Mungkin Saya Belum Terlambat


late

image by sorrow-tiger.deviantart.com

JARUM jam telah melewati pukul 2.25 pagi, suasana di luar sana pun telah sunyi senyap dari kegaduhan manusia. Sebelum jam menunjukkan pagi buta, ada sesuatu yang menyelinap dalam pikirannya.

Terbawa suasana yang tidak asing lagi, sambil berjalan matanya tidak lepas dari sebuah layar kecil yang hanya hitungan menit terus berbunyi. Dahinya mengerut saat satu pesan singkat muncul secara otomatis dari tombol select message.

Dibacanya berulang kali, pertanda ia belum menangkap isi dari maksud itu. Terus saja kepalanya berputar dan tidak lama ia terbawa seperti orang yang tercengang hampa, tak lama sesudah itu arah pun berbalik. Dari raut wajahnya kelihatan aneh dan tersenyum hambar, belum juga terjawab isi pesan itu atau memang ia sudah mengetahuinya.

Detakan jarum jam sudah mulai bergeser detik melewati angka-angka yang berjejeran, pikirannya pun kembali dibawa suasana lain. Sekali lagi ia menekan select message dan mengumbar senyum lebar dan ini pertanda ia sedikit gembira.

Walaupun terkesan canda, sepertinya hawa dari pesan itu membawa sebuah tanda tanya dari si pemilik pesan. Namun, sayang ianya belum bergeming, saat jari-jari menekan tombol demi tombol ia belum begitu yakin dengan canda tadi.

Belum lengkap satu pesan bagi dia untuk mencerna maksudnya, sudah mendapat pesan lainnya. Sungguh berat pikirnya malam ini, bergumam sendiri dalam hati dan itu tidak ada dalam pesan tadi.

Akhir dari sebuah pesan mendapat sebuah peluang yang tidak hambar sepertinya kali ini, ia diminta untuk menghubunginya untuk sebuah kejelasan yang benar. Kini jelas mukanya mencair kegirangan, belum tentu itu membuat ia senang atau pun sebaliknya.

Diucapnya salam sebagai pertanda pembicaraan dimulai, dalam hitungan detik ucapan balasan pun menyambut. Percakapan yang cukup lama terjadi, tapi satu hal yang pasti ia membuat sebuah janji, indah atau tidaknya itu sudah menjadi penghargaan untuk saling mengenal diri.

Terlewat dari itu semua, kembali pada pangkal pesan yang ia dapat telah bergumam, semoga yang lalu tidak kembali terjadi. Keras menghentak pikirannya dan itu semua bertekad untuk mengakhiri apa yang sedang terjadi.

Kadang ia sering menutup akan hal yang sedang membuatnya lesu, kadang juga membuatnya sungguh tidak terkontrol dari hati. Bisa berbuat manis dan baik, itupun tidak diperlihatnya. “Mungkin saya belum terlambat”, begitulah yang sering ia ucap dalam penatnya.

Tidak hanya sekarang, bahkan dulu itu telah terucap. Namun, tidak begitu lancang dengan apa yang dirasakan sekarang. Pikirannya ke bawa arah yang tidak menentu, bercerita pun kadang ianya hanya terpaku untuk satu tujuan nyata.

Nasehat pun sering melayang kepadanya, “kamu itu belum apa-apa, jangan bisa mengatakan ini dan akan mendapatkan itu”, semua itu ia dapat dengan begitu lapang dada. Merasa sebuah masukan menjadi berharga dan membuatnya belum terlambat.

Dalam sembah sujudnya, mungkin tidak seindah yang dulu lagi. Dalam ucapannya juga tidak semenarik yang telah ada sebelumnya. Semua terkesan berubah begitu saja, seakan kata-katanya itu hanya ada di bibir dan lidah yang lemah tak bertulang.

Keluh dan jerit bahkan kini sudah jarang ia peroleh dari malam-malam yang ia lewati, kalau pun dulu ia sering merintih bisu dan terisak pilu. Kini itu sudah tidak ada, dan lagi-lagi mungkin dunianya sudah beda.

Tapi dalam setiap ingatannya, ia tidak lupa akan orang yang pernah dicintainya atau mungkin sekarang itu masih ada rasa yang terlewatkan. Dengan enggan semua membuat beda, tak lepas dari bahagia pada hari itu ia juga ingin merasakan hal yang sama. Walaupun orang yang ia cintai kini telah berubah nasib, karena nasehat yang pernah menghujamnya waktu itu masih sangat tersirat.

Ia belum menjadi sebuah harapan yang handal, belum bisa memberikan kebanggaan bagi orang disekitar. Bahkan orang disekitarnya pun kadang lupa akan keberadaannya. Dengan suara lantang dalam hati ia masih berharap, semua itu belum terlambat.

Tidak tahu sampai kapan, semua itu akan ia lalu begitu saja. Karena asa dan cita yang pernah ia miliki sampai sekarang terlihat dan terasa tidak akan pernah padam. Ia bahagia di setiap waktu yang bertambah dan ia juga merasakan jarak yang terus memisah.

Inilah apa yang sedang ia rasa, merenungi nasib untuk menjadi orang yang tidak akan pernah merasa terlambat. Dalam akhir sujud dan doanya pada sang Khalik, ia masih memohon jika semua akan berakhir berikan waktu agar ia tidak terlambat untuk kebahagiaan yang telah ia hari ini.

Di pagi buta ia telah mengakhiri semua cerita dengan sederet doa dan harapan untuk masa indah yang akan dicapainya suatu saat nanti. Kata amiinlah yang menutup semua itu dengan malaikat telah ikut mengamininya.[]

6 Responses

  1. Komentar pertama..😀

    • alias pertamax😉

      • awak yang keduaxx lah..hehe

      • end saya yang ketigax juga ah…
        beuh kok jadi nyampah di cerita saya nih😥

  2. salam kenal ya🙂 btw kata orang bijak tak pernah ada kata terlambat🙂

    • salam kenal juga aulawi…🙂
      orang bijak emang mantap! don’t be late😀

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: