Syariat Islam di Negeri Serambi Mekkah


syariat islam

Ilustrasi: acehdesain.wordpress.com

ENTAH apa yang terpikirkan atau terbayangkan oleh mereka atau pun Anda yang menonton tayangan ditelevisi saat Aceh disorot dari Syariat Islam, Gempa dan Tsunami, Ganja atau pun lainnya.

Tentu beragam perasaan dan hayalan tentang “kekejaman”, kesedihan, kemegahan si daun jari menjadi satu yang kadang sulit dipisahkan.

Tapi apa daya saat syariat disorot, berbagai media di dunia nyata atau maya kian kepincut. Tentu ini adalah bahan lama alias cerita klasik (hangat-hangat kuku kalau tidak mau dibilang taik ayam), saat diangkat semua terbakar emosi, sibuk membicarakan, bahkan menuduh tanpa alasan dan paling parah menodai sampai ke arah SARA, yakni agama rahmatan lil’alamin.

Sungguh sedih, saat membaca beragam suara warga yang mungkin terwakilkan lewat twitter yang sangat mengiris hati atau mereka yang berbicara tanpa ada hati mungkin.

Memang kadang akan berpikir kejam, disiram comberan, dihakimi masa, kalau ketahuan mesum, dicambuk, kalau ketahuan jualan nasi siang hari, dan masih banyak lainnya, tapi buat mereka yang korupsi, sogok, orang-orang elit ‘berdasi’ siapa berani (belum ada warga main hakim ke rumah pejabat disiram comberan) tanpa ada saksi, kalau pun ada saksi dibelakang ada saksi kunci (backing).

Siapa sih yang ingin hukum rimba?, dihambo massa, ditelanjangi warga, dan tentu masih banyak lainnya juga. Tapi tanpa sadar, ucapan-ucapan seperti itu dari orang-orang yang melihat dari sisi “pribadi” malah lebih rendah dari apa yang dirasakan oleh orang yang tahu lebih dalam Aceh lewat sejarahnya. Lebih baik bicara ala kadar seperti yang dirasakan dan dilihat disana.

Jangan hanya bicara dan lihat Aceh lewat Syariat Islam yang disahkan tahun 2001 yang silam, tapi lihatlah Aceh dari cita-cita endatu terdahulu, bahkan seorang kaphe Belanda, Mr. Der Kinderen berani mengatakan “Masa jaya Aceh, ketika hukum Islam berlaku.” (De Atjehers, hal 14).

Dinas Syariat Islam, bukan sebuah lembaga yang independen layak seperti KPK. KPK yang ditakuti oleh lembaga-lembaga lain, dimana pun terjadi tindak korupsi, KPK berada digarda depan membasmi (berpikirlah lebih keras dibalik kata-kata ini).

Namun, Dinas SI belum mampu. Kadang masih “ditindas” oleh kelembagaan tersendiri. WH yang juga manusia bagian dari Dinas SI, tidak luput juga dari kesalahan untuk berbuat salah. Tentunya kemampuan untuk tegas dengan hukum yang dinamakn Qanun harus rata, mulai dari orang bawah sampai orang atas.

Memang tidak salah, prinsip-prinsip syariat Islam itu sendiri harus kembali dipahami oleh masyarakat Aceh, dalam bahasa Aceh dikenal dengan istilah “bek sampe gadoh maruah bangsa”.

Masih banyak persoalan lainnya, yang sama-sama harus didukung tentu bagi orang-orang yang mengerti dan tahu akan sejarah Aceh masa lalu dan duduk persoalan yang dialami sekarang. Jangan hanya bicara, picingkan mata ibarat kata melihat sesuatu hanya dari luar semata (casing).

Betapa banyak orang luar menilai syariat Islam hanya sebagai pembawa pelanggaran hak asasi manusia (HAM), tidak hanya orang asing melainkan orang lokal sendiri. Namun, jika berkenan sedikit mengingat sejarah Nabi Muhammad SAW yang diperintahkan Allah sebagai orang penegak HAM (HAB – Hak Asasi Binatang, juga Nabi yang memperkenalkan pertama) pertama tidak pernah menentang akan ajaran dan larangan Allah, tapi sekarang beda cukup banyak manusia yang hanya berbicara tanpa tahu apa yang dibicarakannya. Walaupun ujung-ujung penghinaan yang terjadi, sekalipun tulisan Islam berada di KTP.

Semoga kebaikan untuk orang-orang yang menginginkan Aceh dan Islam menyatu tetap diberikan kemudahan oleh Allah, dan bagi bangsa Indonesia sendiri pada umumnya jangan mudah terprovokasi dalam menyeroti setiap sisi dari keberagaman bangsa ini.

Yang jelas, siapa pun yang terkait dengan pembenahan Dinas atau instansi baik pemerintahan maupun diluar harus tetap bisa memberikan masukan yang berarti kedepan untuk sesuatu yang lebih ril, bukan tambah menghancurkannya, tanpa melihat pangkat atau jabatan dimata hukum adalah sama untuk ditegakkan.[]

Mohon maaf jika ada salah kata dan maksud yang tidak tersampaikan kepada pembaca yang budiman.🙂

47 Responses

  1. setuju saya…. gbrnya lucu jg😀

    • setuju ma gambarnya ya om😀

  2. itu gambar awalnya foto asli ya?
    wah klo iya, ketahuan siapa orangnya. habislah.

    • Pastinya foto asli, cuma gak tahu si rajak yang olah jadi ilustrasi untuk menjaga privasi si pemilik foto😀

  3. wah, mantrap sekali tu ilustrasinya….
    nice.
    bereh that blog droeneuh. nyoe sang kapayah neuolah ata lon siat!!hihi

    • hehehe, pane na, ka lon tuleh2 laju hai bang saini…
      ata blog dron pu kureueng teuma🙂

  4. kalau penerapan syariat islam di NAD banyak menuai pro dan kontra anggap saja itu sunnatullah yang perlu diambil hikmahnya.

    namun kalau penerapannya sudah tepat guna dan tepat sasaran ( berhasil mengantar masyarakat aceh menjadi sejahtera > dirahmati allah ), insyaallah yang kontra ( jempol dibawah ) akan menjadi pro ( jepol diatas )

    • InsyaAllah, semoga tetap diberikan kemudahan dalam menjalankan syariat Islam ini.

  5. […] Alamat Blog Share this:EmailPrintFacebook […]

  6. rambu rambu islam masih kurang di aceh, anggarnya utk rambu bisa ditingkatkan dan juga penerangan syriat islam masih banyak yang belum tersosialisasikian.

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: