Lewat ‘Salam’, Kita Diajarkan Arti Sebuah Kedamaian


salam

KETIKA kita belum banyak tahu, kita akan mencari tahu. Nah, begitulah yang sering terjadi disaat kemampuan kita terbatas, padahal kapasitas input yang bisa kita terima belum tentu bisa muat lebih banyak dalam menerapkannya.

Jum’at (5 September) kemarin, khutbahnya memang terbilang familiar, karena apa? karena topik itu tentang salam. Salam ini dalam artian sebagai tanda akhir dari pelaksanaan shalat dan salam pada umumnya.

Sekilas ketika kita membaca atau melafazd Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh memiliki arti yakni, semoga kedamaian dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dari Allah dan juga barakah dari Allah untukmu.

Ada kata-kata damai disini, damai yang bagaimana? pastinya damai dalam setiap sisi kehidupan, pribadi, sampai pada lingkungan sekitar.

Kita tahu bahwa, bagi seorang muslim sehari semalam minimal ada 10 kali salam yang diucapkan pada akhir setiap shalat, belum lagi jika ada ibadah shalat sunnah lainnya.

Namun, seiring ritual shalat yang merupakan perintah tidak sedikit pula manusia yang hilang arah. Tawuran, pengrusakan, pengkroyokan sampai pada tingkat konflik pun bisa terjadi, yang artinya rasa kedamaian kita pribadi atau sekitar ini menjadi terusik.

Apa mungkin makna dan penghayatan orang-orang yang melakukan shalat hanya sebatas ritual semata? bahkan saudara seimannya kadang pun jadi terusik. Saling mendendam, benci dan memilah-milah diri mengingatkan bahwa ada kata Salam yang terabaikan dalam setiap perintahnya.

As-Salaam (Maha Sejahtera) adalah nama Asma-Nya dari sekian nama-nama keagungan lainnya. Betapa banyak kita (mungkin saya sendiri) lengah terhadap salam ini.

Ibnu Al-Arabi pernah mengatakan, “Tahukah kamu arti Salam? Orang yang mengucapkan Salam itu memberikan pernyataan bahwa ‘kamu tidak terancam dan aman sepenuhnya dari diriku.”

Sejauh mana kita menjaga salam dalam akhir penghambaan kita pada-Nya. Padahal kita tahu, orang-orang sering berteriak kata damai, sering menulis kata-kata damai di setiap sudut-sudut kota dan desa, tapi Islam jauh sebelum kedamaian yang dikenal orang saat ini telah mengajari kita pada setiap waktu sehari semalam 5 kali.

Padahal salam bukan saja sebatas kata kasih sayang, tapi lebih kepada kita menghayati dan berharap ridha untuk sama-sama saling menjaga dan dijaga. Begitulah yang digambarkan dalam gerakan kita mengakhiri shalat, menoleh ke kanan lalu ke kiri yang intinya mencerminkan dan menebarkan keselamatan untuk kita dan saudara kita.

Bukanlah memusuhi yang minoritas, mengucilkan mereka yang tidak se-iman, tapi artian salam menjaga akan kesejahteraan hidup di dunia.

Kita memang sadar bukan manusia 100% sempurna tanpa cacat, kadang kita sering khilaf ada rasa nafsu (emosi) yang berlebih. Maka tidak heran, wudhu dan shalat menjadi penenang hati. Jika itu (shalat, -pen) sudah dilakukan hati masih resah, mungkin ada sesuatu yang belum bisa kita nikmati dari shalat itu.

Caranya adalah belajar, cari tahu lagi disaat kita masih merasa terbatas akan ritual shalat hanya itu-itu saja barangkali apa yang kita cari untuk lebih tahu tidak akan ada kata terlambat, pelan-pelan diterapkan dan diamalkan. Bukankah niat dan amal yang baik akan memberikan dampak yang baik pula untuk kehidupan kita? tentu dengan demikian kita bisa lebih menjaga salam baik di dalam ibadah bahkan diluar shalat.

Semoga ini menjadi bagian dimana kita bisa saling mengingatkan sesama, dunia yang terasa panas akan sedikit demi sedikit kita redam dengan kesejukan dari salam yang sebenarnya kita telah diajarkan arti kedamaian bagi sekalian isi dunia. Wallahu’alam bish shawab

10 Responses

  1. tulisan ab bagus2 x, ssegan kita komennya :s

    • bagus atau tidaknya tulisan itu tidak berpengaruh sama komentarnya, mirip tagline di warung, anda sopan kami segan, nah baru itu😀

      padahal yang renyah dan gurih masih ada kok tulisan disini😆

  2. assalamualaikum
    lama tak menyapa lewat blog hehe… wah blommu tambah cakep niyy mbak.. semoga makin bagus dan bermanfaat..
    wassalam

    • wa’alaikumsalam
      eh saya dipanggil mba lagi sama mas Zakky😀
      terima kasih ya, cakepnya masih kurang kok mas😉

  3. Assalamualikum bang oya..

    • wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh dek Srya🙂

  4. salam mnmbulkan snyum bg org yg mndngarnya…

    • benar karena mulut akan bergerak sejalur dengan bunyi salam itu sendiri🙂

  5. Budayakan Salam, Senyum, Sapa

    • nah betul itu 3S namanya😀

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: