Catatan 11 April Yang Masih Membekas


PANAS matahari pagi hari itu sudah menyengat, padahal masih jam 8 pagi. Di tanah para raja saya (kami) memulai pertualangan, bukan mendaki gunung, bukan pula melihat keindahan alam dan panorama laut, melainkan perjalanan untuk mulai menggarap lahan kosong.😀

Ya, hari itu giliran teman-teman Aceh Berkebun beraksi sambil refreshing siang hari beberapa penggiat bertemu di salah satu warkop ternama di Ulee Kareng, apalagi kalau bukang Solong.

11 April 2012, itulah tanggal yang sempat tercatut dalam status linimasa di akun @ACEHberkebun. Bahwa teman-teman sudah sepakat untuk menggarap lahan kosong di bilangan Bumi Permata Lamnyong sebagai kebun utama bagi pecinta dan penikmat rekreasi kebun di Aceh (Banda Aceh, -red).

Prosesi dari pagi menjelang siang tanah pun mulai dicangkul, tak lama siang pun datang di bawah terik panas matahari kami pun sejenak istirahat sembari menunggu datangnya amunis untuk menambahkan tenaga.

Tak lama habis ishoma, akhirnya beranjak kembali ke kebun. Di bawah pohon asam yang begitu besar, nasi bungkus ala kadar pun kami santap bareng.

Suasana seperti ini tak lain ibarat bertamasya, tapi bertamasya ini tempat bukan ke tempat wisata melainkan di kebun yang penuh dengan hamparan rumput-rumput ilalang. Gelak canda pun mengisi kekosongan sembari menyulangkan nasi ke mulut.

Hak perut pun sudah ditunaikan, tenaga pun kembali berstamina. Terik matahari masih begitu kuat menyinari, tak ada berkilah lahan yang sudah digarap beberapa bedeng pun tetap dibersihkan dari sisa rumput.

Bibit kangkung dan kacang panjang merah hari ini menjadi hari pertama bersemai di kebun BPL. Tak terasa terik matahari pun mulai mengalah, dan sore telah menyambut. Kami masih membersihkan kebun dari akar-akar rumput karena hendak mau disiram, jam sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB.

Berselang beberapa menit getaran pun mulai terasa, antara sadar kecapean atau gempa pun tidak begitu ngeh. Dan hentakan kuat pun terasa, ini gempa saudara-saudara.

Waktu itu sebuah pemandangan masih sangat cerah, tidak ada tanda alam. Yang saya lihat hanya ada kucing yang berlari sangking shock karena getaran gempa.

Rumah yang sedang dibangun di dekat lokasi kebun BPL itu terlihat sangat dalam ujian, sebagai patokan jika rumah yang baru diikat bata itu roboh menjadi salah satu pertanda bahwa gempa ini lebih kuat dari tahun 2004 silam.

Saat itu kami tidak tahu lokasi gempa di 2.31 Lintang Utara, 92,67 Bujur Timur (daerah Simeuleu), karena yang terdengar waktu itu pertama adalah asma-NYA, serta tangisan takut pun menyeraut dari teman-teman #ACEHberkebun,

Gempa pun berhenti sejenak, lagi-lagi kami tidak tahu berapa kekuatannya. Lewat tampilan linimasa dari BMKG akhirnya kekuataan gempa sore itu sekitar pukul 15.38 WIB ketahuan yakni 8.9 SR (8,5 SR revisi dari BMKG).

Tak lama status potensi tsunami pun mulai mengisi TL-TL, tidak hanya Aceh, Medan, Padang, bahkan hampir seluruh pulau Sumatera, Malaysia, India turut merasakan gempa terkuat ketiga dalam 10 yang pernah terjadi di Indonesia.

Maha Besar Allah, dengan segala kehendak-NYA membuat Aceh saat tiba waktu shalat Ashar kali itu seperti terbawa pada kejadian 7 tahun silam. Sungguh lautan manusia di berbagai persimpangan jalan panik dan berlarian ke tempat yang lebih aman. Lalu apa yang terjadi dengan kami para pekebun ini?

Kami pun akhirnya ‘mengungsi’, mencari tahu informasi yang sedang terjadi berhubung beberapa jaringan komunikasi terganggu, dan listrik pun padam tanpa bertuah tidak bersahabat kali itu.

Beberapa daerah saya coba perhatikan, melihat pergerakan air sungai Lamnyong yang terlihat naik secara pelan-pelan. Karena tidak jauh dari sana, daerah Alue Naga tsunami (ombak) kecil sempat naik barang 1 meter dan hanya berlalu sekitar 1 atau 2 menit.

Warga yang mulai gusar pun mulai terlihat dari cara mereka mengendara kendaraan, kami lebih memilih sedikit menepi sambil melihat-melihat. Tidak mau terjebak ke daerah yang macet, kami pun memutar ke Ulee Kareng karena disana menjadi salah satu tempat yang aman menurut saya.

Di luar kendali, dalam waktu 30 menit pascagempa beberapa warga ada yang sudah sampai ke Saree, Aceh Besar larinya. Dan dari masjid Baitusshalihin Ulee Kareng itulah saya mendapat informasi banyak, bertukar informasi dengan orang-orang, serta menunaikan kewajiban dulu.

“Adak mate-mate teuh kaleuh ta seumayang”, ujar saya sama Waru waktu itu.

Mengingat stok baterai hape pun kian tidak menentu, akhir saya pilih pulang ke Lingke untuk mengambil seperangkat alat ngecas yakni laptop. Tapi apa dikata kunci kamar ternyata tidak saya temukan, tidak lama berselang gempa kembali mengejutkan kami untuk kedua kalinya. Pagar-pagar seakan menarik, beberapa retakan di tiang-tiang rumah anak mahasiswa itu pun kian terlihat.

“Nyoe hana can le, ta gah laju keudeh u Keutapang”, lagi-lagi saya ambil alih sambil engkor motor lantak u Keutapang. Berhubung kondisi Waru saat itu kaki masih sedikit accident.

This slideshow requires JavaScript.

Dan di Keutapang akhirnya hape saya mendapat beberapa suntikan bar untuk bisa hidup sampai Maghrib. Beberapa jalan protokol yang kami lewati terasa sepi, persimpangan pun penuh sesak belum lagi lampu trafik yang tak berfungsi. Namun semuanya berjalan lancar, tidak ada banyak terdengar bunyi klakson, semua mengerti di dalam kepanikan patutnya harus ada kesabaran.

Beberapa tempat yang sempat saya singgah, saya abadikan melalui kamera hape yang bertahan. Bisa Anda lihat di foto slideshow di atas.

Dan inilah video yang saya dapat, keadaan warga yang panik saat berada di gedung museum Tsunami. Semoga catatan ini tetap membekas dalam ingatan, 26 Desember 2004 dan 11 April 2012 masih begitu kuat dalam sebuah memori ciptaan Tuhan.[]

~NB: Hari ini notifikasi WordPress.com memberi tahu bahwa blog OWL sudah ada 100 follower (apa hubunga sama 11 April ya) “Congratulations on your 100th follower on Orekan Waktu Luang.”

31 Responses

  1. tapi 11 september, adalah hari ulangtahunku

    • jadi kita tunggu 11 September aja dulu ya cenlaid🙂

  2. tidak bisa dibayangin deh kalau ada di tempat itu saat kejadian..
    untung kamu tidak apa2… syukur deh..

    Di tunggu kunjungan baliknya yah..

  3. Sebagai gerakan hijau, Indonesia Berkebun mengusung konsep 3E, yakni Ekologi, Ekonomi, dan Edukasi. Ekologi, artinya gerakan ini mencoba mengembalikan fungsi tanah sebagai lahan tempat tumbuhnya tanaman serta merevitalisasi lahan agar kembali subur. Faktor ekonomi, merujuk pada kegiatan berkebun yang membuahkan hasil. Hasil panen bisa dibawa pulang untuk dimasak atau dijual kembali. Uang penjualan digunakan untuk membeli bibit baru untuk ditanam. Tak kalah penting adalah unsur edukasi, karena dengan kegiatan berkebun ini diharapkan bisa mendidik masyarakat tentang berkebun organik yang bisa dengan mudah dilakukan di mana saja, termasuk di halaman depan rumah. Sebagai masyarakat urban, satu hal yang tidak bisa lepas adalah unsur kesenangan. “Sebagai warga Jakarta, kami juga mencari cara untuk menghilangkan stres dengan cara yang fun tanpa harus pergi jalan-jalan ke mal,” kata Beriozka Anita, pegiat yang sehari-hari berprofesi sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan pertambangan minyak. Achmad mengamini pendapat tersebut. Apalagi gerakan ini juga berniat mematahkan anggapan bahwa berkebun itu identik dengan desa, kampungan, dan kotor. Aktivitas ini justru melahirkan semangat kebersamaan, karena sama-sama menanam, muncul rasa sepenanggungan. Dari sisi kesehatan, jangan lupa, berkebun juga membakar kalori tubuh dan melatih otot-otot lengan, punggung, pinggul dan otot paha. Kalori yang terbakar kira-kira 63 kalori per 10 menit, artinya selama satu jam setara 378 kalori tanpa harus berolahraga. “Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat kalau berkebun itu keren,” tukas Achmad.

    • terima kasih mas Ias atas penjelasnnya ya🙂

  4. “Adak mate-mate teuh kaleuh ta seumayang”,Pasal nyoe yang kadang le kaum tuwe geulaksanakan menyoe lam kondisi lagenyoe,

    jadi teringat cerita kak wanti😀

    • sabab rame ureueng dalam udep le teumakot keu mate😀

      • betoi that TGk🙂

  5. ujian datang dari Allah, selagi asyik berkebun datang musibah yg tak disangka. Saat 11 itu saya jg berada di padang semua pada berhamburan.alhmdulillah kejadian sebelumnya tdk terjadi

    • semoga bisa saling menguatkan ya sobat dan kita bisa tetap siaga saat bencana menerpa karena semua kejadian hanya terjadi karena kehendakNYA🙂

  6. […] Catatan 11 April Yang Masih Membekas […]

  7. waktu itu saya cuma ber 4 ama anak2. 2 anak lg tdr saya gendong bw lari kluar rmh, anak yg tua saya suruh lari d depan. Semua nangis. Mana suami lg pergi kluar kota.

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: