Media di Aceh Semua Ingin Jadi Nomor Satu


Media Online

KEHADIRAN teknologi yang terus berintergrasi dengan alat-alat komunikasi serta medium lainnya membuat lahirnya generasi-generasi yang melek akan informasi teknologi.

Tidak hanya itu, kehadiran media sebagai penyambung informasi pun begitu mengalir deras di dunia daring. Semua menyatu dan berkolaborasi dengan jejaring sosial lainnya membentuk satu kesatuan dalam menjamaah pengguna atau pembaca.

Di Aceh salah satunya, kehadiran media online dengan ragam cakupan dari tingkat bawah sampai ke tingkat atas (baca: segmentasi) yang umum begitu banyak.

Kategori banyak karena sudah lebih dari dua sehingga bisa disebutkan demikian bahkan tidak lagi hitungan sebelah tangan, melainkan sudah hitungan belasan jari untuk media yang bergerak daring atau kolaborasi daring/cetak di Aceh.

Menjadi Nomor Satu

Tidak ada sepertinya persaingan yang tidak ingin menjadi nomor satu, apalagi perkembangan berita di Aceh dari mulai pelosok desa sampai tingkat kabupaten/kota telah disentuh oleh media daring.

Sehingga bermunculan berita-berita yang tidak berbobot pun banyak menghiasi headline atau halaman pertama.  “Ureueng dilet lee ase pih jeut keu beurita, adak meudeh ureueng let ase nyan baroe beurita (orang dikejar anjing saja bisa jadi berita, maunya kan orang kejar anjing jadi berita)”, :lol:. Tapi bukanlah itu yang ingin saya bicarakan disini, tapi mereka yang ingin menjadi nomor satu itu.

Kenapa harus nomor satu? ya pertama bisa karena persaingan munculnya media daring yang begitu mudah. Alasan kedua ya karena ingin meraup untung, lewat apa? bisa lewat iklan dan macam-macam perkara dibalik itu semua.

Namun, yang menjadi anehnya adalah saat ada media daring mengaku diri menjadi nomor satu. Urusan percaya diri memang wajar, tapi jika ukuran mengaku diri nomor satu dengan parameter dan analisa dari alat (tools) di Internet belum ada yang bisa diwajarkan untuk media daring di Aceh.

Tapi jika mengaku nomor satu di mata pembaca atau penikmat berita boleh saja, tapi berapa dulu penikmat yang mau disurvei? karena konteks demografi Aceh, jadi tidak mungkin menggunakan jumlah readers dari tools di Internet dengan mencatat jumlah IP Address, IP Address anonym, IP Address boot, dan lain-lain bagaimana bisa diklasifikasikan untuk pembaca dengan demografi di Aceh?

“Media online pertama di Aceh”, “Koran online pertama di Aceh”, “Portal berita pertama di Aceh”, “Portal Informasi Aceh”, dan seabrek tulisan pertama lainnya. Yang lebih wah lagi saat saya membaca kata portal (pintu masuk) dengan melabeli diri media daring, apakah sudah benar kata portal dengan tampilan situs yang seadanya? seadaanya dalam artian tata letak, sistem interaksi, fitur, konten, dan masih banyak unsur lainnya masih belum menjadi kejelikan mata orang-orang dibalik layar laman tersebut.

Namun, beda kelasnya jika disetarakan dengan media daring untuk tingkat nasional yang menamakan diri portal. Karena memang telah memenuhi apa yang disebut ‘seadanya’ di atas tadi, malah beberapa media nasional dalam kurung waktu 2 tahun belakangan ini cukup banyak melakukan rebranding dan improvisasi dalam mengemas tampilan untuk pembacanya.

Tapi di Aceh ada berapa media yang terjun ke daring sudah merombak diri? yang lama masih tetap dengan yang lama, malah ada laman media daring yang sudah disusupi kode dari peretas masih dibiarkan saja begitu saja. Belum lagi media daring yang baru lahir (baca: 1-2 tahun), ya karena barukan belum perlu merombak diri? tidak demikian yang baru malah sebaliknya harus lebih gesit dan inovatif melihat bagaimana tantangan yang akan terjadi ke depan.

Walaupun sebenarnya kompleks membicarakan media daring di Aceh, tapi setidaknya membukakan diri tanpa harus berembel-embel nomor satu atau pertama mungkin bisa sedikit menguragi kompleksitas tersebut.

Sudah susah-susah mempromosi untuk diindeks oleh mesin pencari, berbayar iklan adwords yang tidak murah harganya, mengejar SEO dan memancing pembaca dengan judul ‘amburadul’ kocak yang tidak sesuai dengan isi sepertinya akan lebih baik memfokuskan diri menjaga eksistensi diri.

Dalam artian menjaga eksistensi media daring yang telah ada agar bisa lebih dinilai oleh pembaca bukan webmaster, admin, atau ‘orang dapur’. Sehingga ke depan bukan tidak mungkin untuk sesekali membuat survei kecil-kecilan (pihak manapun itu) meminta petunjuk pembaca untuk menilai isi/konten berita sekaligus tampilan laman media. Semoga saja pembaca menyisihkan waktu barang 5-10 menit dalam memberikan suara untuk media daring yang diyakininya pantas untuk dibaca direkomendasi nomor satu di Aceh versi pembaca. Semoga[]

Ilustrasi dari visualcomplexity.com

17 Responses

  1. Yup, menjaga eksistensi diri dengan kualitas tentu lebih baik ya, Mas.

    • benar saya lebih suka media daring daerah memperhatikan eksistensi daripada melabel diri, semoga saja kedewasaan bagi pembaca jadi nomor saja ya ustazd🙂

  2. masih perlu belajar lebih byk ya media media itu untuk menyguhkan isi yg berkualitas

    • tentu mba, sepertinya itu memang harus jadi tugas utama dimana media adalah penyambung informasi untuk masyarakat jadi tidak ada kata sempurna harus terus berbenah dan belajar.

  3. kalau menurut saya kebutuhan bacaan/berita masing masing individu itu berbeda beda. kalau nomor satu dalam jumlah hit mungkin bisa diukur. tapi nomor satu untuk kualitas jurnalisme mungkin memerlukan lebih banyak parameter untuk mengukurnya🙂

    http://jarwadi.wordpress.com/2012/07/11/klik-it-solusi-ribet-stop-kontak/

    • betul, karena apa yang dibaca orang tentu dengan selera dan kesukaannya. Untuk di Aceh sendiri banyak media cuma mengklaim diri dari parameter dunia daring, terlepas dari eksistensinya dalam kualitas jurnalisme dan konten.

  4. jadi, media yang layak dapat nomor satu di aceh yg mana tuh?

    • sampai saat ini yang saya tahu belum ada, kenapa demikian? karena belum ada yang melakukan survei spesifik tentang itu🙂

  5. Kalau semua pengen jadi nomor satu trus yang jadi nomor dua, tiga dan seterusnya siapa Om?🙄

    • biasanya sih nomor dua, tiga dan seterusnya hanya mereka-mereka yang ‘mengalah’ demi nomor satu😆

  6. ikut menyimak…tulisan ini perlu disebarluaskan untuk perbaikan media2 di aceh.

    • menyimak dengan seksama, bisa jadi kondisi media di atas berlaku untuk daerah-daerah lain di Indonesia tidak menutup kemungkinan semua ingin jadi nomor satu🙂

      • sepertinya memang di jaman ini umumnya berlomba-lomba menjadi nomer satu. kurang lebih sama seperti ulasan di atas bang. sayang dari yang umum itu banyak yang modal omongan, kurang dari segi implementasi atau upgrade capability.

      • semoga saja menjadi nomor satu itu tidak menjadi hal yang lumrah saja, apa yang disebut upgrade capability dan citra eksistensi mungkin bisa lebih baik ke depannya.

  7. nomor satu mmg menjadi dambaan buat semua orang….tak terkecuali media

    • untungnya sampai saat ini belum ada blogger nomor satu😀

  8. […] Media di Aceh Semua Ingin Jadi Nomor Satu […]

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: