Merawi Hikayat Perang Aceh Dulu dan Sekarang


Hikayat Prang SabiADA beberapa konsep (draft) dalam blog saya yang terkadang tidak tertuntaskan, begitu juga dengan tulisan ini. Walaupun sudah berusia tujuh tahun ngeblog, tetap saja ide itu berhenti sekedar judul atau pun hanya dalam ingatan sementara yang tidak begitu berlangsung lama.

Ini bukan perawian sejarah yang begitu panjang atau pun detail dengan sejumlah atribut yang melekat, hanya saja sebuah hikayat perang yang pernah dulu berkobar di Aceh.

Bicara soal hikayat, kita telah terjun pada sastra. Ya, begitu juga dengan kisah ini. Perang rakyat Aceh melawan Belanda pada tahun 1870-an bukanlan sebuah perang yang hanya mengusir penjajah atau kaphee semata, tapi ada makna satu visi dan semangat, yaitu bebaskan Aceh dari rongrongan nafsu penguasa Hindia-Belanda.

Dari sekian banyak sastra perang di Aceh, hikayat Prang Sabi (Perang Sabil) yang paling banyak diingat orang. Anda bisa mengetiknya di Google dan akan tersedia begitu banyak catatan sejarah lengkapnya.

Tapi, apa pun cerita hikayat yang dikarang oleh seorang ulama yang bernama Teungku Chik Pante Kulu (1836 M) ini sungguh fenomenal, selain berhasil mengembalikan semangat juang rakyat (muda-mudi) Aceh juga menjadi salah satu hikayat yang dipelajari oleh kaum akademisi alias sarjana-sarjana Belanda seperti Prof. Dr. Christian Snouck Hurgronje dan HT Damste. Kenapa demikian? Karena Belanda ingin mengatur strategi untuk memadamkan perang. Unik bukan?

Ketertarikan Tgk Chik Pante Kulu soal sastra bukan sembarang. Sebagai seorang ulama yang lama tinggal di Mekkah untuk menunaikan ibadah haji serta menuntut ilmu, beliau juga giat mempelajari dan membaca karya-karya sastra perang (Arab) di zaman Rasulullah, seperti Hikayat Perjuangan Hasan bin Tsabit, Hikayat Pejuang Khalid Bin Walid, Hikayat Perjuangan Kaab bin Zubair.

Rasa cintanya kepada sastra pun bertambah, saat dirinya mengetahui Aceh mulai diambil paksa oleh Belanda pada tahun 1873. Hanya berselang beberapa tahun, tepatnya tahun 1881, Tgk Chik Pante Kulu pun pulang ke Aceh dengan menumpang kapal laut, sebagai salah satu moda transportasi yang ada. Dalam perjalanan pulang ke Aceh inilah, beliau menulis hikayat Prang Sabi tersebut.

Hikayat Aceh Sekarang

Mengulas Aceh sekarang ini tidak lebih seperti melihat debu-debu di kaca, entah mungkin karena masa paceklik jelang April mendatang atau memang karena fenomena perawian hikayat yang sudah salah arah.

Sekedar informasi, hikayat Prang Sabi yang berhasil membangun gelora juang dan ketabahan rakyat Aceh masa itu hingga sekarang masih sering dinikmati oleh anak-anak muda Aceh bahkan orang tua, dengan gaya dan celotehnya masing-masing. Tidak hanya itu perjuangan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dulu, mereka juga telah berhasil mengadopsi syair dari hikayat tersebut dengan gubahan versinya sendiri.

GAM yang dulu bukanlah GAM yang sekarang, gam berarti anak laki-laki. Hikayat perang Aceh yang ada sekarang hanyalah nafsu dari segelintir orang, bukan lagi semangat yang pernah diwariskan oleh Tgk Chik. Ya, begitulah cara kita sebagai orang awam membaca, memandang, serta mencoba mengamini pengiringan media yang terlalu dibuat mencekam.

Desingan slongsong senapan pada masa Belanda justru berbeda dengan desingan modern yang dipamerkan saat ini. Sekarang yang terjadi sama seperti di kota-kota besar, ada bandit yang tidak senang dengan arti dan makna kedamaian yang hakiki di Aceh. Namun, percayalah bahwa Tuhan akan selalu bersama kita, bersama Anda, dan juga bersama umatNYA di dunia.

Kita mungkin rindu dengan karya sastra semacam hikayat Perang Sabi yang dulu lahir sesuai dengan masanya, sekarang kata tinggallah kata. Sampai-sampai, Wakil Presiden RI Adam Malik dulu sempat memberitahukan permintaannya dalam sebuah Pertemuan Sastrawan 1979 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, yang pernah dimuat di sebuah harian Medan.

“Adam Malik meminta, agar para sastrawan Nusantara jangan hanya menciptakan “karya sastra”, tetapi mereka harus dapat menciptakan karya sastra yang lebih berarti dan bernilai, seumpama karya sastra yang dapat menimbulkan semangat perjuangan. Adam Malik mengambil contoh karya sastra hikayat Prang Sabi, yang dapat membangkitkan semangat jihad pemuda-pemuda Aceh untuk berperang melawan Belanda berpuluh-puluh tahun lamanya. Seakan-akan Pak Adam Malik hendak bertanya: kapan kiranya lahir “Pengarang Hikayat Perang Sabil” abad ke XX ini?” demikian adanya.

Lalu tanda tanya besar saat ini di Aceh –terbuka untuk umum– adalah kenapa semangat perjuangan sekarang hanya tersekat seperti formula pada aljabar linier, ax + by = a – b. Cukup rumit ya! Wallahu’alam[]Semarang


42 Responses

  1. semoga semua baik2 aja ..

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: