Menguak Keindahan Alam di Tanoh Jeumpa


Pemandangan di atas Pantai Gua Cot ReulengBIREUEN siapa yang tidak mengenalnya, sebuah kabupaten hasil dari pemekaran Aceh Utara yang kini dikenal dengan sebutan kota Juang. Ada banyak hal yang bisa kita temui disini, mulai dari keramah tamahan masyarakatnya, oleh-oleh makanan kecil, buah-buahan sampai keindahan alam yang sangat mempesona. Tidak mengherankan juga bila pesona keindahan alam di kabupaten Bireuen dapat disejajarkan dengan tempat-tempat wisata di kota besar lain di nusantara.

Kali ini, Komunitas Blogger Aceh Regional III Bireuen atau lebih akrab disapa ABC (Aceh Blogger Community) berkesempatan untuk melakukan ekspedisi dan berjiarah ke makam-makan para pahlawan. Ide ini berawal dari perencanaan yang sederhana pada malam minggu (18/7) yang dikemas dalam bentuk kopi darat (kopdar) bertempat di simpang empat Bireuen.

kopdar malam minggu

Dalam kopdar tersebut ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan, selain event rutin mengenai blog dan menulis pada bulan Agustus nanti serta munculnya prakarsa untuk melakukan ekspedisi sebagai bahan ekstra kegiatan ABC untuk mendukung proses yang akan dijalankan nanti dalam memperkenalkan Aceh di dunia maya.

Ternyata dari hasil kopdar selama 2 jam malam minggu tersebut, tepatnya senin (21/7) bertepatan dengan hari besar Islam Isra’ Mi’raj. Tim ekspedisi ABC Reg. III Bireuen (X-ABC III) yang terdiri dari Tengku Muda, Zulmasri a.k.a jol_cipuga, Ian a.k.a putra_kotajuang dan saya sendiri bergerak dari basecamp Geulumpang Payong menuju target pertama ke arah barat kecamatan Pandrah.

Gayung pun bersambut, dari hasil kontak Tengku Muda dengan beberapa rekan disana ternyata memberi titik terang. Tim X-ABC III disambut oleh rekan-rekan (awak Nanggroe) daerah Pandrah yang berkenan untuk menemani kami sekaligus menjadi guide selama melakukan perjalanan di wilayah tersebut, perjalanan kami tidak mengalami sedikit pun kendala yang berarti.

Tugu TUMIBA09 Gampong Samagadeng

Tim X-ABC III beserta awak Nanggroe pertama kali mengunjungi area bendungan di Gampong Samagadeng, tidak jauh dari jembatan bendungan tersebut terdapat batu besar yang bertuliskan TUMIBA09 dengan warna kuning, bendungan ini dibuat oleh Pemda setempat pada tahun 2007. Bendungan yang mendapat suntikan air dari areal pegunungan daerah Samagadeng, selain itu pula bendungan dengan kedalaman kira-kira 20 meter tersebut ternyata dijadikan oleh warga desa Samagadeng sebagai sumber mata air untuk keperluan sehari-hari, baik digunakan untuk minum, mencuci dan keperluan lainnya.

Bendungan TUMIBA09 Samagadeng

Tidak lama-lama kami di bendungan TUMIBA09, setelah mengabadikan beberapa gambar langsung bergegas untuk melakukan perjalanan lainnya untuk melihat sisi keindahan alam dari gampong Samagadeng. Sebelumnya, tim mempersempatkan diri untuk mencari bekal, namun apa dikata akses ke daerah keramaian sudah sulit ditempuh, namun tim hanya memperoleh air mineral saja dan itu tidak memberatkan langkah kami untuk terus bergerak.

Tim X-ABC bersama Awak Nanggroe di atas jembatan bendungan

Tim X-ABC menuju ke air terjun Ceuraceu

Air Terjun Ceuraceu

Bergerak dari daerah bendungan TUMIBA09 sampai ke air terjun Ceuraceu hanya berjarak 4 km, kami kebingungan juga ketika ditawarkan untuk melakukan pendakian gunung daerah air terjun tersebut berada, mengingat kami membawa kendaraan roda dua. Namun, menurut guide kami yakni awak Nanggroe mengatakan bahwa tidak usah berkecil hati, daerah tersebut bisa kita tempuh dengan kendaraan roda dua bahkan juga roda empat.

Menyusuri sedikit hutan menempuh ke air terjun

Dari kejauhan memang sangat jelas, tidak ada tanda-tanda ada jalan yang bisa kita lewati. Setelah kami mendekat ke kaki gunung, sebuah jalan dengan tanah keras berwarna kuning terpampang begitu lebar dan hanya bisa muat satu mobil. Keadaan medan yang sungguh menantang, membuat kami beberapa kali terjatuh dan terpelosok dalam jurang jalan yang terbentuk dengan sendirinya saat hujan tiba. Sungguh membuat adrenalin berpacu kuat jika kita melintas di jalan ini dengan tanjakan yang cukup-cukup terjal. Jika anda suka melakukan off road dengan roda dua atau roda empat mungkin itu menjadi tempat yang patut diperhitungkan.Sedikit usaha dari atas turun ke bawah untuk melihat air bisa terjun

Setelah hampir 30 menit bergumul dengan debu dan terik matahari yang menyengat, akhirnya kami tiba pada tempat tersebut. Tidak jauh dari jalan tempat kami berhenti, terdengar bunyi desiran air yang gemercik dan kicauan burung-burung, rasanya hati ini tidak sabar lagi untuk melihat keindahan air terjun.

Terlihat kehati-hatian dari tim untuk bisa menempuh ke bawah air terjun

Tapi ingat, jangan berbangga dulu, masih ada sedikit perjalanan lagi. Dari tempat kami berhenti, ternyata kita harus melewati jalan setapak dan itu tidak mungkin dijangkau lagi dengan kendaraan roda dua dan apa pun cara harus berjalan kaki turun. Tidak lebih dari 10 menit kita berjalan, akhirnya keindahan bunyi gemercik tadi hadir di depan mata. Sebuah keindahan yang luar biasa, sebuah tempat yang belum pernah di jamah oleh orang banyak dan masih sangat kerasa alaminya.gemercik air terjun saat musim kemarau

Namun, disamping-samping air terjun kita terpaksa harus melihat pemandangan yang tidak menyenangkan dari ulah tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Pohon-pohon yang mati kering ditebang menjadi pemandangan yang memilukan hati, bukti kurangnya perhatiaan pihak yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam.

Pemandangan dari atas air terjun

Saat kami sampai dan menginjak kaki di air terjun, ternyata kami berada di atas permukaan dimana air terjun bermuara. Dan posisi di muara tidak begitu puas, sehingga kami pun melakukan aksi turun tebing sejauh 25 meter dengan batu-batu yang terjal. Tempat ini memang juga sangat cocok bagi pecinta alam yang suka melakukan climbing (panjat tebing) selain menikmati indahnya pesona air terjun.

Berselang beberapa menit setelah melakukan aksi turun tebing, tentu tidak ketinggalan adalah prosesi pengabadian gambar sebagai momen yang ditunggu sambil menggali-gali infomasi tentang keberadaan air terjun ini.

Rumput dicelah-celah batu gunung

Air terjun yang kami ekspedisi kali ini bernama Ceuraceu terletak di gampong Samagadeng Kecamatan Pandrah, asal kata Ceuraceu tersebut menurut keterangan awak Nanggroe sabagai guide yang kami bawa menyebutkan bahwa kata tersebut berasal dari orang-orang tua dulu, dan bagi mereka dulu itu tentu mempunyai arti tersendiri dari apa yang disebukan.

Perjalanan untuk menempuh air terjun Ceuraceu ini lebih kurang 8 km dari jalan raya Medan Banda Aceh dengan keadaan medan dan kondisi jalan yang cukup menantang seperti yang sudah diceritakan di atas tadi. Walaupun tidak begitu jauh dari jalan raya, tempat ini memang jauh dari pusat keramaian (pasar atau keude) dan fasilitas umum lainnya.

Jika ingin berkunjung dan suka berpetualang, ada baiknya membawa bekal secukupnya terlebih bila keadaan panas serta penutup mulut (masker) untuk mencegah debu berterbangan di sepanjang jalan kaki gunung.

Untuk menempuh ke air terjun Ceuraceu sangat mudah, bila datang dari arah timur (Medan) menuju ke barat/Banda Aceh bila kita sudah dekat gampong Samagadeng akan mendapati sebuah Mesjid Jami’ Baitul Kiram disebelah kiri bahu jalan, maka tepat di depannya sekita 15 meter terdapat persimpangan. Dari arah persimpangan tersebut menuju ke dalam sampai di air terjun Ceuraceu masih terdapat jalan aspal, namun hanya sampai daerah bendungan TUMIBA09 saja.

Jadi, tunggu apa lagi? bagi anda yang suka tantangan, ingin memacu adrenalin dan gemar melakukan climbing. Ini sudah bisa anda rekomendasi menjadi tempat wisata bersama kolega anda. Selain itu perhatian pemerintah daerah untuk prasana juga tetap diperlukan, karena ini adalah bagian aset bagi daerah setempat untuk ke depannya. Tim X-ABC III tetap merindukan air terjun Ceuraceu.

Makam Delapan Pahlawan Syuhada

Jika anda yang sering melintas jalan raya Medan Banda Aceh, tentu tempat ini tidak akan pernah terlewatkan. Berada persis dipinggir jalan dan berpas-pasan dengan sederetan penjual jajanan air tebu sungguh membuat pesona makam ini sering ramai dikunjungi orang, baik yang sekedar lewat untuk beristirahat atau pun yang sengaja menyempatkan diri kesini sembari menikmati air tebu khas daerah Cot Geulungku, kecamatan Simpang Mamplang Kabupaten Bireuen.

Makam syuhada ini terdapat disebelah kiri bahu jalan, jika kita berada dari arah timur (Medan) menuju Banda Aceh, tepat disebelah kanan dan juga berhadapan dengan makam syudaha tersebut juga terdapat mushalla dengan nama yang sama. Karena posisi inilah sering kali orang-orang yang melintas dengan kendaraan pribadi singgah sejenak, untuk shalat atau pun menikmati air tebu yang ada.

Nama-nama para syuhada Areal makam syuhada ini sudah dipugar, layaknya sebuah kamar dengan ukuran kira-kira 4m x 4m. Selain itu juga terdapat tempat mushalla kecil dibelangkanya serta tempat wudhu bagi orang-orang yang ingin menunaikan shalat sunat. Makam ini sudah lama dikenal orang-orang setempat bahkan masyarakat Aceh karena letaknya yang begitu strategis.

Dibagian depan makam ini terdapat juga celengan besar dari besi yang sengaja dibuat oleh warga sebagai tempat sedekah dan amal, hasil dari celengan itu biasa sering dipergunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan makam seperti perawatan, pembersihan dan lain-lainnya sebagainya.

Makam syuhada ini memang banyak menyimpang sejarah saat Belanda menjajah ke tanah Seuramo Mekkah, ketika tim X-ABC III datang tidak ada pengurus setempat yang bisa kami minta keterangan lebih lanjut tentang kisah awal mula adanya makam ini. Namun, di depan makam kita bisa menemukan nama-nama para syuhada dan keterangan singkat dalam bentuk ukiran kayu yang diberi lapisan kaca, tulisan tersebut juga tidak luput untuk kami abadikan sebagai bahan dokumentasi.

Dibagian ukiran kayu tersebut tertuliskan dengan “Makam Delapan Pahlawan Syuhada”, berikut nama-namanya: 1. Tgk. Panglima Prang Rajeuk Djurong Bindje 2. Tgk. Muda Len Mamplang 3. Tgk. Njak Bale Ishak Blang Mane 4. Tgk. Meureude Tambue 5. Tgk. Bale Tambue 6. Apa Sjech Lantjok Mamplam 7. Muhammad Sabi Blang Mane 8. Njak Ben Matang Salem Blang Teumuelek

Dibagian bawah nama-nama tersebut tercantum sebuah tulisan singkat yang berisi “Pada awal tahun 1902, memusnahkan sepasukan patroli serdadu marsose Belanda sebanyak 24 orang. Dikala 8 orang pahlawan ini sedang mengumpulkan senjata serdadu yang korban, tiba-tiba di serang oleh sepasukan Belanda lainnya yang datang memberi bantuan dari jurusan Jeunieb, kedelapan pahlawan tersebut syahid semuanya sebagai bunga bangsa di tempat.”

Itulah informasi yang tim X-ABC III dapat, paling tidak menjadi bukti bahwa Aceh sangat terkenal dengan heroisme-nya dalam melawan segala bentuk penjajahan sampai mereka harus bertarung nyawa demi menyelamatkan Tanoh Rencong ini dari penjajah, dan apa yang kita lihat rasakan sekarang ini menjadi salah satunya bukti dari apa yang telah diperjuangkan dulu.

Pantai Gua Cot Reuleng

Setelah Tim X-ABC III beranjak dari makam delapan syuhada, masih ditemani oleh para awak nanggroe alias guide. Kami lansung bergegas ke tempat wisata bahari, yakni Pantai Gua Cot Reuleng yang terletak di Desa Calok Kecamatan Simpang Mamplam.

Goa ini terbentuk akibat abrasi dari air laut, kini sudah tidak lagi gua-gua tersebutTidak begitu jauh dari makam syuhada, dengan mengendarai kendaraan roda dua dan berjalan ke arah barat tidak lama kita kemudian sekitar lima menit kita akan menjumpai sebuah simpang tiga atau dikenal dengan Simpang Mamplam di sebelah kanan bahu jalan.

Pantai Gua Cot Reuleng ini memang memiliki view laut lepas yang cukup indah, dari bibir pantai (pante dalam bahasa Aceh) bisa menikmati pemandangan gunung yang menjulang tinggi, diantaranya Gunung Goh, Gunong Geureudong dan gunung-gunung kecil lainnya.

Selain itu, gua ini menurut cerita yang kami dapat terbentuk dari terjadinya abrasi. Sehingga lambat laun, karang yang terbentuk juga menjadi gua-gua yang kecil. Daerah pantai Cot Reuleng ini sebelumnya sudah ramai dikunjungi oleh warga dan dibuka untuk umum, namun akibat tingkah laku muda-mudi yang tidak mengindahkan Syariat Islam, maka masyarakat Calok menutup akses yang begitu umum untuk menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Tebing dari abrasi laut ini kemungkinan tidak lagi karena sudah semakin tergerus oleh air lautDi pantai Gua Cot Reuleng juga terdapat area pembudidayaan rumput laut yang dikelola oleh masyarakat setempat, walaupun kami tidak dapat melihat dari jarak dekat, namun keberadaan tempat pembudidayaan tersebut bisa kita tandai dari jaring-jaring yang ditarik hampir sepanjang pante sebagai batas untuk menandai kawasan budidaya.

Daerah ini sebenarnya sudah terpublikasi secara luas, tapi anda tidak usah khawatir untuk berwisata ke pantai Gua Cot Reuleng. Bukti kemolekan dan suasana dari pantai ini sungguh bisa membuat tidur nyenyak dengan menikmati view pantai dari arah atas tebing gua tersebut. Selain itu pula, pohon-pohon yang rindang membuat suasana makin bertambah rileks.

Inilah sedikitnya keindahan alam di Tanoh Jeumpa Kabupaten Bireuen, tentunya masih banyak lagi tempat-tempat yang belum terpublikasi untuk umum. Bahkan hemat cerita keberadaan air terjun Ceuraceu di Samagadeng masih juga luput dari orang setempat, memang aneh sih.

Sebenarnya diakhir penjelajahan dari tim X-ABC III, juga menyempatkan diri ke makam Raja Jeumpa di desa Blang Seupeung dusun Tgk, Keujreun. Namun, dari informasi yang kami tanya dengan orang-orang setempat, kontroversi mengenai keberadaan makan Raja Jeumpa belum ada kejelasan. Menurut mantan Geuchik desa Blang Seupeung, cerita mengenai Raja Jeumpa yang bisa diperoleh secara lengkap yakni melalui keluarga beliau sekarang yang masih menetap di desa itu pula.

Berhubung kedatangan tim X-ABC III juga sudah sore hari, maka untuk menggali informasi tentang keberadaan Raja Jeumpa menjadi bahan tambahan untuk ekspedisi-ekspedisi mendatang. Selain itu tim X-ABC III juga telah menyempatkan diri untuk menikmati keindahan daerah industri di kawasan Batee Geulungku dengan ditemani air kelapa muda dan cemilan lainnya yang khas olahan aneuk dara Bireuen. Sampai jumpa di liputan ekspedisi lainnya, ditunggu juga ABC regional lain untuk penjelajahannya.[]

30 Responses

  1. kita tidak boleh merusak alam
    ok………………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    • Betul sekali, alam untuk dijaga akan kita bisa hidup berdampingan🙂

  2. Oma teuh, Pajan ta jak lom bak air terjun.

    • Hom hai, uroe raya tajak kiban, sekalian tajak meuramin ABC Reg. III Bireuen…

  3. Ingin bergabung di ABC … apa persyaratan nya ???

    • kirim saja alamat blog dan nama ke email register.aceh@gmail.com dengan subjek Daftar, lalu gabung di Facebook dan Milis Aceh Blogger (acehblogger@yahoogroup.com)🙂

  4. […] lagi sejarah yang pernah terjadi di dataran Bireuen ini. Dataran dimana pernah menjadi salah satu pusat peradaban, dan nilai-nilai sejarah yang kadang sering luput dari waktu dan mata-mata orang yang sibuk […]

  5. Assalamualaikum
    Bang klu mau bergabung di tim ABC blh gak,sy mw ikut mencari tau sekalian menjaga sejarah itu…gmna cr bergabungnya…

    • wa’alaikumsalam
      Boleh saja efri nanti tinggal gabung di Grup FB saja alamatnya http://www.facebook.com/groups/acehbloggercommunity/ dan bisa sapa teman-teman blogger semua🙂

  6. wah.. rindu masa dulu2.. gambar jih na yang error go bang…
    _______________________________
    Tempat Wisata menarik di Malaysia <a href='http://www.cibuka.com&#039; wisata kuala lumpur wisata kuala lumpur Malaysia

    • Gamba awai mungken ka gadoh link bak fb, jadi error.

      Oma na backlink lagoe, bereh emang😀

      • ka salah meutiek.. ha.ha.

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: