Merunut Tulisan Mr Hermawan Kartajaya tentang Aceh


BEBERAPA waktu lalu salah satu orang marketing yang diperhitungkan di Indonesia, Mr Hermawan Kartajaya menulis sedikit tulisan tentang Aceh yang tentunya berhubungan dengan dengan dunia marketing.

Menariknya, tulisan dengan judul Aceh, Rumah Besar yang Berpintu Kecil juga telah banyak ditulis ulang (re-write) oleh berbagai media online atau cetak, baik di Aceh atau lainnya.

Tentunya, sehari sebelum tulisan itu publish di Batam Pos saya menduga-duga kira-kira apa isi dari judul tersebut. Karena pada malamnya akun Twitter surat kabar Batam Pos telah mewanti-wanti bahwa ada tulisan utama yang menarik di halaman sekian dari pakar marketing Indonesia tersebut.

Tak kunjung lama, tulisan itu pun saya dapat. Singkat, padat, dan jelas begitulah yang saya tangkap awal dari tulisan yang kurang lebih sepanjang 10 paragraf tersebut.

Berselang sehari kemudian, salah satu mention masuk ke akun saya. Ternyata, ada salah satu rakan yang menanyakan tentang bentuk dari rumoh Aceh. Lalu apa hubungan tulisan pakar marketing ini dengan rumoh Aceh atau yang sering dikenal dengan rumah adat Aceh?

“Bicara rumoh Aceh ingat tulisan pakar marketing Hermawan Kartajaya “Aceh, Rumah Besar Berpintu Kecil” lihatlah filosofi pinto rumoh Aceh,” begitulah kurang lebihnya Tweet saya pada Sabtu, 22 September lalu.

“Aceh itu sering diumpamakan sebuah rumah besar dengan pintunya yang kecil. Kenapa? Karena masuknya susah. Tapi, kalau sudah sekali masuk, akan legaaaa….”, begitulah kalimat pembuka tulis CEO of MarkPlus Inc tersebut.

Pikiran saya pun melayang, pernah dalam sebuah ekspedisi bersama teman-teman Aceh Blogger saya mengunjungi salah satu rumoh Aceh yang berumur ratusan tahun di pedalaman Peusangan Siblah Krueng (PSK), Matangglumpangdua. Dari sinilah saya mencoba menilai dan melihat-lihat ada apa dan kenapa rumoh Aceh ini begitu unik.

Waktu itu, saya menulis postingan berjudul Rumoh Aceh Nasibmu Kini. Nah, dari sinilah saya mencoba merunut ternyata kesamaan dari judul tulisan Mr Hermawan Kartajaya erat berhubungan dengan pinto (pintu) rumah Aceh.

Kenapa bisa demikian? karena filosofi hidup masyarakat Aceh sudah bisa tergambarkan dari sisi kehidupan saat membangun rumah dulu. Percaya atau tidak, pinto rumoh Aceh itu bentuknya kecil sehingga susah untuk masuk atau naik ke dalam.

Jika Anda pernah ke Banda Aceh, cobalah mengunjungi museum Aceh. Salah satu replika rumoh Aceh disana bisa Anda lihat sendiri bentuknya. Seperti yang pernah saya tulis dulunya, untuk masuk pintu utama rumoh Aceh kita akan berhadapan dengan beberapa anak tangga yang terbuat dari kayu pada umumnya.

Untuk tingginya sendiri, pintu tersebut pasti lebih rendah dari tinggi orang dewasa. Biasanya tinggi pintu hanya berkisar 120 – 150 centimeter dan membuat siapa pun yang masuk harus sedikit merunduk atau menundukkan kepala dan punggungnya, konon makna dari merunduk inilah menurut orang-orang tua merupakan sebuah penghormatan kepada tuan rumah saat memasuki rumahnya, siapa pun dia tanpa peduli derajat dan kedudukannya.

Selain itu juga, ada yang menganggap pintu rumoh Aceh sebagai hati orang Aceh. Hal ini terlihat dari bentuk fisik pintu tersebut yang memang sulit untuk memasukinya, namun begitu kita masuk akan begitu lapang dada disambut oleh tuan rumah.

Padahal kita tahu, rumoh Aceh itu bisa dikategorikan rumah dengan tipe besar. Lebih lanjutnya Anda bisa baca tulisan Rumoh Aceh, bagaimana sudah nyambung dengan tulisan dari Mr Hermawan Kartajaya dan Rumoh Aceh? jika sudah berarti Anda telah tahu kurang lebih sedikit arti dari filosofi kehidupan orang Aceh terdahulu dan bahkan hingga kini.

Saya pun belum tahu, apakah Mr Hermawan pernah terilhami pada pinto rumoh Aceh ini, tapi setidaknya jika beliau pernah berkunjung dan masuk ke dalam rumoh Aceh, tentu akan tahu betul arti tulisannya tentang Aceh.

Intinya, mengenal Aceh tidak serumit yang kita kira. Bukan hanya memvonis lewat berita-berita yang tayang di media massa, tapi datang dan rasakan, bagaimana Aceh menghargai tamu untuk memasuki rumah yang penuh dengan pelajaran dari kehidupan terdahulu. Datanglah kemari, dan menarilah Saman atau Seudati.[]

Piyoh-piyoh, mulia wareh ranub lampuan, mulia rakan mameh suara.

21 Responses

  1. nenek moyang dahulu membuat rumah penuh dengan makna filosofis ya…. beda dengan rumah-rumah zaman sekarang…

    • rumah sekarang sudah batu, filosofinya pun sudah berbeda Ajo🙂

  2. Sangat setuju dengan paragraf terakhir!! Saya buktinya. Saya tamu dan saya betah di Aceh. Bahkan Aceh sudah saya anggap rumah sendiri. Hehe..

    • Peumulia jamee adat geutanyoe (memuliakan tamu adat kita)🙂

  3. wah .. saya belum pernah mengunjungi Aceh nih, hanya tahu sekilas lewat berita berita

    • berarti seumur hidup mesti direncanakan tuh mba ke Serambi Mekkah🙂

  4. rumahnya bagus sekali, apakah ini asli atau ilustrasi ?😀

    • Gambar rumahnya asli mba, kelilingnya itu ilustrasi saja🙂

  5. di kampung, liza juga masih punya rumah Aceh

    • iya tuh kalau dikumpulin sekarang kira-kira ada berapa ya sisa rumoh Aceh, bisa nih di data sebelum dahului sama BPS dan pihak purbakala😀

  6. jdi tw knapa pntu rmoh Aceh lbh rndah dripada pintu rmah skrg.
    saat saya desain rmah untk tgas kuliah, pntu rmah yg saya buat minimal 190 cm.
    jd- mklum aja klo skrg msk ke rmah gak pke tnduk. cma mengucpkan slam dan menyalami y pnya rmah.
    Yang pasti tlisan dri bang aulia sangat menginspirasi bgi siapapun yang membaca.
    smga trus sukses.
    assalam

    • yang namanya rumah modern memang tidak bisa dipungkiri, karena filosofinya pun sudah berbeda. Intinya rumah adalah surga di dunia🙂

      • iya rmah modern memiliki filosofi yang berbda, dan tentu saja dngan berbgai konsep.
        dan yang plg pntg adlah pada saat owner menyukai rncgannya, maka mulailah untk menyusun anggran, dan akhrnya rmah dbngun.
        nah dlu, rmah yg dbngun dlakukan olh smua pndudk kampung dngan gotong royong…
        mgkn inilah realita yg ad pada saat skrg ne, bhwa tngkat sosial khdupan kta tlah brubh.

      • yup, pergeseran jaman memang akan selalu ada, tapi setidaknya kita tidak menghilang filosofi yang pernah ada dari orang tua kita dulu untuk bekerja gotong royong dalam kehidupan🙂

      • intinya tetp smangat gotong royong yg hrus dbngun dalam membangun negeri ni.

  7. wah kapan kapan perlu nih jalan jalan k aceh untuk melihat lihat. rumah adatnya…rumah besar berpintu kecil…

    • iya mba nanti bisa jalan ke museum Aceh yang disitu ada juga koleksi benda-benda sejarah lainnya🙂

  8. Telah begitu lama saya memendam hasrat untuk “meliput” keberadaan rumah adat Aceh yang dibangun oleh seorang ulama kharismatik yang hidup di era kolonial ini. Begitu fenomenalnya tokoh ulama ini hingga namanya masih dikenang masyarakat hingga beberapa generasi kemudian. Nama aslinya adalah Syaikh ‘Abdurrahim Bawarith al-Asyi atau dikenal dengan laqab (sebutan) Tgk Chik Awe Geutah, yang berasal dari Zabid Yaman.

    • benar salah satu tulisan perjalanannya juga sempat saya rangkum pada link di atas🙂

  9. Sumpah parah. Suka tulisan ini. Sering2 tentang marketing Owl, yaa

    • Yang kemarin saja belum beres nih, ditunggu saja yang sabang😀

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: