Jasad Ini Sebenarnya Mati


MASIH terlintas diingatan beberapa nasihat pada khutbah jum’at beberapa waktu lalu, kalau kita yang hidup di atas muka bumi itu sebenarnya mati.

Benarkah demikian? ya, lebih tepatnya tubuh yang gagah, wajah yang rupawan, tenaga yang kuat dan berbagai kelebihan lainnya itu tidak akan pernah ada jika apa yang melekat pada jasad (bentuk fisik, -pen) tanpa adanya ruh.

Manusia yang diciptakan oleh Sang Pencipta sebagai makhluk yang begitu sempurna setidaknya ada 3 hal yang melekat pada dirinya, yakni jasad (fisik), nafsu, dan ruh.

Kita yang terlahir ke dunia ini, pada umumnya Allah berikan sebuah fitrah atas nama manusia. Fitrah dalam artian bahwa manusia yang diciptakan dengan begitu sempurnaan cenderung hanif, punya akal, qalbu dan nafsu.

Kata fitrah itu sendiri berasal dari fatara, artinya ciptaan, suci dan seimbang. Louis ma’luf dalam kamus Al Munjud menyebutkan bahwa fitrah adalah sifat yang ada pada setiap awal penciptaannya, sifat alami manusia, agama, sunnah. Menurut Imam Al-Ghazali, fitrah adalah kondisi dimana Allah menciptakan manusia yang menghadapkan dirinya kepada kebenaran dan kesiapan untuk menggunakan fikiran.

Begitulah pula dengan sifat hanif (kebenaran) dimana setiap kondisi awal manusia diciptakan memiliki potensi untuk mengetahui dan cenderung kepada kebenaran.

Tapi sayang, bagi kaum materialis menukilkan bahwa “Manusia hanyalah sekepal tanah dibumi, dari bumi mereka berasal, dibumi mereka hidup, makan dan minum, berjalan, beraktivitas, setelah mati kembali menjadi tanah, tidak ada proses lagi, tidak ada keistimewaan manusia dibanding makhluk lainnya.”

Lalu jika dengan begitu lengkap sempurnanya manusia ini, fisik yang ada ini sebenarnya kembali lagi pada permulaannya bahwa tidak akan berarti apa-apa jika tanpa adanya ruh, ya kita ini sebenarnya mati, tapi ruh dengan segenap raga dan jiwalah yang bisa membuat kita membaca tulisan ini, melihat dunia, dan berjalan di muka bumi ini.

Sadar atau tidak kita ini adalah hambaNYA yang tidak punya kuasa apa-apa di dunia ini.

Apa itu Ruh?

Pasti kita sering bertanya, apa sih itu ruh dan bagaimana bentuk atau wujudnya. Jelas pertanyaan ini boleh ada, tapi satu hal hanya Allah yang punya kuasa atas jawaban tersebut.

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah Ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Al-Isra 17 : 85).

Bahwa tidak ada satu pun makhluk di dunia ini walaupun dibantu dengan secanggih apapun teknologi era 2.0 tidak ada yang bisa menandingi maha karya Allah dalam setiap penciptaanNYA.

Ruh merupakan getaran Ilahiyah, yakni getaran atau sinyal ketuhanan sebagaimana rahmat, nikmat dan hikmah yang kesemuanya sering terasakan sentuhannya, tetapi sukar dipahami hakekatnya. Sentuhan getaran rohanian itulah yang menyebabkan manusia dapat mencerna nilai-nilai belas kasih, kejujuran, kebenaran, keadilan dan sebagainya.

Ada juga dikenal dengan istilah Nafs atau dikenal dengan nafsu, yang banyak disebut dan tersebar dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Istilah Nafs memiliki pengertian yang sangat terkait dengan aspek fisik manusia. Gejolah Nafs dapat dirasakan menyebar keseluruh bagian tubuh manusia karena tubuh manusia merupakan kumpulan dari bermilyar-milyar sel hidup yang saling berhubungan.

Nafs bekerja sesuai dengan bekerjanya sistem biologis manusia. Hubungan antara nafs dan fisik manusia demikian erat meski sukar untuk diketahui dengan pasti bagaimana hubungan itu berjalan. Dua hal yang berbeda, mental dan fisik dapat menjalin interelasi sebab akibat. Kesedihan dapat menyebabkan mata mengeluarkan siaran. Kesengsaraan membuat badan kurus. Dikenal pula istilah psikomatik, yaitu penyakit-penyakit fisik yang disebabkan oleh masalah kejiwaan.

Penciptaan Nur

Allah SWT pada permulaannya menciptakan Nur Muhammad dari cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi Dia berfirman: “Aku ciptakan ruh Muhammad daripada Nur Wajah-Ku”. Hal tersebut dinyatakan juga oleh Baginda s.a.w dengan sabdanya: “Mula-mula Allah ciptakan ruhku. Pada awalnya diciptakan-Nya sebagai ruh suci”.

“Mula-mula Allah ciptakan qalam”.
“Mula-mula Allah ciptakan akal”.

Apa yang dimaksudkan sebagai ciptaan permulaan itu ialah penciptaan hakikat Nabi Muhammad s.a.w, kebenaran tentang Muhammad yang tersembunyi. Dia juga diberi nama yang indah-indah. Dia dinamakan nur, cahaya suci, kerana dia dipersucikan dari kegelapan yang tersembunyi di bawah sifat jalal (kebesaran) Allah. Allah Yang Maha Tinggi berfirman, “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan” (Al-Maaidah, ayat 15).

Dari sanalah berawal, apa yang Allah turunkan dengan cahaya itu dari alam lahut, yaitu alam kenyataan bagi Zat Allah, bagi keesaan, wujud mutlak, kepada alam nama-nama Ilahi, hakikat sifat-sifat Ilahi, alam bagi akal asbab milik ruh yang meliputi ruh universal. Di sana Dia pakaikan ruh-ruh itu dengan pakaian cahaya.

Ruh-ruh ini dinamakan ‘roh pemerintah’. Dengan berpakaian cahaya mereka turun kepada alam malaikat. Di sana mereka dinamakan ‘roh rohani’. Kemudian Dia arahkan mereka turun kepada alam kebendaan, air dan api, tanah dan angin dan mereka menjadi ‘ruh manusia’. Kemudian dari dunia ini Dia ciptakan tubuh yang berdaging, berdarah.

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain” (Surah Ta Ha, ayat 55).

Setelah peringkat-peringkat ini Allah memerintahkan ruh supaya memasuki badan-badan dan dengan kehendakNYA mereka pun masuk. “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan) Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya…” (Surah Shad, ayat 72).

Yang akhirnya dari semua tahap-tahap itu jadilah kita salah satunya makhluk, manusia di atas tanah ini dan sampai pada masanya ruh-ruh yang tadi terikat dengan badan, dengan darah dan daging maka akan kembali lagi kepada sang Pencipta dalam waktu yang tidak seorang pun tahu, kapan dan dimana kita akan merebahkan jasad ini untuk meninggalkan dunia yang fana. Wallahu’alam

Ilustrasi bennykuncoro.com dan dakwah.info, Referensi dan kutipan “Manusia menurut Pandangan Islam” dan “Awal Mula Penciptaan

29 Responses

  1. […] Jasad Ini Sebenarnya Mati […]

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: