Rebranding untuk Pariwisata Aceh


BEBERAPA hari lalu kata-kata rebranding/re-branding kerap terbaca di media-media lokal di Aceh, tapi tidak lama saya menyangkal ini pasti terkait menyambutnya tahun kunjungan wisata Aceh tahun 2013 (Visit Aceh 2013, -pen) dan akhirnya teraminkan juga perihal berita tersebut.

Beberapa kata yang unik pun bermunculan dalam topik rebranding yang terselenggarakan dalam sebuah sesi acara seminar khusus di Banda Aceh beberapa waktu lalu, termasuk yang dominan adalah seperti kata “Serambi Mekkah”.

Tidak hanya di ibu kota provinsi Aceh saja isu rebranding ini menguat, di dataran tinggi Gayo pun beberapa tulisan tentang rebranding Gayo juga bermunculan dan mungkin beberapa hari ke depan kabupaten/kota di Aceh juga akan mulai peka dengan slogan Inggris, rebranding ini.

Rebrandring itu apa?

Buat para expert marketing/communication mungkin istilah rebranding sudah tidak asing lagi. Lalu bagi masyarakat awam apa sih itu rebranding? hemat saya rebranding adalah bagian dari sebuah nama produk yang akan dijual secara meluas, tidak hanya berbentuk fisik tapi bisa jadi bentuk istilah mudah dalam mengingatkan sesuatu (brand). (Expertnya baca istilah rebranding atau ini)

Anda pasti tahu dengan produsen besar sepeda motor dari Jepang kan? ya itu dia Honda. Bagi yang belum pernah ke Aceh, mendengar kata sebutan Honda akan terasa aneh disana, khususnya bagi pemilik atau pengendara motor. Karena apa pun nama produsen dari tingkat nasional sampai luar negeri atas nama sepeda motor sangat lazim disebut dengan Honda.

“Honda baroe nyoh? (Honda baru ya?)”, ungkapan seperti itu pasti banyak kita temui. Padahal belum tentu sepeda motor yang dimaksud itu mereknya Honda, bisa saja Yamaha, Suzuki, Kawasaki, dan lain-lain.😀

Selain Honda di Aceh juga terkenal dengan sebutan ‘kereta’ untuk sepeda motor, ya lagi-lagi jangan kaget. Tidak hanya di Aceh sih sebenarnya, provinsi tetangga juga sering menyebut demikian. Bisa saja inspirasi kereta itu teringat sama KA Medan-Aceh lintas Sumatera yang dulunya sangat begitu terkenal, karena sampai sekarang KA tidak ada wujud dan rohnya jadi sepeda motor dicaplah dengan kereta.😆

Baiklah kembali ke topik rebranding ya, kenapa ujung-ujungnya jadi ngomongin sejarah transportasi. Jadi, kurang lebihnya begitulah ilustrasi nama sebuah brand. Lalu bagaimana dengan rebranding pariwisata itu sendiri menyambut Visit Aceh 2013?

Banyak cara yang bisa dilakukan pastinya, mengingat Aceh daerah yang begitu kompleks beberapa sebutan dari sejak dulu kita juga tahu. “Kutaraja”, “Ganja”, “GAM’, “Tsunami”, “Tanoh Rincong”, “Bungong Jeumpa”, begitu juga dengan Serambi Mekkah dan masih banyak lainnya yang sudah dikenal luas masyarakat dunia yang identik dengan Aceh.

Slogan Visit Aceh 2013

Baru-baru ini juga promosi menyambut VA 2013 sudah marak di dunia daring atau jejaring sosial, Twitter, Facebook, dan situs-situs yang menginformasi seputar aneka lomba dan kompetisi.

Namun, ketika saya melihat slogan kali ini Visit Aceh disitus resmi dinas terkait tertera “Beautiful, Peaceful and Religius”. Slogan ini cukup kuat menurut saya, dari setiap kata sudah menggambar sebuah daerah di salah satu ujung pulau Sumatera. (Indah, dari konflik kini Damai, dan Agamis)

Tapi cukup kuatkah untuk target wisatawan luar atau nasional sendiri dengan mengingat 3 kata-kata itu? Sebenarnya ini adalah topik klasik sejak negara Indonesia mengenalkan tahun kunjungan dari 2008 lalu secara menyeluruh kalau tidak salah, tapi konon tahun kunjungan Indonesia pada 1991 sempat branded.

Ini bukan tanpa alasan, gebrakan pariwisata dengan mengemas satu produk menjadi destinasi (tujuan wisata) wisatawan memang membutuhkan sebuah inovasi dan kreatifitas tersendiri dari berbagai elemen (stakeholder). Makanya tepat sekali kalau sekarang Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) terkait rebranding nama menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Kalau sekarang kita kaitkan dengan sebutan atau slogan (tagline) “Truly Asia”, “Uniquely Singapore”, “Amazing Thailand”, “Incridible India” dan sebagainya pasti kita sudah terbayang kan negara mana itu, bukan tidak mungkin Indonesia bisa mengenalkan Paradise of Asia.

Begitu juga dengan slogan wisata nasional di Indonesia, “Enjoy Jakarta”, “Jogja”, “Spirit of Java”, dan lainnya selalu ada ruh yang tidak berubah. Yah, tidak semuanya kota atau daerah di Indonesia sukses sih dalam mempromosikan wisata, setidaknya kita bisa belajar dari yang sudah sukses dalam mempromosikannya.

Dan satu hal lagi, untuk mempromosikan wisata dan rebranding tentu menyesuaikan dengan kondisi. Belum lagi butuh kerjasama semua elemen dalam membangun semangat positif dan citra pariwisata, karena dengan harapan ke depan rebranding bukan saja mengisi/menambah pajak daerah, melainkan juga bisa membantu perekonomian masyarakat daerah tujuan wisata pastinya.

Oiya tidak lupa peran dunia gaib alias social media juga penting lho dalam promosi wisata hehehe.[]

Ilustrasi dari blogfreakz.com

11 Responses

  1. setuju, kesaktian gaib bisa menjadi senjata ampuh pariwisata Aceh dan Indonesia, apalagi Indonesia punya jutaan blogger dan pengguna socmed🙂

    • yup, kekuatan blogger dengan aset blog dan jejaringnya itu malah bisa membuat gebrakan. Blogger Indonesia itu bukan sembarangan🙂

  2. […] Orekan Waktu Luang […]

  3. sering kali antara penetapan branding oleh pemerintah malah gak disosialisasikan di masyarakatnya, contoh saja di kota saya JogjaCyberProvince sama sekali enggak ada gaungnya

    • tapi alhamdulillah kemarin itu di Aceh gaungnya sempat disosialisasikan untuk seluruh elemen/perwakilan, namun ya lagi-lagi tetap harus merangkul masyarakat secara luas.

      Kalau Jogja saya lihat ikon wisatanya sudah menarik, apalagi peran netizen dan anak-anak muda kreatif disana cukup signifikan dan mempromosikan wisata🙂

  4. Mari kita promosikan Aceh untuk Visit Aceh 2013, http://map.acehdigital.com

    • mari syedara @NanggroeDigital🙂

  5. Branding dengan teknik marketing yang baik sepertinya akan berhasil, namun tetap saja bukan hanya sekedar promosi tapi faktor fasilitas atau infrastruktur yang mendukung juga diperlukan.

    dalam suatu kesempatan yang saya pernah temui, disuatu daerah ketika menetapkan kegiatan wisata/bulan berkunjung seringkali menemukan tempat parkir yanng belum ada/kurang memadai, fasilitas kamar kecil yang kotor, tempat sampah, musholla, dll. sehingga sedikit berpengaruh pada “kesiapan” daerah tersebut dalam mempromosikan daerahnya, gaungnya sudah kemana-mana tapi didalamnya sendiri masih belum siap.

    dan tentang Aceh, hmm.. sudah lama saya ingin berkunjung ke sana, terutama pada objek wisata alam, hutan, terutama ke gunung Leuser.

    i wish, someday.🙂

    • Benar, fasilitas alias infrastruktur yang mendukung plus kesadaran masyarakat harus terus dibina untuk sebuah tempat wisata, sehingga tidak ada kesan asal-asalan.

      Leuser akan jadi daerah wisata untuk Visit Aceh 2013 selain pemandangan gunung, arung jeram juga telah diakui disana🙂

  6. […] Rebranding untuk Pariwisata Aceh […]

  7. […] itu juga perlu re-branding dalam mengenalkan sektor pariwisata yang mudah hilang dari publik, hal ini demi menguatkan tujuan […]

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: