Semangat Kreatif Anak Muda


Fajar sedang bermain handphone usai pangkat rambut (Dok. Pribadi)MATAHARI siang itu masih ‘ganas’ saudara, yah karena masih tepat pukul satu siang. Cuaca yang cerah tentu begitu kentara mengitari kota kecil Matangglumpangdua.

Mengingat rambut yang sudah subur harus segera dipangkas, dalam terik matahari pun saya bela-bela untuk mencari sang pemangkas. Ke arah selatan pertama saya gas sepeda motor, ternyata sang pemangkas masih sepi. Tak lama berbalik arah 180 derajat, giliran utara barangkali ada orang baru yang bisa saya dapati untuk mencincang rambut hitam ini.😀

Kecepatan motor pun mulai saya pelan-pelankan, sambil mencermati deretan toko mana yang tidak ramai pelanggan. Dan akhirnya tibalah pada deretan toko anak muda, yang bisa dibilang masih berumum 20-21 tahun.

“Pangkas rambut bang?”, disapa oleh seorang pria yang mukanya sangat familiar. “Iya”, jawab singkat saya.

Pria itu adalah adik kelas saya dulu saat SMP, Fajar namanya. Sebelum prosesi gunting-guntingan saya udah menyangkal kenapa Fajar beralih profesi, kalau tidak salah dia masih status mahasiswa di perguruan tinggi di Matangglumpangdua.

Perbincangan pun berlanjut dengan rasa ingin penasaran, “sejak kapan sudah mulai pangkas rambut,” tanya saya santai sembari dia melengkapi asesoris untuk siap-siap diproses dengan ragop (alat untuk memotong rambut).

“Saya NA (non-aktif) dua tahun bang. Dari situlah saya mulai tekuni untuk belajar memangkas rambut. Dan kini sedikit-sedikit saya sudah bisa dan mencoba,” jawabnya dengan jelas.

Spontan saya pun berpikir, “lalu bagaimana dengan kuliahnya sekarang,” pikir saya dalam hati.

Fajar juga menambahkan, sejak 2 tahun lalu cuti dari kampus. Kini aktifitasnya di keude adalah hidup mandiri untuk mencari penghasilan sendiri lepas dari orang tua. “Sekarang ya seperti inilah bang, kuliah sudah saya lanjutkan lagi dan usaha pangkas rambut juga tetap saya jalankan,” kata Fajar yang kini menumpang di toko kecil temannya tersebut untuk menjalankan usaha memangkas rambut.

Dan cerita pun terus berlanjut, hingga kepala saya sudah cepak dengan ukuran 2 centimeter. Tidak saja jago memangkas rambut, Fajar pun tahu cara merefleksikan diri pelanggannya dengan baik seperti mengurut kepala, dan sebagian wajah.

Akhirnya saya pun teringat dari kisah yang dilakoni oleh Fajar, banyak hikmah untuk bisa menjadi kreatif. Walaupun terbilang muda, dia tidak ada rasa pesimis, dari raut wajahnya tetap energik untuk menjadi pemuda mandiri. Tidak terlihat keluh kesah susahnya mencari penghidupan di atas kaki sendiri.

Satu hal lagi, saya juga baru teringat untuk memulai memangkas rambut dia telah menyisihkan waktunya 2 tahun agar benar-benar bisa seperti saat ini. Ini luar biasa, intinya apa yang ditekuninya tidak setengah-setengah alis cilet-cilet. Sukses terus Fajar![]

20 Responses

  1. Jadi pengen gondrong.
    Salam

    • gondrong itu bikin nyesek pas motongnya mas😀

      salam kenal kembali🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: