‘Na Peng Siribe?’, Inilah Kehidupan


kakek

ADA uang seribu?” itulah arti dari sepenggal judul di atas yang saya dengar, lihat dan keluar dari mulut seorang kakek yang berumur sekitar 70 lebih.

Matahari kala itu masih menyengat, Kamis (26/1), saya lihat jam dinding disebuah warung kopi sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB yang pertanda masih siang bolong.

Dari kejauhan sesosok kakek melintasi jalan untuk menyeberang ke arah sebelah, saat itu saya berada di pinggiran jalan Medan – Banda Aceh daerah Krueng Geukuh, Aceh Utara, warung tempat dimana para sopir minibus L-300 beristirahat sejenak untuk makan dan minum.

Konon warung/rumah makan pinggiran jalan Krukuh (sebutan singkat dari Krueng Geukuh, -red) ini memang terkenal sejak lama dengan masakannya, selain layanan bagus, tempatnya pun nyaman.

Saya memesan satu gelas cappucino + es di warkop sebelah rumah makan, karena siang begitu terik es menjadi makin tertarik buat sekedar melepas dahaga. Mata saya kembali melihat hilir mudik mobil di jalan raya Medan – Banda Aceh, diantara kendaraan yang bersilih berganti sosok kakek yang saya lihat tadi masih berada diseberang jalan sana.

“Itu kakek sepertinya pasti mau menyebrang,” gumam saya dalam hati.

Tak lama suasana jalan mulai terasa sepi, dan sesaat kakek itu perlahan menyebrang jalan. Terlihat jelas dari mukanya yang hati-hati dengan memaling wajah ke kiri dan kanan melihat kendaraan yang melintas.

Dengan baju batik yang lusuh, tidak dikancingnya si kakek telah berhasil menyebrang jalan raya tadi. Panasnya aspal dan matahari terlihat si kakek mempercepat jalannya untuk berteduh, hanya beberapa menit si kakek berada di depan meja warkop tempat saya duduk.

“Huhhh….huuhhhh,” terdengar si kakek mengatur nafasnya.

“Na peng siribe (ada uang seribu)?”, tanya si kakek ini dengan pelan pada saya sambil terputus-putus ucapannya.

Perlahan saya mencoba mendengar kata itu dari mulut yang komat-kamit dari kakek itu, “ini kakek pengemis apa?” pikir saya. Namun, saya tidak buru-buru untuk mengingat pikiran yang baru lewat itu. Beberapa menit si kakek mengucap kembali kata yang sama, dengan suara yang lebih jelas dan teratur.

Tersadar bahwa yang terdengar dari mulut si kakek adalah meminta duit seribu rupiah, belum ada satu kata yang terucap dari mulut ini. Si kakek pun duduk di kursi depan, satu meja dengan saya.

Lon hawa neuk jep kupi (saya pengen minum kopi)”, ujar si kakek pelan-pelan.

Neu peusan laju (pesan saja)”, kata saya pada kakek.

Obrolan santai pun muncul bersama kakek ini, ditanya mau kemana dan hendak kemana. Saya pun menjawab seperti percakapan biasanya, si kakek pun membuka beberapa lembar halaman koran di depan saya, sambil memesan minum.

Ka boh kupi saboh (buatkan kopi satu)”, ujarnya dengan nada datar kepada penjaga warkop.

Saya pun hanya terdiam, sambil memperhatikan raut muka si kakek, apa gerangan seribu yang dia minta tadi berharap bisa membayar satu gelas kopi. Setahu saya segelas kopi itu paling murah 2 ribu atau 3 ribu rupiah jika dekat jalan raya seperti ini.

Tapi apalah, saya tidak lanjut memikirkan itu. Mungkin si kakek memang meuhe’ut (ingin) sekali menikmati kopi di tengah siang hari begini. Segela kopi panas pun terhidang di depan si kakek, dia pun mengaduknya sembari menuangkan dalam piring kecil alas dari gelas kopi tadi.

“Slluuurrpppppp, Alhamdulillah” si kakek menyeruput dari piring kecil kopi yang dituangkannya sambil menyebut rasa syukur secara pelan.

“Terlihat beda saja wajahnya, sedikit lega”, bisik saya dalam hati. Tapi si kakek memotong seruputannya. Lalu dia berkata, namun saya kurang mendengar jelas apa lengkapnya karena suara kendaraan yang lewat begitu membisingkan.

“Tenang”, jawab singkat saya untuk menghargai pertanyaannya. Saya merasa si kakek ini hanya ingin memastikan dia bisa membayar kopi sepertinya.

Ada pelajaran menarik yang saya dapat saat bertemu dengan si kakek ini, apa yang diinginkannya walaupun segela kopi bisa dibayar lewat apa yang diminta kepada saya uang seribu tadi. Si kakek tidak menyebut nominal pecahan 2 ribu atau 5 ribu, tapi si kakek hanya ingin meminta sekedar saja walaupun hanya seribu rupiah.

Dan hal yang paling penting, saya belajar cara si kakek tadi untuk bersyukur atas apa yang diperolehnya. Ini yang menjadi bagian dari kehidupan kita, apa yang kita dapat sering kali kita melupakan kenikmatan itu berasal dari mana yang terkadang datang lewat perantara sesama manusia sendiri.

Kita bisa bayangkan, disaat umur kita tua nanti suatu hari seperti kakek tadi apa yang kita inginkan apa masih bisa terwujud, walaupun itu cuma segelas kopi yang hanya 2 ribu rupiah. Semoga, sering-seringlah kita bersyukur dalam kehidupan ini, karena nikmat yang diberikan Allah akan bertambah jika kita menjadi orang yang pandai mensyukuri nikmat-NYA.[]

Ilustrasi dari semboyan35.com

47 Responses

  1. Salam kenal…

    menarik cerita dan tulisan ini…saya bisa tahu bahasa Aceh yang tidak saya tahu sama sekali selama ini….namun dibalik semua itu, ada nilai dan makna yang bisa diambil dari hal yang paling kecil sekalipun….

    Bersyukurlah kita masih bisa menjadi bagian dari kehidupan ini…Alhamdulillah

    Keep Blogger Hood…!

    • salam kenal mas, semoga kisah ini bisa jadi untuk saling mengingatkan serta menjadi iktibar bagi semua🙂

      • Amin Ya Rabb….

  2. […] Na Peng Siribe?’, Inilah Kehidupan […]

  3. Salam kenal dan salam persaudaraan. Numpang lewat nih, apa kabarnya? Makasih ceritanya bagus, semoga kita bisa mengambil hikmahnya, sering mengucap syukur yang tulus atas semua karunia Allah. Kalau ada waktu banyak, silahkan berkunjung ke: OBYEKTIF.COM saya tunggu ya, trims atensinya.

    Salam kompak:
    Obyektif Cyber Magazine
    (obyektif.com)

    • salam kenal mas Anggoro🙂

  4. sangat berksan crtanya dan menjdi inspirasi bgi kta smua.
    tpi nampknya kbdayaan kta yg menjdkan uang seribe menyenangkan untk meminta. namun, kta tdak hanya menyalahkan para pminta jg dlm mmnta uang srbe sprti kakek trsbt. bsa sja dy hanya sbtang kara di krukuh, atw mamg ingn skali mnum kopi namun lupa membwa uang pchan seribe.

    • benar, setidaknya saya bisa mengerti sedikit dari perasaan si kakek dari wajahnya itu.🙂

  5. Sangat menarik…mameh that ceritajih…
    Banyak pelajaran dan hikmah hidup yg bisa dipetik dari penuturan kisah ini, gaya bahasa yg sederhana dan cukup santun.
    Semoga kita dpt mengambil hikmah

    • Terima kasih bg Zubir atas kunjungan dan komentarnya, semoga bisa menjadi pelajaran untuk sesama.

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: