• Kicauan Terakhir

    • RT @ompian: Melek internet rupanya tak terbatas bagi penderita gangguan jiwa, paket internet lebih penting daripada makan, katanya. 7 hours ago
    • RT @iloveaceh: Gajah Sumatera yang hidup di Hutan Leuser, merupakan Satwa yang harus dilindungi agar tetap terjaga kelestariannya #CareLeus7 hours ago
  • Baca Juga

  • Komentar Anda

    Aulia Fitri on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Mesin oven on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Aulia Fitri on The Light of Aceh – Caha…
    mengejarmimp1 on The Light of Aceh – Caha…
    androidtechnicia on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Safprada on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
    Aulia Fitri on Indonesia Bisa (Menang) di Wor…
  • Arsip

  • Kategori

  • Para netter yang doyan ke OWL

    Aulia87.wordpress.com website reputation
    MyFreeCopyright.com Registered & Protected

Peranan TI dan Jejaring Sosial dalam Pariwisata


Foto ilustrasi dari blogspot.com - Aceh FocusSUDAH menjadi hal lazim jika kita berkunjung ke Aceh, khususnya ke Banda Aceh akan dengan mudah menemukan jaringan internet yang tersebar dimana-mana. Mau di warung kopi, cafe, restoran, tempat umum atau publik seperti taman kota, ‘radiasi’ jaringan terasa betul.

Meningkatnya pengguna internet atau disebut netizen di Banda Aceh tentu menjadi salah satu nilai tambah dalam memajukan sektor pariwisata atau ekonomi masyarakat, baik itu dari sisi fasilitas maupun infrastruktur.

Namun secara umum tingkat kemajuan itu bisa dalam bentuk perencanaan, pengelolaan, dan peremajaan dari pengguna (netizen) sendiri untuk membuat (create) sesuatu yang berguna, tidak saja bagi diri sendiri, komunitas, melainkan juga bagi lingkungan sekitar.

Seperti kita ketahu, akhir bulan April lalu Pemerintah Kota Banda Aceh dihadiahkan dengan Indonesia Digital Society Award (IDSA) 2013 yang dinilai oleh MarkPlus Insight dan didukung oleh PT Telkom, menempatkan Banda Aceh menjadi salah satu kota dari 6 kota di Indonesia sebagai kota digital, baik untuk overall society dan community.

Kategori Overall Society diterima Kota Banda Aceh dinilai berdasarkan pengisian Angket Potret Digitalisasi oleh Pihak Pemerintah Daerah Tingkat II. Serta survei Computer Aided Telephone Interview (CATI) yang dilakukan terhadap empat pihak yaitu lembaga pendidikan, lembaga pelayanan kesehatan, UKM swasta, dan masyarakat di 99 Daerah Tingkat II. Survei ini melibatkan sekitar 17.500 responden.Sedangkan kategori Community dinilai berdasarkan kota/kabupaten yang memiliki masyarakat dengan indeks digital paling tinggi. (Banda Aceh, 30 April 2013)

Mengutip dari The Marketeers, adapun kriteria penilaian IDSA tersebut berdasarkan pada empat aspek yang meliputi: 1) Initiative dalam hal penilaian terhadap perencanaan ICT; 2) Leadership, yakni penilaian terhadap upaya perwujudan rencana ICT tersebut; 3) Usership yang dinilai tingkat penetrasi dalam bentuk jaringan internet tetap, jaringan internet mobile, dan penilaian penggunaan internet; dan 4) Benefit, yakni penilaian terhadap manfaat yang dinikmati dalam menggunakan internet.

Penguatan Infrastuktur

Secara infrastruktur seperti yang sudah dijelaskan di atas, adanya jaringan hotspot atau Wi-Fi dimana-mana dengan bantuan PT Telkom memang tidak serta merta meninggalkan prospek pelaku bisnis semisal warung internet yang semakin hari semakin menurun. Bukan saja itu, pengaruh adanya koneksi jaringan di warkop-warkop juga bisa membuat warnet tidak bertahan sehingga faktor ini juga mempengaruhi dalam sektor pariwisata.

Foto dari telsetnews.comAdanya penguatan dan standarisasi dari Pemkot Banda Aceh untuk menjaga warnet bisa bertahan tentu bisa disulap dengan berbagai cara, jika ditelisik lebih lanjut bukan tidak mungkin sesuatu yang berhubungan promosi wisata juga bisa dimulai di warung-warung internet dengan langkah positif yang sehat tentunya.

Semangat “Ciber City”, ya itulah langkah yang kini sedang dilakukan oleh Pemkot Banda Aceh dengan gebrakan yang menyentuh langsung masyarakat, seperti rencana gampong (desa0 pintar yang terhubung ke internet juga memilik dampak baik ke depan. Dari situ pula informasi wisata dan sumber daya serta ekonomi bisa mulai diangkat ke masyarakat atau publik.

Namun, kita juga tidak bisa menafikan kehadiran warkop yang dengan swadaya menggandeng PT Telkom secara umum untuk mengisi infrastrukturnya (jaringan internet) harus terus dibina dengan baik, disini kita menemukan hubungan segi tiga (Warkop, Pemkot, Telkom) yang saling mendukung. Dengan cara apa? salah satunya bisa dengan memberikan apresiasi kepada pemilik warkop di Banda Aceh, dan lainnya.

Perlu Eksistensi

Komunitas, masyarakat, harus benar-benar dirangkul untuk membangun eksistensi selain mengubah birokrasi yang mungkin selama ini masih dikenal terlalu ribet salah satunya adalah dengan mendengar ide, masukan, dan mengeksekusi secara realita.

Ilustrasi dari traveldailynews.comHadirnya media sosial, Facebook, Twitter, blog, merupakan kekuatan yang besar dalam membangun potensi dalam mengenalkan wisata. Salah satu jurusnya jika Pemkot yang diwakili oleh Dinas Pariwisata adalah selalu meng-update berita dan seputar event yang berjalan. Ini merupakan cara publikasi yang paling mudah, jika belum mampu sendiri tentu bisa menggandeng komunitas yang bergerak daring (online), seperti blogger, traveler, dsb.

Bukan komunitas atau masyarakat daring saja, yang offline pun tidak kalah pentingnya. Dari sini pula banyak informasi yang bisa digali, baik itu penjelajah yang suka pergi ketempat-tempat yang belum banyak diketahui orang dan akhirnya bisa dijadikan destinasi baru untuk menggaet wisatawan hadir ketempat tersebut.

Selain itu juga perlu re-branding dalam mengenalkan sektor pariwisata yang mudah hilang dari publik, hal ini demi menguatkan tujuan wisata itu sendiri. Bukan tidak mungkin, proses re-branding juga dimulai dari kekuatan teknologi informasi, dengan kolaborasi beberapa elemen di atas tadi.

Sebut saja contoh situs baru Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan nama “Wonderfull Indonesia” yang beralamat indonesia.travel, bisa jadi acuan utama dalam meningkatkan eksistensi situs pariwisata di Banda Aceh atau daerah lainnya. Mengingat konsep yang ditawarkan situs resmi Kemenparekraf ini secara tidak langsung telah menggabungkan beberapa elemen untuk membuat orang (pengunjung) selalu ingin melirik, karena berisi sesuatu yang baru dan berbeda dari olahan pengalama dan sudut pandang netizen itu sendiri.

Selain dua hal di atas, tentu masih banyak sekali faktor-faktor yang bisa mengembangkan sektor pariwisata terus maju dari lingkup penggunaan teknologi informasi dan pemanfaatan jejarng sosial secara memadai. Sesuatu yang dikemas dengan baik, belum tentu menghasilkan yang baik disaat hal tersebut tidak dikembangkan dan dikupas secara baik pula.

Sekilas Program PLIK

Mobile PLIK foto dari kpu-usokreatif.comKementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sendiri telah mengatakan bahwa hingga saat seluruh daerah di Indonesia sudah terjangkau jaringan internet. Penetrasi layanan internet didapat dari program Mobile Pusat Layanan Informasi Kecamatan (MPLIK) yang terbangun di 5.748 titik dan program PLIK di 1.800 titik yang tersebar di seluruh Indonesia. Menurut Tifatul Sembiring program MPLIK ini bertujuan untuk mengejar ketertinggalan akses internet warga yang tinggal di daerah. Dengan layanan internet kecamatan yang bersifat bergerak dengan keunggulan aman, cepat, murah, dan sehat, daerah yang belum terjangkau internet bisa dilayani MPLIK. Sementara layanan akses internet tidak bergerak, dilayani program PLIK di kantor kecamatan.

Kemenkominfo juga menargetkan dari 250 juta penduduk Indonesia, separuhnya bisa memiliki akses terhadap internet dan terhubung secara online di dunia maya. Keputusan itu diambil sesuai kesepakatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa pada 2003 yang menargetkan pada 2015, sedikitnya 50 persen masyarakat di negara anggota PBB harus terbuka informasinya. (Republika, 4 Mei 2013)

Dana yang digunakan pun tidak tanggung-tanggung oleh Kemenkominfo untuk memenuhi fasilitas penunjang serta sarana komputer. Hingga kini, dana yang terkumpul mencapai Rp 2,9 triliun dan baru dipakai Kemenkominfo sebesar Rp 900 miliar.[]

Rujukan dan Bahan Pendukung

  1. Regularasi Internet Global Menurut Netizen Aceh
  2. Statistik Pariwisata Maret 2013, BPS Aceh
  3. Statistik Pariwisata Aceh, BPS Aceh
  4. Masyarakat Informasi & Teknologi Indonesia
  5. Data Warnet 2012 di Banda Aceh, Dishubkominfo Banda Aceh
  6. Pengaruh Teknologi Informasi Dalam Pariwisata

16 Responses

  1. wah mantap… (y)

    • cuma mantap aja nih bang Syharu dan terima kasih ya sudah berkunjung🙂

  2. secara tidak langsung, Banda Aceh jadi kota siber lah ya…
    semoga gk cuma di pake buat maen poker sama………….😀

    • Facebook ya hahaha
      Semoga bisa lebih baik🙂

  3. siip, cyber era🙂

    • sip dah bu kak Mila🙂

  4. Banda Aceh akhirnya mendapat peringkat 6 di Indonesia menjadi cyber city, hebat.

    • tentu menjadi prestasi bagi semua kalangan pegiat dan netizen digital di Banda Aceh🙂

  5. salam kenal gan ! infonya sangat bermanfaat dan harapan kita Banda aceh di tahun berikut akan terus meningkat peringkatnya sebagai cyber city.

    • terima kasih bedak atas kunjungannya, dan semoga harapan itu bisa terus terwujud ke depan🙂

      • Amin..

  6. Banda Aceh emang dah bisa dibilang kota cyber bang,, Bahkan di warkop kecil pun udah dipasang internet.. Mantap..
    Salam kenal bang,,

    • salam kenal kembali Rizky dan semoga sukses dengan situs barunya Aneuk Ingoe ya, kreatif🙂

  7. i like your article and your thought in this posting.

  8. artikel ini menarik dan bisa menambah wawasan baru, salam kunjungan

    • terima kasih romeo sudah berkunjung🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: