Keberadaan Allah di Setiap Kejadian


Ilustrasi dari ruanghati.comINI sebenarnya tulisan lama, tulisan yang dari tahun 2010 masih berbekas di draft blog ini. Saya juga sudah tidak tahu persis akan arah atau isi judul ini, tapi setidaknya dulu sempat terpikirkan bahwa keberadaan Sang Pencipta itu memang tidak lepas dari sisi kehidupan yang terus kita jalanani saat ini.

Dalam setiap detik yang terlewatkan, dicela-cela udara yang kita tarik hingga menghembusnya, selalu ada keberadaanNYA.

Lewat judul ini pula yang kembali tersirat, teringat waktu Jum’at kemarin tentang topik khutbah yang disampaikan oleh sang khatib di atas mimbar tentang malu.

Rasa malu dan jati diri, inilah dua kata yang kadang bisa melepaskan iman dalam dada. Tidak perlu jauh-jauh kita melihat kondisi bangsa, yang terkadang dekat sekali dengan pribadi kita mulai goyah untuk seutai kata malu, mulai pongah dengan rasa-rasa malu.

Padahal jelas sekali, setiap perbuatan dan pekerjaan yang kita lakukan terus dipantau olehNYA. Keseringan dalam hidup ini kita mengingatkan akan budaya untuk malu, tapi jauh dari itu pribadi kita sendiri malu untuk melakukannya.

Betapa mudah pemimpin mengumbar janji saat dirinya mencalonkan diri, betapa mudahnya juga mereka lupa akan janji-janjinya tanpa rasa malu.

Betapa banyak orang-orang yang bisa berpindah pendirian, disaat sesuatu suruhan agama tidak dindahkan lagi. Yang sepatutnya malu, kini dibanggakan dan sebaliknya.

Intinya mulailah dari diri kita yang paling kecil, keluarga kita yang paling dekat, dan lingkungan sekitar yang mudah dijangkau. Saling memberi dan mengingatlah dalam kebaikan, bukankah dalam banyak hadist sering kali diingatkan bahwa malu itu sebagian dari iman.

Tingkatan iman itu yang paling tinggi Laa ilaaha Illallah dan yang paling rendah adalah memindahkan duri dan malu. Jadi, ingatkan diri untuk terus berubah dengan segala kebaikan, tidak perlu malu menjadi muadzin, tidak perlu malu membantu orang tua menyebrangi jalan, dan ambillah malu jika membuang sampah sembarangan.

Tidak perlu terlalu jauh mengandai-andai, kalau ada hal yang paling kecil bisa kita lakukan. Ingatkan selalu yang di atas, karena DIA begitu dekat dengan kita.[]

8 Responses

  1. duh… mudah2an gak jadi orang yg malu2in. apalagi sampai bikin malu ortu…

    • jangan sampai ya mas ryan🙂

  2. Kita berharap supaya masih punya rasa malu…

    • benar, jika tidak ada lagi rasa itu pertanda dunia akan semakin cepat berakhir

  3. …tidak perlu malu menjadi muadzin, tidak perlu malu membantu orang tua menyebrangi jalan, dan ambillah malu jika membuang sampah sembarangan.

    Kalimat di atas sungguh mengena, boleh saya jadikan nasehat untuk diri sendiri, ternyata selama ini banyak rasa malu yang tidak ditempatkan pada tempanya. Nice share, Brader.

    • salam kembali tuan Adan, dari kita untuk sama-sama mengingatkan sesama🙂

  4. rasa malu itu ada tp jangan sampai deh kalu malu2in.

    • Maka dari itu budayakan malu dalam lingkungan kita, malu kepada hal-hal yang tidak mengadung kebaikan bagi kita dan juga sekeliling🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: