Regenerasi Masjid Raya Baiturrahman


Tgk-Haji-HasanTULISAN ini masih merupakan kelanjutan dari kisah sebelumnya tentang “Riwayat Lain Masjid Raya Baiturrahman” yang dikutip dari Almanak Umum 1959 dari berbagai sumber yang diperoleh oleh penulis Tgk Haji Hasan (foto) yang pada kali ini akan menguraikan seputar regenerasi dan sepak terjang MRB serta perkembangan dan perluasan pada tahun tersebut.

Setelah kependudukan Jepang, Masjid Raya terus mendapat sukungan dari kaum mulismin di Aceh untuk dilakukan perluasan, maka pada tahun 1948 M dibentuklah sebuah kepanitian yang diberi nama Panitia Usaha Memperluas Masjid Raya Kutaraja (PUMMER). Kepengurusannya pun dipegang oleh Tgk. M. Daud Beureueh, Twk. Abd. Aziz, dan lainnya. Panitia ini pun telah merencanakan gambar yang bakal dipergunakan untuk perluasan masjid, dari gambar itulah yang dipakai sekarang walaupun ada beberapa perubahan (fisik) bentuk sedikit disana-sini.

Pada hari Senin, 20 Muharram 1376 H atau bertepatan 27 Agustus 1956 M, Tgk. Mohd. Dahlan selaku pengurus Masjid Raya dengan mengambil tempat disalah satu ruangan Kantor Urusan Agama (KUA) Daerah Aceh, telah mengadakan pertemuan (rapat) dengan beberapa orang yang terdiri dari alim ulama, cerdik-pandai dan saudagar yang akhirnya terbentuk Panitia Perluasan Masjid Raya Kutaraja –panitia sebelumnya sempat vakum sehingga dibuat kepanitiaan baru– yang pengurus lengkapnya adalah (Penasehat) terdiri dari Residen Atjeh, Komandan Resimen I TTI Bukit Barisan, Wali Kota Kutaraja, Tgk. Haji Hasan Acting Kepala KUA Daerah Aceh, Tgk. H. M. Saleh, Wakil Kepala Mahkamah Syariah Daerah Aceh dan Ir. M. Tahir, Kepala PU Sumatera Utara di Medan.

Selain itu juga ada beberapa pengurus lainnya seperti pada posisi Ketua Teknis, Ramli Kepala PU Daerah IV di Kutaraja dan T. Bustaman Opzichter PU di Kutaraja. Ketua Umum dipegang oleh Tgk. Mohd. Dahlan Acting Kepala KUA Kabupaten Aceh Besar. Sementara Ketua I, T. Hasan dan Ketua II, Tgk. Hamzah Junus yang dibantu oleh Sekretaris I, M. Makky Adamy dan Sekretaris II, Tgk. Ibrahim. Sedangkan Bendahara dipimpin oleh T. Sulaiman Polem, tidak ketinggalan pula jajaran Komisaris terdiri dari Tgk. M. Abduh Syam, Keuchik M. Cahya Firma Singgah Mata, Keuchik Leumik Toko Mas dan beberapa lainnya.

Usaha perluasan Masjid Raya juga didukung oleh berbagai instansi daerah, seperti Kantor Urusan Agama, Pekerjaan Umum dan lainnya yang mendapatkan banyak perhatian dari pemerintah. Pihak PU pun menggelontorkan dana pembiayan sejumlah Rp500.000 (lima ratus ribu rupiah), sejumlah pekerjaan perluasan Masjid Raya pun dipegang oleh pemborong N.V. Zein dari Jakarta.

Sebagai bentuk memulainya pekerjaan perluasan masjid, pada malam Senin, 14 Dzulkaidah 1377 H atau tepat tanggal 1-2 Juli 1958 M diadakan kenduri syukuran dan do’a bersama agar terhindar dari segala halangan dalam melakukan pekerjaan suci tersebut.

Hanya berselang beberapa bulan kemudian, pada hari Sabtu, 1 Safar 1378 H atau 16 Agustus 1958 M oleh Menteri Agama KH. M. Ilyas juga meletakkan batu pertama dalam rangka perluasan Masjid Raya kedua kalinya yang pada waktu itu dibacakan juga do’a oleh Tgk. H.M Saleh Lambhuk.

Menurut gambar dari perluasan, apabila Masjid Raya selesai dikerjakan maka Kota Kutaraja pada khususnya dan Aceh pada umumnya akan merasa bangga dengan masjidnya yang berpuncak lima, menaranya dua dan disebelah belakangnya satu Jami’ah.

Adapun mengenai rencana perluasan masjid ini dibuat pada tahun 1955 oleh PU Daerah IV Kutaraja sebesar Rp5.600.000 (lima juta enam ratus ribu rupiah). Tetapi berhubung dengan kenaikan harga barang-bahan, upah bekerja dan sebagainya, maka jumlah rencana (anggaran) pun ditambah kurang lebih 30 persen, sehingga menjadi Rp7.260.000 (tujuh juta dua ratus enam puluh ribu rupiah).

Interior Masjid Raya Baiturrahman pada tahun 1895 Masehi

Status Masjid Raya

Tidak diketahui secara jelas status dan personalia Masjid Baiturrahman (pada masa itu), namun jika kita kembali mengingat Sultan atau Sultanah pada waktu itu bertugas antara lain menjalankan dan melaksanakan –inilah yang dinamakan adat di Aceh– syariat serta memerliharanya dari gangguan siapapun, maka dapat kita pastikan bahwa kedudukan Baiturrahman serta pegawainya adalah bangunan (gedung) dan pegawai pemerintah (kesultanan).

Adapun kedudukan pada masa pemerintahan Belanda, sepanjang ketentuan Governement besluit tertanggal 6 Juni 1881 No. 8 oleh Pemerintah Militer telah diserahkan kepada Pemerintah Sipil tentang pemeliharaan dan pengurusnya.

Dalam legger Gedung-gedung Negara yang dipelihara dibawah pengawasan Departement Veeker en Waterstaat mempunya bagian tentang perbaikan dan pemeliharaan, urusannya antara lain terkait pegawai, sementara air dan lampu ditanggung oleh Departement onderwijs en Eeredienst. Pemerliharaan Masjid Raya ini terlaksana dengan baik setiap tahun, dengan anggaran f 1.000 (seribu gulden) per tahun.

Mengenai pengurus atau pegawai Masjid Raya sepanjang riwayat setelah masjid selesai didirikan kembali (sebagai ganti masjid yang telah terbakar) maka kuncinya diserahkan kepada Tgk. Qadhi Malikul Adil. Paling akhir pegawainya diangkat oleh pemerintah tercatat nama-nama sebagai berikut, Tgk. H. Ibrahim Lambhuk, Tgk. Syekh M. Saman (Tgk Di Siron), Tgk. H.M. Saleh Lambhuk, Twk. Abdul Aziz, dan Tgk. Moch. Dachlan.

Sejak Indonesia merdeka kedudukan Masjid Raya, pegawainya masih tetap menerima gaji dari Pemerintah lewat Kantor Urusan Agama Kabupaten Aceh Besar. Baru pada tanggal 1 Oktober 1957, lewat keputusan rapat Dewan Menteri dinyatakan bahwa status Masjid Raya Kutaraja sebagai kepunyaan Pemerintah, sehingga pengurusan dan pemeliharaannya dengan sendirinya ditanggung pula oleh Pemerintah yang tertera dalam pengumuman Sekretaris Dewan Menteri No. 44 tanggal 1 Oktober 1957.[]

Jalan Masjid Raya Kutaraja, 6 Rabi’ulakhir 1378 H / 20 Oktober 1958 M.

Subhanallah, rumah Allah ini tetap selalu indah dan memikat hati. Masjid Raya Baiturrahman dilihat dari atas menara di depannya. (Photo by Raiyani)

21 Responses

  1. aih, tak pernah saya lihat baiturrahman secantik foto itu🙂

    • Itu foto dari atas menara bang Amir, jelang Maghrib atau jelang pagi setelah shubuh memang seperti itu fotonya🙂

  2. saya sangat kagum dengan masjid ini karena saat tsunami tidak hancur sama sekali yg menunjukkan kuasa Allah

    • Betul mba Winny, memang kita tidak mampu menjangkau kuasa-NYA dalam menjaga setiap rumah-rumah suci yang ada di muka bumi ini, termasuk di Aceh salah satunya.

      • iya benar bgt

  3. mesjid memang ditujukan untuk umat muslim agar mendekatkan diri kepada sang pencipta, tidak seperti jaman sekarang yang telah berdiri masjid” megah namun yang mengunjungi sedikit sekali..

    • Jamaah kini juga tergenerasi, tentu ada sebabnya yang seharusnya lebih dekat dengan ukhrawi.

  4. ini masjid bisa berdiri kokoh disaat tsunami menghadang :”)

    btw yang lagi cari rumah minimalis yang depannya danau bisa cari di sini nih http://www.citralakesawangan.com/citralake_sawangan_rumah_minimalis

    • Betul Fara, saksi bisu saat tsunami dulu…

  5. Wah,,, ternyata ini ya sambungannya,,,🙂

    Mesjid raya nya begitu megah,, tpi knapa ya penduduk non muslim yg tinggal di belakang atau di depan mesjid raya nya gak tertarik ya masuk islam,, hehe,,

    • Iya betul sekali ini adalah tulisan bersambung dari sebelumnya. Hmm, kalau yang namanya Islam kan tidak pernah memaksa kehendak jadi kita tetap toleran dengan sesama🙂

  6. Membacanya, semakin membuat saya meneguhkan keinginan semoga suatu saat dapat mengunjunginya, bersujud di sana…

    • Amin Ya Rabb, semoga itu bisa terwujud ustadz🙂

  7. Kalo udh ke Banda Aceh, kurang lengkap rasanya kalo gak memakmurkan mesjd yg satu ne.

    • betul sekali, karena yang namanya daya tarik itu apalagi rumah Allah akan kentara dengan semangat (soal) orang Aceh begitu pula dengan orang di luar Aceh🙂

      • Ia, Mesjid Raya banyak mencatat sejarah Aceh, dan salah satunya yg b.Aulia tulis ttg tewasnya Jendral Belanda

      • Hingga kini saya belum tahu pasti kronologi kematian itu, masih terus mencari. Walalupun kadang sumber dari orientalis harus benar-benar kita saring biar tidak ada pembelokan stir sejarah yg begitu tajam😀

  8. Ya,, tp setidaknya mereka tergugah masuk islam karena lebih sering dengar ceramah subuh, dengar khutbah jumat, daripada yg tidak tinggal di sekitar mesjid raya,,

    • jangan sampai seperti yg bilang orang tua bilang, kadang mereka dengar ‘lage cina eu saman, teuhah abah’ :LOL:

  9. wuih keren nih datanya..ijin book mark dulu yah Kaka..

    • Ini datanya jadul, tapi bisalah untuk dikomparasi dengan data sekarang kok😀

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: