• Kicauan Terakhir

    • RT @ompian: Melek internet rupanya tak terbatas bagi penderita gangguan jiwa, paket internet lebih penting daripada makan, katanya. 7 hours ago
    • RT @iloveaceh: Gajah Sumatera yang hidup di Hutan Leuser, merupakan Satwa yang harus dilindungi agar tetap terjaga kelestariannya #CareLeus7 hours ago
  • Baca Juga

  • Komentar Anda

    Aulia Fitri on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Mesin oven on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Aulia Fitri on The Light of Aceh – Caha…
    mengejarmimp1 on The Light of Aceh – Caha…
    androidtechnicia on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Safprada on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Aulia Fitri on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
  • Arsip

  • Kategori

  • Para netter yang doyan ke OWL

    Aulia87.wordpress.com website reputation
    MyFreeCopyright.com Registered & Protected

Riwayat Lain Masjid Raya Baiturrahman


Foto Masjid Raya Baiturrahman malam hariKISAH ini sebenarnya sudah sering atau pun banyak kita baca dan dapat dari berbagai referensi, namun tidak salahnya simbol kekuatan rakyat Aceh, Masjid Raya Baiturrahman (MRB) akan selalu unik dan menarik untuk digali yang begitu erat kaitannya dengan sejarah Aceh dan sampai-sampai Johan Harmen Rudolf Köhler salah satu Jenderal Belanda harus mengakhiri hidup di masjid ini.

Tulisan ini pernah dimuat di Almanak Umum 1959 penerbit “Atjeh Press Service” Kutaradja, yang ditulis oleh Tgk Haji Hasan yang dalam pengantaranya mengatakan bahwa tulisan tersebut merupakan selayang pandang tentang Baiturrahman, dan nantinya diharapkan bisa menjadi bahan masukan atau pun untuk penyelidikan lebih mendalam bagi penulis sejarah Aceh pada umumnya dan penulis sejarah masjid-masjid pada khususnya.

Maka dari itu, untuk memudahkan penulisan ulang ini saya pun sedikit sekali melakukan suntingan, terkait beberapa tulisan ejaan lama serta pemberian keterangan untuk waktu dan lainnya.

Kondisi Masjid Raya Baiturrahman pada tahun 1913Sebelum Masjid Raya yang sekarang didirikan, pada tempat itu juga lebih dahulu didirikan Baiturrahman (Baitur-Rachman) oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M (menurut Tegas keluaran Kamis, 8 Agustus 1958 No. 8 tahun ke-7 Baiturrahman didirikan oleh Sultan Alaidin Mahmud Syah kira-kira pada tahun 1292 M). Masjid ini merupakan benteng kaum muslimin dan dengan megahnya hingga tahun 1290 H.

Pada waktu sore hari, Kamis tanggal 11 Safar 1290 H bertepatan dengan 10 April 1873 M terjadi pertempuran sengit dan dahsyat antara kamu muslimin dengan tentara Belanda. Masjid ditembaki dengan peluru-peluru api dengan hebat sekali, akhirnya masjid itu terbakar dan dengan memanjat tembok sekitarnya (tentara Belanda) tempat itu dapat dikuasai.

Setelah beberapa tahun pasca-terbakar masjid tersebut, maka dalam kunjungan ke Aceh pada pertengahan bulan Safar 1294 H (Maret 1877 M) untuk meninjau suasana, Gubernur Jenderal Van Lansberge dalam pidatonya mengulangi janji Van Swieten, bahwa Masjid Raya akan didirikan kembali. Kemungkinan sekali pernyataan tersebut disebutkan oleh Lansberge setelah mendapat kesan dari hasil musyawarahnya dengan kepala-kepala negeri, bahwa pengaruh Masjid Raya sangat besar dalam jiwa rakyat Aceh, dan kejadian terbakarnya tersebut menjadi pukulan dan tekanan yang sebesar-besarnya terhadap agama.

Untuk menepati janji tersebut, pemerintahan militer Belanda Jenderal Mayor Vander Heijden menyuruh Tgk Qadhi Malikul Adil meletakkan batu pertama untuk masjid sebagai ganti yang telah terbakar. Perletakan batu pertama ini jatuh pada hari Kamis, 9 Oktober 1879 M dan selesai dikerjakan pada tahun 1299 H (1881 M).

Masjid Raya dengan 3 kubahPada tahun 1935 M, masjid diperbesar dengan dua ruangan kanan dan kiri, di atasnya pun masing-masing dibuat sebuah puncak (kubah). Dengan demikian Masjid Raya setelah diperluas telah memiliki 3 kubah, perluasan ini dikerjakan oleh B.O.W (Jawatan Pekerjaan Umum) sendiri di bawah pimpinan Ir. M. Tahir. Adapun biaya yang dikeluarkan untuk perbesaran ruangan tersebut sebesar f. 35.000 gulden yang berasal dari Pemerintah Belanda.

Di masa kependudukan tentara Jepang di Aceh, tidak ada terdapat perubahan apa-apa pada masjid ini sampai mereka meninggalkan daerah ini. (bersambung)

19 Responses

  1. belum pernah ke Aceh😦

    • ayo ke Aceh, kapan lagi nih bisa jalan-jalan dan melihat masjid Raya🙂

      • kalau ada kesempatan pasti akan mampir kesana

  2. Lamanya sejarah berjalan, saksi-saksi bisu menjadi pengantarnya

    • Betul, saksi bisu yang kadang mesti kita telusuri dari berbagai sumber-sumber yang terlewati🙂

  3. Sangat bersejarah ya, Mas, Masjid Raya Baiturrahman.

    • Betul ustadz, dan masih ada kelanjutan kisahnya nanti akan saya tuliskan lagi🙂

  4. Bersambung…

    • Jangan lewatkan sambungannya ya😉

  5. Usai dibangun, masjid tak langsung digunakan oleh masyarakat Aceh, dengan alasan yang membangunnya adalah musuh orang Aceh. Menurut Tengku Ameer Hamzah yang menjadi penceramah di masjid raya ini dan sekaligus juga pemerhati sejarah Islam di Aceh, sekitar 10 tahun masjid tersebut tak dipergunakan usai dibangun Belanda. Cerita ini didapat Tengku Ameer Hamzah dari mantan Gubernur Aceh, alm. Ali Hasjmy (1957 – 1964 ). Karena tak pernah dipakai dan dibiarkan terlantar, akhirnya Belanda menjadikan masjid sebagai bar. Meski begitu, Belanda terus mencari celah untuk membujuk rakyat Aceh agar mau mempergunakan masjid tersebut. Sampai pada akhirnya, tahun 1893, Belanda berhasil membujuk rakyat Aceh untuk menggunakan masjid tersebut sebagai tempat ibadah, melalui dua ulama Aceh, Tuanku Raja Keumala dan Teungku Hasan Krueng Kalee.

    • Terima kasih atas informasi sejarah tambahan ini dan semoga bisa berguna sebagai referensi ilmiah untuk mendatang🙂

  6. […] masih merupakan kelanjutan dari kisah sebelumnya tentang “Riwayat Lain Masjid Raya Baiturrahman” yang dikutip dari Almanak Umum 1959 dari berbagai sumber yang diperoleh oleh penulis Tgk […]

  7. wah seru nih😀

    • Ayo ke Aceh teman-teman di kota Gudeg🙂

  8. Reblogged this on CATATAN KAKI.

    • Terima kasih dek Tiara sudah di Re-Blog lagi dan kelanjutan sambungannya ada disini ya🙂

  9. […] Sementara pada saat serangan Belanda ke Aceh adalah terbakar karena serangan yang datang secara bertubu-tubi, sehingga membuat yang membuat harta benda serta dana yang ada di masjid juga ikut terbakar tanpa bisa terselamatkan. (Baca juga Riwayat Lain Masjid Raya Baiturrahman) […]

  10. Meski postingan tahun, tapi tetap update. Terima kasih untuk ulasan sejarahnya, jadi lebih kenal lagi dengan Masjid terbesar di Aceh ini.

    • Mari berkunjung ke Aceh🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: