Saat Anak Muda Ingin Mengubah Dunia


gambar hanya sebagai ilustrasi saja tanpa membeda-bedakan suku dan bangsaBULAN Oktober baru saja kita lalui, bulan yang begitu identik dengan sebutan “Bulan Bahasa” di Indonesia dan juga paling banyak dikenal oleh muda-mudi dengan semangat “Sumpah (Ikrar) Pemuda”. Dan tak lama lagi pula, tahun baru Islam juga akan berganti seiring pergantian waktu, yakni Muharram.

Ada kesan bahwa tulisan ini ingin saya tuliskan pada bulan Oktober lalu, namun apa daya kesempatan belum berpihak pada saya. Tapi yang namanya minat untuk menulis itu tidak pernah tersia-siakan dan mungkin inilah waktunya untuk kembali lagi.

Sejenak mengingat bulan bahasa yang baru lewat, saya sempatkan untuk membaca tulisan dari mas Ivan Lanin yang bercerita tentang “Penguatan Bahasa Indonesia di Dunia Internasional“, jujur saya pun tertarik dengan tulisan tersebut hingga membaca hingga akhir dan terenyuh pada sebuah kisah kecil alias penutup dari tulisan tersebut tentang ikhtisar saat seorang pemuda ingin mengubah dunia. Mungkin bisa saya kutip seperti ini:

Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini. Maka aku putuskan untuk mengubah negaraku saja.

Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku.

Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Ternyata aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.

Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.

Memang kisah ini telah banyak kita tahu, dan tidak menutup kemungkinan malah menjadi sebuah cerita yang masuk dalam kategori motivasi. Dan hanya saja, kisah singkat ini sebagai bentuk penyesalan dimana waktu yang terus berlalu dan sangat erat kaitannya dengan anak muda malah tersia-siakan begitu saja.

Kita tahu, perkembangan dunia saat ini begitu luar biasa. Setiap pergerakan dari hari ke hari terus saja terjadi, bahkan hal kecil seperti bahasa saja banyak yang sudah tidak tahu akan hakikatnya lagi. Populernya jejaring sosial dan tren teknologi yang saban hari menjadi permainan (alat komunikasi) anak muda telah membiaskan jati dirinya sebagai generasi penerus bangsa. Bahasa, alat komunikasi yang selalu digunakan saja masih begitu tercecer dikalangan anak muda.

Makanya saya pun sering berpikir, hal-hal kecil seperti ini saya terapkan dalam kehidupan, baik di dunia nyata atau pun dalam dunia maya. Dalam 140 karakter untuk berkicau saja berbahasa menjadi begitu sepele, mencampuradukkan bumbu-bumbu yang dianggap sedang tren, dan masih banyak lainnya.

Lewat media blog seperti inilah kadang berbahasa harus benar-benar diperhatikan. Apa jadinya jika media kecil seperti ini saja kita belum mampu mengenal diri kita sendiri. Jauh sebelum kita berbagi banyak untuk orang lain, justru kadang kita merusaknya sendiri. Ya, seperti cerita di atas yang telah kita baca tadi.

Memang mengubah hal-hal yang demikian bukan perkara semudah membalikkan telapak tangan, harus dibarengi tekad dan niat serta kemauan dan aplikasinya dalam kenyataan, kalau tidak mampu sendiri ya tentu secara berjamaah.

Kegiatan blogging memang sudah menjadi rutinitas saya sejak beberapa tahun silam, baru kemarin saja Aceh Blogger Communiy (ABC) memperingati Hari Blogger Aceh dan rasa-rasanya memang itu tidak ada apa-apanya. Jika memang cuma semangat untuk nge-blog hanya masih dilakoni oleh segelintir orang, namun sungguh akan terasa jika ada sesuatu yang dilakukan bersama bisa berbuah pada konsistensi pula, yakni menulis.

Sebagai bentuk semangat dari Hari Blogger Aceh itulah ABC memberikan kesempatan bagi adik-adik SMA serta sederajat di Aceh untuk ikut serta dalam sebuah kesempatan menuliskan Aceh di blog. Semoga saja anak muda sebagai generasi selanjutnya tidak pernah tinggal diam untuk berbuat, menyemangati dalam setiap kebaikan, memperbaiki yang memang dirasa ada kurang. Karena perubahan berawal dari pribadi itu sendiri.[]

Happy Blogging!

42 Responses

  1. oiya kapan ya saya bisa mengubah nasip ku menjadi milyader hehe

    • Berusahalah sungguh-sungguh, pasti bisa😀

  2. sangat menginspirasi
    http://www.duniapemuda.tk/

  3. pada generasi mudalah bangsa ini akhirnya berharap

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: