Sabang, Surganya Wisata Bahari


TAK lengkap rasanya jika berkunjung ke Aceh, jika tidak berkunjung ke salah satu gugusan pulau di Aceh yang bernama Weh atau Sabang yang tepatnya berada paling ujung pulau Sumatera ini.

Di pulau ini beragam wisata bahari kian memukau mata, tidak hanya lokasi untuk bahari, tempat bersejarah peninggalan pasca perang dunia juga ada dan pastinya beragam potensi di Sabang membuat kita tidak mau sehari atau dua hari untuk melihat keindahannya.

Perjalanan saya kali ini memang terbilang singkat untuk melihat surganya wisata bahari di Sabang, hanya dua hari semenjak Kamis (28/7) sampai Jum’at (29/7) yang lalu adalah kesempatan pertama saya menginjak kaki di pulau ujung paling Sumatera itu.

Perjalanan yang ditempuh hampir dua jam dengan menggunakan kapal lambat dari Pelabuhan Ulee Lheue – Balohan membuat siang itu begitu leluasa menikmati pemandangan laut lepas.

Cuaca yang begitu bersahabat siang itu membuat garis-garis awan biru dengan nuansa putih saling melengkapi. Tidak ketinggalan disaat perjalanan baru menghabiskan waktu 1 jam, ikan lumba-lumba pun ikut menemani disamping-samping kapal sambil berlomba memperlihatkan diri kepada penumpang.

keindahan laut

Pemandangan laut lepas saat mendekati ke Balohan, Sabang. Dari kejauhan terlihat pergunungan Seulawah, Aceh Besar dengan gradasi biru.

Tak lama setelah pulau Weh kelihatan, kapal pun merapat ke pelabuhan Balohan. Pelabuhan ini memang dikhususkan untuk penumpang, baik yang membawa kendaraan roda dua atau roda empat. Di pelabuhan Balohan hanya tersedia dua jenis kapal yang merapat, yakni kapal lambat BRR dan kapal cepat seperti KM Pulo Rondo, KM Bahari.

Merapat ke pelabuhan

Kapal lambat sedang merapat ke dermaga pelabuhan Balohan, Sabang

Perjalanan pun dilanjutkan, karena lokasi untuk penginapan berada di Pasiran. Saya pun mempersiapkan momen untuk melihat sunset, tapi cuaca sore waktu itu tidak begitu cerah dan gerimis pun mengundang.

Pasiran sendiri merupakan kawasan, dimana sedang dibangunnya pelabuhan bebas (free port) yang direncanakan akan beroperasi 2014 nanti.

Tapi siapa tahu, gerimis disore hari itu membuat langit biru saat akan menyambut Maghrib. Sungguh indah pemandangan di sana. Dari kejauhan akan terlihat juga lampur mercusuar yang setia berputar-putar.

Pasiran

Inilah pemandangan di Pasiran, Sabang, disaat sore hari di depannya sedang dibangun pelabuhan bebas (free port)

Konon di Pasiran ini merupakan salah satu tempat yang sarat dengan kisah sejarah peninggalan Belanda dan Jepang, disisi rumah warga masih kita temukan tembok-tembok besar yang masih berdiri kokoh. Tembok-tembok yang dibuat menjorok ke arah laut itu memang sengaja dibuat oleh Belanda pada waktu itu untuk memantaua keadaan langsung ke arah laut lepas.

Tembok

Bekas tembok masa Belanda yang kini masih ditemukan dibeberapa rumah warga

Sore menjelang malam hari di Pasiran memang terasa dingin, semilir angin laut yang kental dengan desiran daun-daun saling menyuarakan keindahan alam. Niat ingin menikmati malam pertama di Sabang pun akhirnya tercapai, dari Pasiran ke kota Sabang memang terbilang sangat dekat, kurang lebih berjarak 4 atau 5 km.

Bangunan-bangunan kolonial Belanda diseputaran jalan Perdagangan masih sangat mudah ditemui, beberapa pertokoan dengan corak lama juga sangat terlihat jelas.

Mie Jalak

Mie Jalak di Jalan Perdagangan, Sabang, menjadi salah satu tempat untuk berwisata kuliner

Setiba di bilangan jalan Perdagangan, dengan sepeda motor kita bisa menikmati keramaian warga di malam hari. Toko-toko yang masih terbuka lebar dan transaksi jual beli masih saja terlihat disudut kota.

suasana malam

Suasana malam di jalan Perdagangan, Kota Sabang

Tidak heran juga jika ke Sabang dikala siang hari menjelang sore hari itu (sekitar pukul 11 – 15) aktivitas sedikit lenggang, karena banyak dari warga Sabang sering memanfaatkan waktunya untuk istirahat.

Berwisata malam hari pun saya akhiri akhirnya, karena untuk menikmati wisata Sabang di malam hari itu lebih sedap di pandang dari atas atau dikenal dengan Sabang atas di depan kantor Walikota, toh disini lampu-lampu rumah warga dan dermaga terlihat begitu jelas dan menjadi spot yang sangat menarik.

Wisata Sejarah dan Menikmati Keindahan Laut
Hari Jum’at (29/7) adalah hari kedua saya di Sabang. Memang hari kedua ini, jadi perjalanan yang singkat, berhubung harus menunaikan ibadah shalat jum’at, maka untuk menikmati keindahan laut akhirnya dilakukan setelah jum’at.

Setelah dapat rekomendasi dari pesan singkat, Pantai Sumur Tiga akhirnya jadi pilihan pertama untuk dikunjungi. Saat sampai disana, sebuah bungker peninggalan Jepang siap menyambut kita. Bungker yang terletak di atas bukit ini memang terlihat masih utuh, cuma fungsinya sudah dialihkan oleh warga setempat untuk keperluan sehari-hari (menyimpang barang malah ada yang dijadikan kandang kambing)😀.

Bungker

Salah satu bungker yang berada di atas bukit pantai Sumur Tiga, Sabang

Untuk menuju ke pantainya, kita harus turun beberapa anak tangga dan disana juga akan ditemui satu sumur yang jelas terlihat berdampingan dengan bungker lainnya.

Sumur Tiga

Keindahana pantai Sumur Tiga, Sabang dari atas dengan laut biru dan pasir putih menambah citra rasa berwisata air

Setelah melihat keindahan pantai Sumur Tiga dan mengabadikan beberapa gambar, suasana teduh memang terasa sekali disana. Dari kejauah terlihat beberapa turis asing bersama keluarga juga ikut mengabadikan gambar. Nah, menarik disini adalah sumur tiga yang benar-benar memang ada tiga dan salah satunya berada di pantai ini.

Bungker

Bungker lainnya yang terlihat langsung dari bibir pantai Sumur Tiga, Sabang

Lalu dimanakah dua lainnya? banyak yang bilang dua sumur lainnya berada saling berjauhan dan ketiga sumur itu menjadi tanda/sentral titik pertemuan untuk menandakan posisi.

Lima belas menit menikmati keindahan sumur tiga, lalu beralih lagi ke tempat selanjutnya. Pantai Anoe Itam menjadi pilihan berikutnya, karena jalur menuju kesana terbilang satu arah.

Benteng Jepang

Kawasan Wisata Benteng Jepang

Jalan yang berkelok dengan perbukitan yang serasi menjadi teman perjalanan hari itu, urusan infrastruktur seperti jalan-jalan di Sabang memang terbilang sudah memadai untuk dilalui dan ini terlihat keseriusan pemerintah setempat dalam menggarap potensi wisata yang sudah dikenal dunia.

Benteng Jepang

Benteng Jepang yang dipintu masukknya terdapat sebuah meriam tua

Setelah melewati perjalanan hampir setengah jam, sampailah di sebuah jalan setapak. Namun, masih tetap bisa dilewati dengan sepeda motor. Daerah ini terkenal dengan benteng Jepang yang sudah dipugar, sehingga menjadi kawasan wisata sejarah. Tidak jauh dari benteng tersebut akan terlihat pemandangan Pantai Anoe Itam.

Pantai Anoe Itam

Pemandangan pantai Anoe Itam dari atas benteng Jepang

“Anoe” yang berarti pasir dan “itam” yakni hitam, memang bukan sebutan saja. Pasalnya Pantai “Pasir Hitam” itu memang benar-benar terdapat disatu bagian dengan pasir yang berwarna hitam. Pantai-pantai seperti ini memang tidak terkenal untuk berselancar, karena tidak seperti ombak di Iboih dan lainnya.

Pantai Anoe Itam

Pemandanga benteng Jepang dari pantai Anoe Itam

Di Pantai Anoe Hitam beraneka ragam ikan cantik nan menarik cukup banyak, bagi yang ingin snorkling memang cocok disini. Selain air lautnya yang jernih, tumbuh karang juga terlihat begitu cantik.

Jalan di Sabang

Suasana jalan di Sabang yang berbukit dan berkelok

Dan sore pun akhirnya tiba, inilah perjalanan singkat ke Pulau Weh, Sabang. Dilain waktu kita bisa lanjutkan lagi dengan perjalanan menarik lainnya. Mencari tahu lebih banyak tentang Sabang dan segala objek wisata yang masih belum terekspos dengan segala pernah pernik sejarah yang masih perlu ditelusuri lebih lanjut.

Malam terakhir di Sabang tak luput mengunjungi arena Sabang Fair, tepatnya malam itu festival seni tari Aceh International Folklore Festival di gelar disana. Ternyata melihat antusiasme warga disana kedatangan tamu sangat luar biasa.

Inilah Sabang

Pulau-pulau kecil yang terlihat dari atas Sabang menuju ke Balohan

Masih penasaran dengan Sabang, ayo ke Aceh dan nikmati beragam wisata sejarah, religi dan masih banyak lainnya yang harus dilihat dengan mata kepala. Sayangkan kalau cuma dilihat lewat blog😀 atau TV tanpa melihat langsung dan merasakan surganya dunia.[]

94 Responses

  1. pengen ke sabang. asal ke aceh pasti nyangkutnya di lampahan terus.

    • Lah, kenapa di Lampahan sedikit lagi hanya butuh 2 jam sudah bisa ke Sabang padahal🙂

  2. Ya ampun, benteng jepang aja masih ada😀
    Kereeen banget😀😀

    • Selain benteng masih ada gua-gua juga lho iam, tapi blm sempat mengekspos lebih jauh karena waktu mepet, ayo ke Sabang🙂

  3. pantainya…., manteeeep uey…. ^_^

    visit me yap…..
    click here

    • ditunggu kunjungannya juga euy😀

  4. bagus banget pemandangannya.. smg bisa kesana menikmati alam ciptaanNya..

    • Amin, ditunggu disana ya dan ajak teman-temanya juga😉

  5. wwwaaaahhhhh. …jadi pengen kesana .
    salam kenal dari kami
    http://www.hajarabis.com

    • Mari, kapan lagi hajar keindahan sabar bos😀

  6. kalo ke objek wisatanya harus sewa kendaraan ya? ga ada public transportation?

    • untuk saat ini bisa sewa aja bang Nopan, tidak mahal-mahal kok baik itu roda dua atau empat sesuaikan dengan kantong saja🙂

  7. Apakah saat ini kondisi aceh sudah aman untuk wisata?

    • Mari berwisata, aman kok🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: