Gunongan, Tempat Bermainnya Putroe Phang


PAGI yang terbilang masih menyengat, tidak banyak bicara, hanya sesekali kali saya interupsi dengan lawan bicara disaat mendengar cerita dan sejarah Pak Yahya (72), salah satu petugas yang mengabdi untuk menjadi komplek Gunongan, Kelurahan Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh.

Ceritanya begitu dalam, tidak ada buku tebal dihadapannya hanya saja ingatan yang telah direkam lama olehnya saat menjelaskan asal mula Gunongan, Leusong, Kandang serta Pinto Khob.

Perjalanan pagi Minggu, 2 September lalu di Banda Aceh memang terbilang singkat. Pasalnya saya hanya bisa menyambangi tempat bermain Putroe Pahang yang sudah almarhumah dan kini menjadi sejarah.

Siapa beliau? Putroe Pahang (lebih dikenal dengan sebutan Putroe Phang, -pen) yang sering kita tahu pada umumnya adalah permaisuri dari Sultan Iskandar Muda (1607-1636) yang membuatnya jatuh cinta disaat Sultan dan beserta pasukannya berhasil menaklukkan Kerajaan Johor dan Kerajaan Pahang di Semanjung Utara Melayu (Malaya).

Dan Gunongan pun menjadi saksi cinta Sultan kepada permaisuri sebagai tempat bermainnya dikala rindu dengan tanah kelahirannya di Pahang sana.

Dulu, tempat keberadaan Gunongan dikenal juga dengan Taman Ghairah dimana didalamnya dialiri dengan air sungai Darul Asyiqi (Isyqi), serta terdapat juga Kandang yang menjadi tempat dimakamnya Sultan Iskandar Tsani (menantu Sultan Iskandar Muda) yang sebelumnya dipakai sebagai tempat jamuan untuk makan siang Putroe, Raja, orang-orang istana serta rakyat.

“Kalau tidak salah tempat jamuan makan dulunya ada atap, tapi kini tidak ada lagi bisa jadi pada masa Belanda telah dirubuhkan,” jelas Pak Yahya saat menemani kami mengitari Gunongan.

Tidak jauh dari situ pun ada Pinto Khob yang menjadi penghubung Putroe dan dayang-dayang saat menuju ke tempat pemandian yang tidak jauh dari Gunongan.

Bisa dibayangkan, bagaimana indah tempat ini dahulu. Sehingga sang pemaisuri dapat mengobati rasa rindunya untuk bermain-main bersama dayang-dayang tanpa ingat dengan negeri Pahang sana.

Dan sebelah jalan Teuku Umar yang kini dikenal dengan kuburan/komplek Kerkhoff, tempat dikebumikan pasukan Belanda dan Meurah Pupok (anak Sultan) dulunya dikenal dengan Medan Khairani dimana dihiasi kerikil dan pasir untuk tempat bermain bagi Putroe, sang permaisuri.

Menakjubkan, menghayal ke jaman Putroe Phang pastinya sangat menyenangkan apalagi menjadi salah seorang permaisuri Sultan. “Saya Raja, saya bisa memenuhi apa yang kamu inginkan,” terang Pak Yahya saat menjelaskan kenapa Sultan membuat taman tersebut.

Nah, bagi Anda yang sering bermain atau sempat ke taman ini jangan lupa melihat ukiran yang menarik di Leusong. Dan konon ditempat inilah Putroe mandi bersama dayang-dayang.

Sedangkan Gunongan menjadi tempat Putroe berjemur sambil mengeringkan rambut setelah mandi. Dan di Gunongan pula, Putroe menggantikan pakaian, karena dari bawah Gunongan terdapat ruang khusus bawah tanah yang bisa menghubungkan ke Pinto Khob yang kini sudah ditimbun.

“Pada masa Belanda terowongan bawah tanah yang menghubungkan Pinto Khob ke Gunongan ditutup, sampai saat ini pun masih tetap tertutup rapat oleh semen,” pungkas Pak Yahya, pensiunan tentara tersebut.

Yang lebih heboh lagi, perihal sejarah dibuatnya Gunongan dari telur ayam. Banyak orang mengetahui sejarah tersebut, tapi hal senanda ditepis sama Pak Yahya. “Mana ada kisah itu, telur ayam yang ada menggunung dulu bukan dibuat untuk bahan dasar Gunongan tapi untuk pekerja. Makanya dari dulu gosip sudah merajalela tercatat dalam sejarah”, katanya sambil tersenyum.

“Gunongan ini dibuat dengan bahan-bahan alam seperti kapur, tanah liat, dan pasir yang dicampur lalu dikerjakan oleh pekerja. Makanya warnanya itu putih, tapi sekarang tetap dicat putih juga,” jelasnya.

Masih banyak kisah sejarah menarik lainnya dari mantan ‘tentara preman’ ini yang kami dapat, disela-sela menjelaskan kisah sang permaisuri kepada kami serta tentang Gunongan dan seisinya. Tapi tidak mungkin saya ceritakan semua disini, semoga saja dilain waktu bisa menulis lagi.

Atau lebih menariknya, Anda bisa berkunjung sendiri ke Gunongan sambil bermain dapat cerita plus sejarah. Memang sekarang yang sering banyak dikunjungi anak muda-mudi dan keluarga di Banda Aceh dan sekitarnya itu ke Pinto Khob, bukan tidak mungkin kan singgah dulu di tempat bermainnya Putroe Phang.

Selain itu, di bangunan yang bernama Kandang pun menjadi salah satu tempat penuh sejarah. Karena disana juga lewat wasiatnya Sultan Iskandar Tsani (1636-1641), dipakai sebagai tempat peristirahatan terakhir. Memang tidak ditemukan lagi nisannya, karena sudah dipindahkan ke depan untuk menghindari tangan-tangan jahil waktu itu.

“Batu nisan Sultan Iskandar Tsani memang dulunya di kandang, karena sempat hilang beberapa nisan disini akhirnya batu nisan dipindahkan ke depan kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala,” terang Pak Yahya.

Bagaimana, tertarik bermain ke Taman Ghairah ini? semoga saja Anda bisa menikmatinya dan juga bermain disini tanpa harus mandi seperti Putroe pastinya.[]

This slideshow requires JavaScript.

Foto-foto kontribusi M. Iqbal, sampai jumpa pada edisi lainnya. Masih ada kisah seputar pernak-pernik Taman Ghairah dan sejarah lainnya.

26 Responses

  1. meski saya tidak terlalu mengerti dengan topik yang dibicarakan , tapi secara keseluruhan topiknya menarik, makasih ya sdh mau berbagi

    • sama-sama mas🙂

  2. bagus ya

    • makasih christo🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: