Lewat Jejaring Sosial, Cut Dewi Ungkap Siapa Cut Farah


Ilustrasi oleh littlemikhael.wordpress.com

SUDAH lama sekali tidak menulis dengan kategori “pulitek” politisasi di blog ini, tapi sebuah tulisan yang bertebaran di jejaring sosial membuat saya harus membaca sekilas demi sekilas, karena jika serius saya bukan ahli untuk hal politik.😀

Apa yang terjadi di Aceh saat ini menurut beberapa blogger dalam status “hot”, begitulah kata salah seorang panglima blogger Aceh regional VI yang tidak bisa disebut namanya.

Alhasil peran media dalam pemberitaan pemilukada Aceh pun sangat jor-joran dengan beragam informasi yang bisa kita temukan dihampir seluruh media massa cetak/online baik lokal dan nasional, tentunya dengan beragam pandangan dan beragam cara.

Kepopuleran jejaring sosial memang saat ini begitu mewabah, wabil khusus di Aceh. Begitu banyak akun para politisi bermunculan disaat sedang “hot” seperti ini, walaupun terlihat dibalik layar akun tersebut bukannya mereka sendiri yang mengelola melainkan tim (ada juga yang dikelola secara pribadi).

Nah, masuk ke salah satu topik yang menurut saya sekarang lagi trending topic alias TT kalau di dunia Twitterland (linimasa Twitter, -red). Topik itu sebenarnya tidak jauh pada kemerdekaan menulis atau sering kita jumpai sekarang dikenal dengan tulisan warga yang berjenis opini/sudut pandang, analisis, fokus atau beragam istilah lainnya.

Sebuah tulisan di kolom opini Atjeh Post beberapa waktu yang lalu berjudul “Dia Bukan Lagi Teungku Agam” banyak menarik simpatisan dan pastinya komentator ulung, yah beliau adalah seorang wanita bernama Cut Meutia (Farah) begitulah yang tertulis disana.

Ternyata opini dari Farah yang menurut saya itu adalah nama pena yang diberi tanda kurung mengundang ratusan like Facebook serta puluhan komentar juga.

Menariknya, dalam sebuah opini di catatan kaki pasti kita bica membaca siapa penulis itu, setidaknya profesi atau jabatannya. Karena itu lazim dalam sebuah tulisan opini pada media cetak/online harus dicantumkan sebagai bagian dari sekilas identitas penulis. Disana pun tertulis kalau Farah adalah Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Limpoek, Aceh Besar.

Sebelumnya saya tidak membahas isi dari opini tersebut, tetapi saya melihat reaksi beragam orang yang terkejut pada identitas tersebut. Dan itulah yang membuat semakin menarik para wanita di Aceh dan luar sehingga membuat tulisan tersebut makin “hot”.😀

Secara iseng-iseng pun saya mencari tahu siapa sih wanita Aceh yang dinilai kontroversial tersebut, ini lagi-lagi saya lakukan iseng mengingat dunia Twitterland itu begitu terbuka.

Dan dari salah satu akun bernama Cut Dewi mengungkapkan hal tersebut kepada Mariska Lubis lewat akun Twitter juga. Semakin menarik saya jejaring sosial ini karena telah menghubungkan penulis, pekerja media serta pengamat dan komentar serta saya sendiri tentunya😉

Mariska Lubis, wanita kelahiran Bandung yang sering/sedikit banyak menulis tentang Aceh pun angkat “diari” dalam blognya dengan segala kerisauan hati dan tentunya semangat demokrasi bagi setiap wanita untuk tetap menulis dan bisa menerima segala kritik, dan salah satu komentar di blog itu datang juga dari Cut Farah Meutia (?).

Cut Farah Meutia di Google

Google sebagai mesin pencari terbesar saat ini memang jarang berbohong pada pengguna, beragam namanya tentang Cut Farah pun keluar (Cut Farrah Meutia, -red) dengan profesi yang pernah disandangnya, diantara “coordinator of the action, they have come to the JSC and informed them of about the hunger strike”, dan Perempuan Merdeka.

Hmm, seperti tidak ada kerjaan saja saya ini menelusuri orang di Google, mungkin anggapan seperti itu pasti bisa datang dari beragam orang, semoga tulisan ini pun tidak kontroversi ya🙂

Dalam setiap ulasan tulisan opini memang tidak ada judge dari satu sisi, karena lagi-lagi ini dikembalikan kepada pembaca untuk menilai secara lebih rinci atau jangan-jangan banyak pembaca sekarang melihat sudut pandang para komentator yang kini makin terdidik dengan kondisi Aceh pra-pemilukada yang sebentar lagi digelar.

Saya pun tidak berani menghakimi para penulis, karena keterbatasan ilmu dan bukan hak saya dalam tulisan ini untuk menghakimi mereka para wanita. Namun, ada kalanya juga dari sebuah identitas penulis bisa menjadi lebar kemana-mana, karena lewat jejaring sosial-lah seseorang bisa berkomunikasi dengan demokrasi, begitulah kata-kata yang sering kita dengar alias bebas dengan paham etik dari masing-masing pengguna socmed.

Sampai tulisan ini saya turunkan beberapa orang penulis, awak media, pimpinan partai, pendukung/tim sukses sedang bermain mention (sebut) di Twitterland. Semoga lewat jejaring sosial kita pun bisa semakin terdidik dalam membaca situasi, dan bagi yang ingin menulis jangan sungkan-sungkan untuk membuat blog karena tanpa media kita juga bisa lebih independen dalam menyuarakan suara hati.

Karena blog itu adalah jejaring sosial yang lebih dulu ada sebelum Facebook, Twitter, Google+ dan konco-konco jejaring sosial lainnya, akhir kata mari kita baca “Dudevant Melawan Dominasi Pria sebagai penutup tulisan awam ini.

~ Di awal malam, memasuki Maghrib di Lab. “Redaksi” HackMedia!

27 Responses

  1. jadi, tambah belajar neh… bagaimana nulis di blog yang baik….

    • setidaknya begitulah lah pak, belajar dalam menyikapi sebuah tulisan untuk tetap jadi dewasa😀

  2. makasih infonya .
    salam kenal yya .
    http://www.hajarabis.com

  3. ketinggalan lama beritanya, baru baca artikel nya sekarang🙂
    reaksi pertama: “what the hell?” hahaaa

    • hell just right hahaha😀

  4. thanx infonya…salam kenal slalu…

    • salam kenal kembali dan sukses dengan baju wanitanya🙂

  5. we can google almost anything these days.
    mulai dari nama pena (alias nama samaran) sampai nama asli😀

    • yes right sis tyka, Google bisa membuka sedikit dari aib orang😀

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: