Meng-online-kan Indonesia Sampai ke Pelosok Negeri


internet dan warung kopi

Kebutuhan anak muda Aceh akan internet murah dan terjangkau sudah sangat mendesak. Selain untuk pendidikan, internet juga dibutuhkan untuk menjalankan bisnis dan kebutuhan lainnya. Foto: Roni Muchtar/Hinamagazine

ERA digital sudah didepan mata bahkan sedang kita hadapi, mau tidak mau kita telah berada dalam koridor ini. Kemajuan teknologi informasi yang makin berimbas pada pesatnya informasi yang berkembang tanpa henti. Ada hal menarik yang jika kita lihat secara seksama, seberapa penting masyrakat Indonesia mengenal dunia ini (baca: teknologi informasi).

Melihat menjamurnya pengembangan infrastruktur dimana-mana, (mungkin) juga sudah mewabah ke pelosok desa dan itu tidak semua merata. Kita tahun pemerintah dan berbagai instansi atau lembaga ikut mendukung dengan gejala perkembangan laju arus informasi yang makin sering diakses oleh berbagai kalangan, dari para anak sekolah sampai mereka para pengusaha kaya raya pun.

Lahirnya teknologi disaat seperti ini telah menembuh crakrawala dunia, tidak membatasi usia bahkan profesi sekalipun, namun bisa bertemu dalam satu wadah yakni dunia maya. Siapa sangka, internet yang mulai dikenal saat ini dengan berbagai lapisan usia telah membawa Indonesia ke arah yang sangat terbuka dalam mendapatkan informasi.

Gejala yang ada dalam masyarakat pun mulai menunjukkan gejala-gejala dengan hadirnya internet tersebut, mungkin dulu kita akan begitu susah untuk mendapatkan koneksi internet, harus repot-repot ke warung interntet (warnet) atau pun mencabut kabel telepon untuk disambungkan ke komputer.

Fenomena Warung Kopi
Untuk melihat geliat dari maju penyediaan akses internet, tidak perlu jauh-jauh. Saya melihat fenomena ini sebagian besar ada di ujung pulau Sumatera, apalagi kalau bukan Aceh. Serambi Mekkah yang terkenal dengan sebutannya, kini juga mendapat julukan baru dengan negeri seribu satu warung kopi (warkop), hampir dapat dipastikan disetiap pelosok desa bahkan sampai ke kota jika kita melintas jalur darat melewati Medan, hampir tidak ada setiap pinggir ruas jalan raya pasti terdapat warung kopi.

Menariknya, dikota-kota seperti Banda Aceh yang menjadi ibukota provinsi adalah pusat dari warkop ini. Muncul warkop setelah tragedi Tsunami tahun 2004 silam, kian menjamur dimana-mana. Memang, balutan untuk warkop ini dikemas dalam bentuk istilah modern dengan nama sebutan cafe, namun intinya bagi masyarakat Aceh ini tetap dikenal dengan warkop.

Sebelumnya, sekitar tahun 2006, Aceh pernah didengungkan untuk dijadikan sebagai cyber province pertama di Indonesia. Namun, entah mengapa pengadaan infrastruktur itu selalu tidak berjalan sebagaimana gaung yang beredar, walaupun banyak media yang memuat tulisan yang bertajuk cyber province hanya seputar wacana dan wacana.

Semenjak berjamur warkop inilah sekitar akhir-akhir tahun 2008, disetiap sudut kota Banda Aceh, secara tidak langsung mulai merambah dengan berbagai jaringan-jaringan nirkabel (wireless) disudut-sudut warkop. Secara tidak langsung, ini adalah teknik pemilik warkop dalam menarik pelanggannya yang rata-rata digandrungi oleh anak-anak muda dan bapak setengah baya agar tetap menjadi tempat favorit mereka sebagai tempat nongkrong.

Dari sebuah pola atau cara promosi menarik ini dari pemilik warkop-warkop tersebut, bisa kita lihat bahwa usaha kecil sekelas warkop/cafe setidaknya telah meng-online-kan masyarakat awam atau kota untuk bisa menikmati kecanggihan sebuah teknologi informasi yang akan tetap terus berkembang. Selebihnya tentang penggunaan internet itu sendiri, tetap sepenuhnya berada di tangan para penikmatnya, diantara dua mata pisau, itulah internet yang ada sekarang ini.

Satu seduhan kopi dari gelas-gelas yang mengepul asap ke penikmat kopi, telah mengantarkan jari-jari mereka untuk berjelajah keberbagai belahan halaman demi halaman menembus batas dunia.[]

53 Responses

  1. berkunjung ke mari…

    warkop di banda aceh yang ada wireless memang sudah kelewat menjamur… hampir di setiap sudut ada,

    *selalu rame pengunjung*

    • Pastinya dari pagi ampe malam buta tetap aja penikmat setia, walaupun ada yang kontradiktif, tapi itulah cara untuk menarik pelanggan dari jam ke jam.😉

  2. belom apdet lagi kak???🙄

    • iya nih, lagi berurusan dengan hal-hal lain selain online😉

  3. masuk ke soewoeng.com ngak ya mereka? jangan jangan malah menghujat hehehehe

    • mungkin mas suwung belum promosi, kalau sudah dipromote bakal rame yang berkunjung ke sana😉

  4. wah mendingan warkop di aceh yg ada wireless, pernah tuh aku berkunjung ke kota manggar yg terkenal juga dengan warung kopinya, warung kopi yg tersebar di setiap sudut jalan dan pasar, isinya orang-orang bermain kartu remi dan gaple.

    • Mungkin di Manggar belum tersentuh infrastruktur yang memadai kali mba, sehingga tradisi lama seperti main gaplek, kartu dan lainnya sebagainya masih mendominasi, padahal hanya tinggal sentuhan saja dari mereka yang berpikir kreatif dan berpotensi dalam memajukan masyrakat sekitar untuk bisa melihat dunia luar secara luas.🙂

  5. Juga Online kan segala sisi yang menarik dari Aceh. Biar jangan identiknya dengan ganja melulu😦

    • Betul, selain ganja juga tsunami, gam dan sebagainya sudah menjadi ciri khas aja dari Aceh. Jangan sungkan2 juga buat menulis di AcehPedia.org. Promosi!

  6. […] Wikipedia Berbahasa Aceh Lahir!. Jadi, tunggu apalagi, selamat ber-wiki wahai aneuk Nanggroe, manfaatkan fasilitas yang ada kapan pun dan dimana pun kamu berada dan perkenalkan kepada masyrakat luas lainnya.[] -6.211544 […]

  7. wah bagus neeh semoga bisa dilaksanakan, amin🙂

    • sip deh pokoknya🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: