Berdalih HAM, Lalu Menyerang Syariat?


Muslim

Ilustrasi: ddhongkong.org

SEBUT saja mereka aktivis, ya mereka adalah aktvitas nomor wahid dalam membela setiap manusia yang tertindas. Tertindas oleh masa, peraturan, maupun oleh uang yang mungkin sedang bergerak dibelakang layar.

Lagi-lagi, Aceh menjadi objek yang tak pernah habisnya untuk terus diuji. Setelah diporak-porandakan oleh musibah tsunami “ie beuna” tahun 2004 lalu, baru-baru ini juga (tahun 2011) dihebohkan dengan merebaknya aliran sesat nan bergejolak, dan yang terbaru saat ini adalah aktivis yang berdalih HAM kini ingin/sedang menyerang syariat Islam. Benarkah demikian?

Berbagai kolerasi jika ditelisik satu persatu antara berbagai lembaga, non-goverment organizatiaon (NGO) atau apa pun itu yang bergerak dengan membawa “lambang” HAM (Hak Asasi Manusia) cukup beragam. Islam dan HAM, menurut hemat saya adalah masalah fitrah yang ingin selalu ditegakkan.

Kali ini mungkin bukan ingin membahas apa itu hak, apa itu azasi dan apalagi itu manusia. Rasanya  bukan kapasitas saya untuk melihat lebih detail tentang itu semua. Mungkin rujukan seperti tulisan yang membahas hukum Islam dan HAM, HAM dalam perspektif hukum Islam, dan sebagainya bisa Anda cari di dunia maya yang begitu banyak bertebaran dengan berbagai sudut pandang, baik liberalis, radikal, orientalis, sekuler atau pun atheis.

Berbicara tentang Aceh, tentunya tidak lepas dari nilai-nilai agama Islam. Sebagai propinsi yang  paling ujung barat Indonesia ini, sejak tahun 2002 memproklamirkan diri sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam (SI). Yang namanya peraturan pastinya tidak pernah berjalan mulus seperti dibayangkan, goncangan luar dan dalam tetap saja ada.

Ibarat kata seperti diri pribadi ini yang mempunyai dua sisi, baik dan buruk. Kedua hal ini tentu pintar-pintarnya kita dalam memanej diri, kembali lagi pada fitrah diri sebagaimana Allah telah menciptakan setiap makhlukNYA yang paling sempurna di antara ciptaan makhluk yang lain. Akal pikiran serta hati menjadi sesuatu yang berperan penting disini.

Kembali pada syariat tadi, jauh sebelum pemberlakuan SI tahun 2002. Sekitar tahun 1999, masyarakat Aceh Selatan, pernah menjadi saksi pemberlakuan hukum cambuk (rajam) yang sungguh menggemparkan warga di Kecamatan Blang Pidie, yakni dengan hukuman dera sebanyak 100 kali karena terbukti berzina.

Saya juga tidak begitu tahu apakah kabar seperti ini sudah terkover oleh mereka aktivis HAM yang menilai syariat melanggar HAM, semoga saja database mereka lengkap betul dengan data-data orang yang telah dicambuk di Aceh. Siapa tahu juga mereka telah menulis lengkap, bahwa kalau Sultan Iskandar Muda ternyata orang pertama yang melanggar HAM di Aceh, yang menghukum anaknya sendiri Meurah Pupoek sampai mati.

Human Right Watch (HRW), diakhir tahun 2010 juga mengeluarkan statement untuk menarik hukum SI di Aceh. Permintaan mereka pun langsung ditembuskan untuk Presiden terhormat agar segera melakukan pencabutan penerapaan syariat Islam di TKP (baca: Aceh). Yang lucunya dari laporan HRW, yakni tentang kesaksiaan nyeleneh dari narasumber yang mereka jadikan alasan. Entahlah mungkin redaksi mereka mencari fakta dilapangan didik seperti itu.

Sam Zarifi

Sam Zarifi/Foto: Amnesty International

Tidak bertahan setahun, Amnesty International (AI) juga melakukan sambutan yang sama dengan kawan “sesaudaranya” HRW. Namun, kali ini versi yang dikeluarkan oleh AI melalui Sam Zarifi yang diberi kehormatan untuk menjabat Direktur Asia AI, hukum cambuk itu sakit bagi korban, takut, malu dan emblem-emblem lainnya dengan mengaitkan sisi tertinggi PBB sebagai acuan utama. Bagi saya itu juga pernyataan yang lebih nyeleneh dari yang dilansir oleh HRW😀

Yang mengejutkan juga ternyata datang dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) yang menyayangkan masih berlangsungnya hukuman cambuk yang dilakukan oleh Pemerintah Khusus Istimewa Aceh, seperti dicatut oleh Okezone (27/5).

Setelah AI mengeluarkan pernyataan tersebut, aksi masyarakat Aceh dari pantauan saya kian bervariasi. Dunia maya lewat jejaring sosial pun bergejolak, Twuips, Facebooker, bahkan ulama dan pemimpin di Aceh sebagai garda terdepan, juga “update status” menjawab pernyataan AI semua itu dengan versinya masing-masing lewat media lokal dan nasional. Semoga media internasional juga memuatnya.

Salah satu isi tweet yang membuat saya kaget ternyata datang dari seorang penggiat media, “Amnesty International minta hukum cambuk di Aceh dihapus. Sbg org Aceh,gw setuju akn permintaan tsb”. Dan mungkin masih banyak isi tweet atau update status yang lain terlewat untuk saya kover, karena setiap pendapat layak untuk dihargai. Karena jika tidak itu juga melanggar HAM.

Berbagai tulisan yang membantah AI atas pernyataan Sam juga banyak kita temui dan menghiasi berbagai headline di surat kabar online dan cetak di Aceh. Rata-rata memilih jawaban selaras dan mengatakan hukum cambuk itu tidak melanggar HAM.

Tidak hanya itu tulisan yang panjang lebar dari Ketua Biro Dakwah Dewan Da’wah Aceh, yang menjabat sebagai dosen di fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Muhammad Yusran Hadi juga bisa menjadi salah satu referensi untuk menggugat AI yang telah melakukan kecurangan terhadap HAM. Begitu juga dengan tulisan Wahyu Ichsan (Ketua Umum IMAPA – Jakarta) yang meragukan kredibitilas AI dah HRW, semoga KontraS tidak ikut diragukan juga (orang Aceh hilang saja belum terselesaikan)?😀

Begitulah kilas negeri para raja-raja yang kini diserang dengan berbagai siasat laknat musuh-musuh agama. Tidak ada lagi perang senjata, seperti para endatu dulu yang harus mengangkat klewang, rencong dan bedil melawan khape. Kini perang pemikiran yang jauh lebih cepat mengatur siasat untuk mengaduk-ngaduk Aceh ditangan “lawan”.

Percayalah, mempunyai lawan itu barang tentu bukan hal yang tenang. Aceh bukan lagi seperti masa kesultanan dulu yang ditakut oleh bangsa-bangsa dunia. Kini hanya tinggal tanah hentaman air bah tujuh tahun yang silam, yang segala perbedaan nyata di depan mata. Hanya mengharapkan setiap generasi menyiapkan “senjata” dalam bertahan dan sesekali untuk menyerang lawan. Lalu membangun bersama Serambi Mekkah seperti apa yang telah di amanatkan dari pendahulu dan tidaklah bercerai berai.

Akhirnya kata sebagai penyemangat jiwa pembaca semua, musuh Islam itu sudah nyata, “Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengingkuti agama mereka..” (Al-Baqarah: 120).

Dan untuk kita generasi Aceh, belajarlah agama dengan sepenuh hati dan janganlah setengah-tengah (baca: Islam-lah secara kaffah), “Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia memberantasnya dengan tangan (kekuasaan) nya, lalu jika ia tidak mampu maka memberantasnya dengan lisannya, lalu jika tidak mampu maka memberantasnya dengan hatinya dan demikian itu peling lemahnya iman.” (HR: Bukhari)

Semoga tulisan singkat ini menjadi catatan bahwa Aceh sedang “dijajah”, dan sampai kapan ini terjadi? Dalam sebuah catatan, kegemilang Aceh akan terjadi lagi saat “The Aceh Code” telah kita penuhi dan jalankan dengan seksama. Wallahu’alam

47 Responses

  1. Saya melihat bahwasanya kebanyakan mahasiswa di nanggroe kita tidak memiliki ilmu agama islam yang mereka anut kecuali sangatlah sedikit yang tidak cukup untuk membendung berbagai gejolak dan syubhat(keragu-raguan) dari musuh-musuh islam. Maka kedok yang telah Bang Aulia singkapkan tersebut sangat luar biasa, dan salah satu solusi yang gemilang adalah mengembalikan pemahaman para mahasiswa nanggroe kita terhadap agama mereka dengan pemahaman yang benar dan lurus, dan hanya pada islam lah semua jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapi ini ada.

    • Itu hanya sekelumit masalah umat, semua ini berpulang pada kita, mengajak teman, sahabat kita bahu membahu kembali dalam tatanan seperti pedoman kita Al Qur’an dan Sunnah. Semoga kita tetap diberikan kekuatan dan nikmat iman untuk membentengi diri dari segala serangan.

  2. terkadang emang HAM lbih dikedepankan daripada syariat
    itu karena mereka tidak memandang kedepan positifnya jika syariat dilakukan.

    • padahal dalam syariat telah diatur lengkap tentang HAM

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: