan akan wilayah bagian barat terus mengalami peningkatan dan pembangunan dengan didatangkannya orang-orang dari Aceh Rayeuk (Besar) dan Pidie. Daerah tersebut terus ramai, khusunya di seputaran teluk Meulaboh atau yang dikenal dengan Pasi Karam.

Meulaboh di sore hari (Foto skyscrapercity.com)

Selain kedatangan orang-orang lokal sendiri, pendatang dari Minangkabau juga hidup berbaur dengan masyarakat setempat bahkan beberapa dari pendatang juga pernah diangkat menjadi pemimpin diantaranya, seperti Datuk Machadum Sakti dari Rawa, Datuk Raja Agam dari Luhak Agam, serta Datuk Raja Alam Song Song Buluh dari Sumpu.

Pada masa tersebut, Pasi Karam bisa disebut sebagai salah satu daerah lahirnya Meulaboh sekarang ini –sama seperti Gampong Pande di Banda Aceh sebagai cikal bakal kerajaan Aceh– yang diperintah oleh seorang raja yang bergelar Teuku Keujruen Meulaboh, dan Negeri Daya (Kecamatan Jaya) yang pada akhir abad ke-15 dan telah berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah dengan gelar Poteu Meureuhom Daya.

Perkembangan selanjutnya, wilayah Aceh Barat pada akhir abad 17 telah berkembang menjadi beberapa kerajaan kecil yang masa itu terkenal dengan para pemimpin dari Uleebalang, yakni seperti di Kluang; Lamno; Kuala Lambeusoe; Kuala Daya; Kuala Unga; Babah Awe; Krueng No; Cara’ Mon; Lhok Kruet; Babah Nipah; Lageun; Lhok Geulumpang; Rameue; Lhok Rigaih; Krueng Sabee; Teunom; Panga; Woyla; Bubon; Lhok Bubon; Meulaboh; Seunagan; Tripa; Seuneu’am; Tungkop; Beutong; Pameue; Teupah (Tapah); Simeulue; Salang; Leukon; Sigulai.

Dalam tulisan HM Yousri menyebutkan, daerah Meulaboh terus bertambah maju ketika masa Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Ibrahim Mansjur Sjah (1841-1870) karena semakin banyaknya orang-orang dari Minangkabau yang pindah ke sana, karena pada waktu itu Minangkabau sudah dikuasai Belanda. Di sana mereka tidak lagi bebas berkebun setelah Belanda menerapkan peraturan oktrooi dan cultuurstelsel yang mewajibkan warga menjual hasil kebunnya kepada Belanda.

Pasi Karam Sekarang

Memang sejarah singkat Meulaboh yang telah dijelaskan di atas masih perlu klarifikasi dan pencarian literatur yang lebih komprehensif, hampir beberapa kali saya juga menemukan versi yang beragam rupa soal sejarah Meulaboh.

Namun, apa yang pernah saya sebutkan di atas seperti mengaitkan Pasi Karam layaknya Gampong Pande di Banda Aceh tentu menjadi hal menarik jika unsur adat masyarakat setempat serta pihak-pihak terkait membahasnya lebih lanjut dalam sebuah diskusi dan bedah sejarah.

Bukan tidak mungkin, Pasi Karam yang sekarang setidaknya 5 atau 10 tahun ke depan menjadi sebuah tempat yang bernilai sejarah (historis), walau gambar atau fotonya saat ini masih susah saya cari di internet bagaimana wujudnya dahulu kala, setidaknya pada masa penjahahan Belanda yang sudah ada teknologi jepretan gambar. Sekian.[]Semarang

Dan tiba-tiba saya teringat kembali dengan Nek Maneh, Meulaboh oh Meulaboh

56 Responses

  1. nice info sob

  2. Semoga artikel Ini Bermanfaat Untuk Adik-Adik Penerus Bangsa, Jangan Lupakan Sejarah Kita Sendiri…

    • Terima kasih, semoga bisa terus menulisnya🙂

  3. Thx gan bermanfaat banget artikel nya
    Kunjungi http://s4gus.blogspot.com yah gan
    Berisi artikel unik dan software editing lainnya
    Follback yah😀

    • Terimakasih sudah berkunjung ke OWL

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: