Senja di Balik Masjid Baiturrahim Ulee Lheue


Matahari terbenam dibalik bangunan masjid Baiturrahim (Dok. Pribadi)BULAN Ramadhan hanya tinggal beberapa hari lagi, hampir sebulan penuh kita merasakan bulan yang penuh berkah ini. Pintu-pintu langit yang senantiasa terbuka, untuk kita memohon segenap ampunan kepada-NYA dan semoga separuh kemenangan telah kita raih dan finalnya nanti kita bisa kembali menjadi hamba-hamba yang bertaqwa dan memperoleh lembaran suci lahir dan batin.

Masjid adalah sarana yang begitu pas dalam mengisi Ramadhan, namun kali ini saya juga sedikit bergumam ketika kembali bertandang ke Banda Aceh untuk menikmati sejenak bulan puasa disana. Masjid Baiturrahim sudah pernah saya angkat dalam blog ini, yang namanya kekuasaan Allah itu tetap selalu menjaga rumah-rumah sucinya ini.

Siang itu matahari di Banda Aceh memang begitu terik, angin-angin pun tidak hentinya. Ada saja gemulai dedaunan selalu menari dibalik sengatan matahari. “Sore ini kemungkinan matahari terbenam akan kelihatan indah,” gumam saja dalam hati.

Hanya ada satu tempat yang melintas di pikiran, ya itulah dia Pantai Ulee Lheue yang begitu terkenal hingga ke mancanegara bahkan pada saat Belanda datang menyerang ke Aceh pertama kali bulan April 1873 yang mendarat di Pantai Ceureumen (Cermin).

Akhirnya hajat menikmati senja pun tiba, melintasi keramaian penjual menu berbuka di jam-jam padat sore hari begitu terasa Ramadhan di Aceh. Ya, inilah Aceh dengan segenap kebiasaan dan tradisi yang tak pernah lekang untuk dinikmati dan dikenang di bulan puasa.

Sekira pukul 18.30 WIB, matahari masih begitu gagah di ufuk barat. Sesekali berlomba dengan gelapnya awan hitam yang berteduh di Ujung Pancu. Berbekal dengan ie teube (air tebu) dingin sebagai pembatal puasa nanti, spot menarik pun mulai dicari.

Portal melintang telah lama dijejalkan tepat di depan masjid Baiturrahim, itu pertanda jalan ke ujung pelabuhan Ulee Lheue tidak bisa diakses. Memutar ide, melihat celah, sebuah lorong sepi diantara kerumunan rumah warga, nah ini dia jalan yang mesti dilalui untuk melihat Kuasa Tuhan.

Akhirnya, angin santai serasa di pantai tergapai sudah. Suara sirene tanda berbuka pun terdengar. Ah, tidak ada yang lebih indah sembari melihat bayang-bayang matahari tenggelam ditemani ie teube manis yang begitu melegakan. Nikmat mana lagi yang kita dustakan? Sembah sujud Maghrib dalam kedamaian di Masjid Baiturrahmin lengkap sudah.[]

10 Responses

  1. Minal aidin wal faidzin..
    maaf lahir yaaa🙂

    • sudah lebaran saja, mohon maaf lahir batin juga ya kak Dawiah🙂

  2. maaf lahir bathin ya Aulia
    aku udah pernah mampir ke sini😉

    • Sama-sama wahai perempuan Keumala. Kalau ke Banda Aceh tidak mampir dan melihat sunset di Ulee Lheue itu belum afdhal😀

      • ahaaaa …waktu ke sana lagi angin badai, Ulee Lheue ditutup. lain kesempatan pasti akan menikmati sunsetnya😉

      • Memang untuk mencari dan mendapat sunset itu saya juga baru sadar, ternyata tak semudah yg biasanya, hujan dan badai serta terik matahari jadi satu😀

  3. Ah Ramadhan berakhir, semoga dipertemukan lagi tahun depan.
    Mohon maaf lahir batin ya.😀

    • Amin, semoga kita bisa kembali bersua dan diberkahi umur hingga Ramadhan tahun depan ya mas Arip🙂

  4. minal aidhin walfaidhin mohon maaf lahir dan batin…🙂

  5. subhanallah…….

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: