Negeriku Kadang Lebai


nasionalisme

Ilustrasi : desaingrafisindonesia.wordpress.com

FENOMENA negeri ini yang terus diliputi isu dan wacana, bahkan sampai masalah serius pun, kadang tak urung rakyat bersikap pesimis terhadap bangsanya sendiri. Tidak pelak, fenomena lain juga timbul seiring waktu berjalan dengan umur kedewasaan bangsa Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya yang sudah lewat dari setengah abad ini–untuk membuktikan sebuah bangsa yang besar dan bermartabat serta terbebas dari atas segalan penindasan dan penjajahan bangsa luar.

Kembali pada sebuah kosakata yang belum terakreditasi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yakni kata “lebai”. Mungkin ada banyak orang mengenal kata tersebut dengan tulisan lebai, namun ketika kata kunci (keyword) ini dicari pada mesin pencari akan dirujuk pada sebuah kata yang bertuliskan lebay. Yang penting dari kata tersebut adalah dari artinya yang mencoba tetap merujuk pada satu hal yang sama, yakni bermakna berlebihan atau membuat sesuatu/hal untuk dibesar-besarkan apa pun itu konteksnya.

Mengaitkan dua hubungan antara negeri dan kata lebai memang bukan sesuatu yang tidak mungkin, dengan berbagai realitas yang ada disekitar kita. Saya mengira kata itu cocok dengan kondisi yang ada saat ini. Lebih rinci kita bisa melihat lebih dalam, dan tidak mungkin mengeneralisir kata-kata pada semua aspek kehidupan. Satu hal yang mungkin akan tercermin adalah pada rasa nasionalisme.

Kebanggaan yang telah terpupuk sejak dulu, sejak Indonesia menjadi negara yang diakui oleh negara-negara dari bagian benua Asia tidak pernah begitu ’diremehkan’ seperti saat ini, hutang negara, kasus korupsi, sampai kasus yang makin menjadi-jadi, seakan raungan ’macan Asia’ yang dulu ada dan dibanggakan kini telah mulai pupus sudah. Walaupun tidak semua hilang, namun semangat rakyatnya kian terlihat dan menjurus diberbagai penjuru negeri ini berdiri, dari sikap inilah kelihatan lebai-nya negeri ini. Tidak selalu harus merasa terpojok pada aturan yang terus terkekang pada pemangku kepentingan, tidak selalu harus mengkritik para petinggi negara, namun bisa menjadi rakyat yang tahu akan mindset untuk berpikir solutif selain kritis.

Mencoba mengingat kembali, apa yang pernah dikatakan oleh seorang patriot bangsa yang mencoba untuk terus menjaga bangsa ini yang diakui memiliki kekayaan laut yang begitu luas, sebenarnya bisa jadi tolak ukur untuk kita bisa menjadi orang yang peduli dengan nasib bangsa ini.

“..jika kau tanya apa jasaku, akan aku jawab tidak ada. Jika kau tanya apa baktiku, akan aku jawab tidak ada. Aku hanya melaksanakan kewajiban, tidak lebih tidak kurang. Bahkan bendera Viktory yang kukibarkan bukan pula bendera pahlawan, tetapi hanya bendera kewajiban yang akan tetap kunaikkan..” Itulah sepenggal kata dari Komodor Yos Sudarso.

Jika sekilas kita melihat semangat yang telah dikatakan oleh Yos Sudarso, memang berada dalam konteks menjaga tanah air dari pengaruh luar, namun jika seksama merujuk pada satu prinsip yang ada yakni kewajiban menjaga negeri ini dari pengaruh yang berdampak merosot.

Mengutip apa yang pernah ditulis oleh Moch. Tohir dalam tulisannya “Terkikisnya Jiwa-jiwa Nasionalisme”, ada satu paragraf yang disandangnya sebagai pijakan negeri ini untuk mengerti dengan kondisi yang dialami saat ini, yakni “Di saat kondisi bangsa Indonesia yang seperti ini, seharusnya bangsa Indonesia tidak perlu jauh-jauh mencari kambing hitam ke sana ke mari tanpa ada solusi yang jelas.” (Kabar Indonesia, 8 Januari 2010).

Tidak begitu lebai jika kata-kata demikian mampu membuat kita, bangun dari zaman globalisasi seperti ini. Atau mungkin kita hanya bisa menjadi generasi 3F (fashion, food, fun) seperti yang pernah diutarakan oleh Sumbo Tinarbuko dalam tulisan ”Menjadi 100% Indonesia”.

Semoga tulisan ini jadi sebuah pengingat massal untuk negeri ku ini, jika anda tahu arti dari ungkapan 3F, sungguh kenyataan itu telah merongrong negeri ini jatuh kedalamnya. Mari mulai dari diri kita, dengan hal yang kecil bisa kita lakukan pada lingkungan yang ada disekitar, tidak selalu mengeluh dan hadapi perubahan global untuk bisa lebih cinta pada negeri ini. Sehingga generasi yang lahir pun tidak ikut lebai searah perubahan yang akan datang nantinya.[AK]

19 Responses

  1. wah, lebai udah meluas nih maknanya ya sampe dipakai untuk negeri…
    jiwa nasionalisme memang sudah memudar, kita lebih akrab dengan budaya luar dan akhirnya melupakan budaya sendiri

    • mungkin ini juga pengaruh dari pendidikan yang kita punya saat ini, malah kita sering sepele dengan hal kecil, sehingga saat budaya luar masuk (ex. Teknologi) kadang tidak luput kita tidak mawas diri🙂

    • kehidupan negara indonesia tidak lebih hanya menuangkan kata2 kewajiban bukn keikhlasan,

      • Sungguh miris jika tanpa keikhlasan semua bisa terwujud secara nyata😥

  2. Saya suka sekali dengan istilah 3F singkatannya pendek, tapi berhasil menggambarkan keadaan generasi saya secara umum, saya sendiri merasa tertampar dgn istilah itu setelah berfikir lebih mendalam …😛

    Generasi 3F yang terlihat `kurang kepedulian nasionalnya` tsb kan produk dari sistem pendidikan , media etc etc di negeri ini, dimana karena kurangnya langkah antisipasi di tingkat pendidikan primer, Sosialisasi tentang `pembangunan kepribadian menjadi `kalah kuat dgn kampanye westernisasi melalui gaya hidup, ikon2 kapitalisme yg NIHIL filterisasinya dari pihak pemerintah

    Jadi salah siapa dong?

    Sekaligus pada kesempatan ini saya ingin `setuju` kalau pemerintah kita dianggap Lebay, namun lebaynya selektif di seputar permasalahan yang tidak ada hubungannya dgn pembangunan kepribadian bangsa, alias lebay yang non-konstruktif.

    • Terima kasih mba komentarnya🙂 , saya melihat dari generasi 3F itu tercermin dari pola kepemerintahan yang mengrubis jiwa nasionalisme rakyatnya.

      Sehingga, penggalan kalimat dari Moch. Tohir, sekarang kian marak diberitakan diberbagai media yang ada malah kadang belum selesai dengan satu masalah yang ada, sudah datang masalah yang baru, sehingga yang lama terarsipkan dan yang baru dihebohkan.

  3. Hehehe sekarang sya tertarik membahas pemberitaan di media.

    Karena saya mahasiswi komunikasi, saya melihat tumpang tindih trend berita itu sebagai rangkaian upaya yang tendensius, untuk mendidik masyarakat kita menjadi masyarakat yg pasif.

    Menutupi satu kasus/ isu dgn isu baru, dan kemudian isu baru lagi, isu baru lagi… yang efeknya pada stadium awal, menengah dan akhir adalah ,pertama-tama masyarakat menjadi bersemangat dan partisipatif, kemudian mulai bingung karena beragamnya kasus, untuk kemudian menjadi jenuh dengan parade kasus2 tak berujung…

    • Hmm, mahasiswa komunikasi. Tentu akan banyak hal baru yang bisa saya ketahui nih. Terlebih masalah media online.

      Kata-kata ‘jenuh’ dari masyarakat ini, tentu menarik juga. Dari satu berita atau isu ke berita lainnya. Sehingga, tendensius menjadi pembentuk image baru untuk penikmat berita🙂

      Jadi, ada baiknya peran media dalam mengangkat isu juga bisa dengan ‘awal sampai akhir’ yg baik untuk keterbiasaan mendidik masyarakat.🙂

  4. Generasi 3F di bentuk oleh tayangan televisi yang 24 jam berbau love, gaul, modis, fashion, sinetron, entah apa lagi tetekbengeknya, belum lagi musik indonesia yang melow menjunjung tinggi kreativitas cinta, yang ntah pa ntah…

    • Dan juga layanan teknologi yang secara umum, terlebih media jejaring sosial yang kadang banyak bikin orang alay. Hahaha

      • hahaha,inget jaman SMP kalo sms hurufnya naik turun.hahaha😛

      • untung jaman SMP dulu belum ada istilah alay🙂

  5. Saat ini jelas bangsa kita sedang belajar. Namun yang memprihatinkan banyak (tdk semua) orang-orang idealis, pemikir berlomba tidak untuk memperjuangkan dan mendewasakan bangsa, justru berlomba memelintir idealismenya mencurahkan pemikirannya dan melebaykan nasionalisme menjadi usang dan tak bermakna.

    Salam Kenal

    • Salam kenal kembali mahesa🙂
      komentar anda sangat mengena bagi sebagian orang yang dengan lantang membawa idealis, tapi sebaliknya mereka luput dari sebuah perjuangan untuk bangsanya.😉

  6. Negara lebai. Oh, inilah tanah air yg dicita2kan dan selalu diagungkan? Buat apa ya kita selalu hormat ke merah putih, kl itu hanya bendera negeri lebai.. Cukup ironis!

    Salam kenal🙂

    • Penghormatan untuk bendera bisa jadi semata sebagai simbol dan bukti atas berjasanya negeri ini dalam merebut kemerdekaan, tapi entahlah jika sekarang penghormatan yang dilakukan, mungkin hanya semata tanda formalitas di bawah batas-batas peraturan yang ada.

      Salam kenal kembali tya🙂

  7. […] on Ikhlas Karena AllahAulia on Meng-online-kan Indonesia Samp…Aulia on Negeriku Kadang Lebai…Herman S.Y on Ikhlas Karena Allahhahn on […]

  8. Lebay, … …
    korupsi —–> KPK
    century —-> pansus century
    makelar kasus —-> ????
    Dampat tabung elpiji 3 kg —-> ????
    kenaikan TDL —-> ????
    Presiden 3 periode —–> ????

    Parahnya lg ada yg bilang Dampak Tabung Elpiji 3 kg bukan ide SBY melainkan pak JK tapi koq continue trz ya,… … …

    • makelar kasus > ada gayus😀
      tabung elpiji > ada Pertamina😉
      TDL > ada PLN😆
      presiden > ada partei :p

      semua telah lebay dibuat oleh para pemangku negeri, kita hanya bisa berusaha untuk diri kiat bisa lebih baik🙂

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: