Wow, Ada JIL di Aceh


Pluralis

Ilustrasi : Google Images

INI bukan barang baru, tapi bagi saya adalah hal baru saat tahu yang bernama JIL itu ada dipelosok negeri bersyariat Islam, Aceh.

Barangkali yang kita tahu JIL itu Jaringan Islam Liberal, yang boleh dikata (baca: menurut pandangan orang JIL) bukan aliran sesat atau ajaran sesat seperti yang telah dilansir oleh berbagai media, bahwa di Aceh sudah ada 14 jenis ajaran yang telah menyimpang dari syariat Islam, namun disana tidak terdapat nama JIL yang tertera.

Bukan masalah aliran sesat yang kali ini ingin saya umbar, bukan pula mengungkap tentang JIL yang sudah banyak dikenal orang. Namun, satu hal yang saya baru tahu karena pemikiran dari JIL telah merogok ke dalam media lokal di Aceh pada khususnya.

Saat media nasional cetak dan elektronik sibuk dengan topik berita sidang “pariporno” (ingat berita Ariel “peterporn” yang juga dilecehkan, siapa yang memulai membuat istilah seperti itu), namun di negeri syariat sibuk dengan berita demo, granat, bakar-bakaran, mesum, cambuk dan amuk massa, dengan berbagai versi dan kode etik masing-masing memberitakan secara gamblang bahwa bad news is good news atau sebaliknya.

Benar kalau memang semua berita layak diwarta, mau positif dan negatif semua itu tergantung pembaca yang menilainya. Ya, karena saya termasuk salah satu peminat dan pembaca media lokal yang intens dalam sehari-hari dengan topik-topik khusus. Apa kurang berita lokal di Aceh yang berbau positif, ya paling tidak bisa bernilai dan manfaat bagi pembaca lainnya, bukan sumpah serapah, kata-kata “ajimat” hewan-hewan yang keluar dari pembaca.

Mengutip kata-kata dari Adian, “sekarang ini era kebebasan, eranya orang boleh menyebarkan apa saja”. Mungkin ini bisa jadi sebuah masukan dimana kepopuleran jejaring sosial, sebut saja Twitter dan Facebook, seakan-akan berita di dunia telah tercover lewat media tersebut.

Jadi tidak hayal, kalau media-media cetak atau online mengawali inspirasi berita salah satunya dari kicauan seseorang atau pun dari status list friends mereka sehingga diangkat oleh redaksi jadi berita. Itu adalah sebuah keterbukaan informasi, yang bisa diakses oleh siapa saja, dan boleh dikemas bagaimana saja, maupun berformat 5W + 1 H dari jurnalistik.

Keterbukaan informasi seperti itu sah-sah saja, asal semua tercover dengan baik dan sesuai fakta. Namun, apa dikata faktor kepentingan juga ikut mewakili dalam setiap pemberitaan menurut hemat saya.

Kembali pada JIL di atas, kenapa saya mengatakan pemikiran JIL mengerogoti tubuh media lokal di Aceh? bukan mencari alasan atau tidak, dari berbagai pandangan (ini bersifat opini) maupun kenyataan yang saya dapat dari berbagai sumber, ternyata pemikiran tersebut berdampak pada perlakuan syariat Islam di Aceh, lalu apa hubungannya dengan media lokal? jawabannya banyak atau setidaknya beberapa penggelut jurnalistik di Aceh antipati pada Syariat Islam atau lebih gamblang ANTI SYARIAT walaupun KTP berlabel Islam.

Pluralis

Percaya atau tidak ini kembali pada penilaian Anda yang membacanya, baik mereka yang bergelut di media lokal atau nasional. Kian hari pencerahan terhadap negeri Syariat kian tidak mendapat dukungan, belum lagi yang dulu sempat heboh oleh pernyataan dari organisasi HRW (Human Right Watch) yang bermarkas di New York, Amerika, tentang pemberlakuan Syariat Islam di Aceh.

Lalu, adakah solusi untuk hal seperti ini? tentunya untuk menjawab hal ini semua bisa membutuhkan banyak jawaban. Menyadari pemikiran orang yang telah teguh pada prinsip pluralis, sekulerisme, antipati, dan sebagainya terhadap Islam di Aceh memang seperti menyadarkan 14 golongan di atas (14 aliran sesat di Aceh, red).

Karena pengaruh pemikiran yang semakin bebas, membuka cakrawala yang semakin bebas pula. Serasa hal-hal kecil yang tanpa aturan bisa berlaku sebagaimana mestinya tanpa aturan yang telah ada, sehingga melahirkan hal-hal besar yang dibutakan dan berdampak bagi umat banyak (pembaca).

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui”. QS 45 (Yang Berlutut) : 18.

Satu hal dari pandangan awam saya terhadap pewarta, semua hak/kewajiban Anda dalam menyampaikan berita yang dilindungi oleh UU jangan sampai mengotori nama media, apalagi jika media turut serta mendukung dengan segala hak kuasa, ya itu adalah hak Anda dalam mencari sesuap nasi. Semoga pembaca bisa terdidik, tidak terhardik membuat keruh pemikiran masyarakat lain. Wallahu’alam[]

~ Tulisan akhir pekan dikala derita bangsa Aceh dalam menyimak berita kian ternoda, ambil hikmahnya saja, kurangnya beritahu saya.

52 Responses

  1. saya baru tau arti JIL setelah baca2 disini.hehe

    • padahal isu ini sudah berkembang lama lo mba

  2. Itu karena pandainya jamaah JIL menyusup di setiap ruang dan waktu. Aku sendiri cuma bisa berdo’a dan diakhiri dengan pasrah pada sang Khalik .

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    • Amin, semoga yang bathil akan terkalahkan dengan yang hak.

  3. apa sih sebenarnya JIL itu kurang ngerti deh sama yg beginian

    • seperti yang telah ditulis di atas, mungkin untuk tahu mendalam bisa mencari di Google tentang apa itu sebenarnya JIL!

  4. […] lainnya. Yang lebih wah lagi saat saya membaca kata portal (pintu masuk) dengan melabeli diri media daring, apakah sudah benar kata portal dengan tampilan situs yang seadanya? seadaanya dalam artian tata […]

  5. semoga Allah selalu menunjukkan jalan terbaik bagi saudara ku tercinta rakyat aceh,,amin…

    • Amin, terima kasih donya Fitra🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: