Caleg Kok Gitu Sih?


poster caleg

Foto: hinamagazine.com

Perjalanan pulang kampung alias pulkam saya kali ini (12/01) ke Aceh, alhamdulillah berjalan lancar dan sehat wal’afiat tanpa kurang dari suatu apa pun baik mulai dari keberangkatan sampai dikediaman tercinta (Matang My Lovely).

Lalu apa hubungan dengan judul di atas “Caleg Kok Gitu Sih?”, sebenarnya kalimat sebelumnya itu hanya sebagai intro saja. Berhubung sekalian saya berbagi pengalaman kali ini, namun jika anda merasa ‘kurang berkenan’ membaca dari embel-embel tulisan ini tanpa to the point silakan atuh loncat ke bagian/sub poin “Caleg di Jalan-Jalan”.

Kalau saja masih ngotot pengen baca perjalanan saya pulkam kali ini. Jadi, jangan sungkan-sungkan baca saja dari awal sampai akhir dan siapa tahu barang kali anda terciprat do’a saya untuk para blogger semua yang suka blogwalking atau pun sekilas pandang (emang ada do’a blogger?, Ada, yakni Ya Rabb, kuatkan dan semangati blogger semua untuk terus menulis sepanjang hanyat di kandung badan. Amiin).

Lagi-lagi perjalanan pulkam kali ini agak sedikit beda, maklum Indonesia lagi di landa musim hujan hampir disemua pelosok tanah air dan sampai-sampai banjir sudah jadi langganan bagi republik ini.

Keberangkatan pada kali ini saya kembali harus memaju dengan waktu, di tiket pesawat sudah tertera harus sampai bandara 1B jam 17.00 WIB untuk check-in. Namun, saya baru keluar dari kosan jam 15.30 WIB dan harus menuju ke Pasar Minggu untuk transit ke bus Damri jurusan airport. Keadaan diluar memang tidak menentu, kadang hujan deras dan kembali reda atau hanya tinggal gerimis mengundang saja.

Padahal target sebelumnya, saya jam 15.00 WIB harus berada di Pasar Minggu, karena bisa dimaklumi hari kerja seperti senin sangat rawan macet terlebih bila keadaan hujan seperti ini. Waktu tak bisa ditahan, berhubung sebelum bertolak ke bandara sebelumnya saya masih sempat melangkah kaki ke kampus untuk beberapa kepentingan ‘mendadak’ (mendadak harus update-our-blog, reply email Aceh Competition 09 via milis ABC, buka fb sekalian fs untuk update status bahwa saja tidak ada di Depok untuk sementara waktu alias harus on vacation in Aceh…hehehehe).

Yah, seperti itulah kehidupan sang OWL disela-sela waktu luang. Ada saja yang harus dikerjakan dan tak hayal bila jadi orang ‘sok sibuk’ sesekali.

Kembali dalam berpaju dengan waktu untuk melangkah ke bandara, tiba di pasar minggu ternyata hampir jam 16 dan sungguh ini membuat jantung berdenyut kencang dan berpikir jauh kedepan apakah terkejar satu jam dari Pasar Minggu ke Cengkareng buat check-in karena jam 18.00 WIB harus tinggal landas dengan pesawat Sriwijaya (btw, ini pesawat dapat nama dari mana ya? dari orang palembang atau klub sepak bola nasional sih).

Pasrah dan berdoa semoga jalanan tidak macet dari aktifitas orang kantoran yang pulang kerja, aduh-aduh Ps. Minggu sampai Pancoran masih saja menyimpan kenangan antrian ala siput ngesot dan jam ditangan sudah menunjukkan jam 16 lewat 30 menit. Pak sopir Damri pun dengan sabar menunggu antrian untuk berbelok ke kiri masuk pintu tol pertama.

Selang beberapa menit kemudian, pintu tol pertama pun sampai dan perasaan sedikit lega paling tidak gas sudah bisa ditancap sedikit lebih kencang dari sebelumnya bila dibandingkan ngesotnya siput bisa jadi ngesotnya sang suster yang lumayan lebih cepat.

Lagi-lagi yang namanya Jakarta, tol juga mengalami hal yang sama. Antrian panjang juga berlaku di pintu masuk. Alih-alih pemda DKI memberlakukan kebijakan ini itu macet tetap kenangan indah untuk kehidupan di Jakarta.

Jam 17.00 WIB akhirnya saya sudah memasuki daerah Tangerang kawasan menuju airport. Semoga saja saya tidak telat banget buat check-in walaupun jam 17 sudah lewat. Terlintas dipapan tol dari kejauhan Bandara Soekarno-Hatta 1 km kedepan, masih dalam perhitungan bahwa telat mungkin 15 menit dari jam 17. Tak lama kemudian, hujan masih saja mengguyur bandara, sekitar jam 17 lewat 20 menit saya telah berada di depan terminal 1B.

Keadaan dipintu masuk sangat sepi dari hulu halang orang-orang dan tidak terlihat sedikit pun ada antrian, hanya ada satu dan dua orang yang mulai masuk. Saya pun bergegas terlebih dahulu untuk membuang sedikit hajat ke toilet dan tak lama berselang sekitar hampir setengah 6 saya pun menuju ke pintu masuk dengan memperlihatkan tiket pada petugas yang berjaga.

Melewati cek/pemeriksaan bagasi dan segala macam tetek bengetnya saya menuju ke loket check-in yang sempat terlewatkan berhubung tanpa satu orang pun yang check-in di maskapai Sriwijaya tujuan Medan. Entah karena saya orang terakhir atau memang sepi penumpang karena hari sudah sore. Check-in selesai dan tidak lama setelah itu menuju ke ruang tunggu di B7 yang sebelumnya harus membayar boarding pass (pajak penumpang/jasa raharja) terlebih dahulu.

Jam sudah menunjukkan jam 18 kurang 20 menit, sekali lagi harus melewati pemeriksaan bagasi sebelum kita bisa sejenak duduk untuk menunggu di ruang tunggu (awaiting room). Ruang tunggu pun ternyata tidak sebanyak biasanya, bahwa memang benar penumpang tujuang Medan tidak penuh satu pesawat hanya sampai nomor kursi 19 saja dari 22 kursi yang ada kalau gak salah (saat petugas mengumumkan untuk penumpang tujuan Medan bersiap-siap untuk naik pesawat).

Sambil menunggu 20 menit lagi jam 6, akhirnya saya pakek buat baca buku cerita Kamu Gila Aku Cinta, sesekali saya melihat jam digital di tembok ruang tunggu dan saat melihat kelain sisi dari kejauhan saya melihat muka yang tidak asing di stasiun televesi. Dan sosok itu ternyata seorang aktor pemain sinetron yang kelihatannya mau berangkat ke Pangkal Pinang yang ruang tunggunya kebetulan berada disebelah ruang tunggu tujuan Medan.

Beberapa mata penumpang ikut terkesima melihat seorang aktor yang sedang sibuk dengan ponselnya (maklum aktorkan orang sibuk) dari kejauhan. Untungnya tak ada seorang pun ada yang minta foto bareng, berarti para penumpang saat itu gak maniak sama si aktor itu.

Panggilan penumpang sudah terdengar, akhirnya bergegaslah saya ke pintu yang menuju ke pesawat dengan menunjukkan bukti boarding pass tadi. Hujan pun belum reda, karena itu para penumpang harus melewati pintu yang ditarik otomatis mendekati pintu pesawat (apa ya namanya? gak tahu saya).

Saat di Pesawat
Kursi 19C, itulah milik saya sementara untuk berangkat ke Medan di pesawat Sriwijaya Boieng 737/300 yang berada nun jauh di punggung belakang pesawat.

Pesawat ini menjadi kali pertama saya untuk menumpangi Sriwijaya, biasanya masih langganan dengan Lior Air, Batavia, Air Asia, Mandala dan Adam Air (sebelum gulung tikar). Namanya penumpang apalagi bagi saya seorang mahasiswa tentu naik pesawat bukan hal yang mudah, karena tempat travel harus mau bersusah payah dan bersedia sabar untuk membuka halaman demi halaman situs maskapai kecuali Garuda (bukan kelas saya) bila ada yang pas dengan kantong baru booking deh.

Kadang harga-harga tiket bagi yang suka hemat itu sering berada di pagi-pagi hari atau di sore-sore. Ada tips yang bisa anda coba jika iseng-iseng untuk mendapat harga tiket dipasaran 400 ribu – 500 ribu (Medan – Jakarta) yakni pas hari H, datanglah ke bandara dengan rentan waktu pagi buta atau sore hari seperti saat saya pulang ini terlebih jika keadaan hujan itu bisa sangat mempengaruhi.

Karena rentan waktu seperti itu, pesawat bisa saja mempunyai kursi kosong (untung-untungan), sehingga mereka mau saja memberikan harga murah untuk penumpang yang daripada menyisakan bangku kosong (film kali ya). Namun, ini hanya sebatas hoki atau untung-untungan semata (bukan rekasaya).

Dua kali enam puluh menit akhirnya dalam keadaan malam yang kelam dengan udara di atas ketinggian 34 ribu kaki mendarat juga di banda Polonia Medan, walaupun keadaan saat di udara masih terdapat cuaca yang kurang bersahabat, sesekali sang pilot memperingati penumpang untuk tidak meninggalkan tempat duduk.

Sesampai dibandara langsung menuju ke daerah taksi yang sudah saya kenal yakni taksi gelap dimana orang-orangnya berpenampilan sedikit berbeda dari yang resminya dan mempunyai kode pendekatan dengan penumpang yang berbeda pula (biasa mereka sering mengatakan luar dek atau luar bang itu maksudnya taksi luar tanpa pajak). Tawar menawarkan pun terjadi, kemana dek? kata si supir. Ke Gajah Mada (loket bus Pelangi antar kota antar propinsi) bang! jawab saya.

Lansung to the poin, berapa nih? tanya saya. “Adek kasih 35 ribu ja deh!” pinta si supir taksi tadi. Saya pun tahu ke Gajah Mada hanya 25 ribu standar biasanya. Sedikit berkilaf dengan harga BBM yang turun saya pun tawar dengan harga 20 ribu. Spontan si supir tidak mau, karena mereka harus menyetor lagi kepada backing di bandara, para supir-supir gelap ini berada dibawah kordinasi pihak aparat tuuuuuuttttt.

Jadi, sampai pada kesimpulan akhir tawaran saya tetap jatuh pada 25 ribu dengan sedikit logat orang medan saya bilang “udah lah bang 25 kalau gak saya cari lain ja!”, beuh tanpa berpikir panjang langsung Ok deh dari si supir. Berangkatlah saya ke Gajah Mada dengan mobil pribadi dari sang supir taksi gelap ini, biar suasana lebih akrab saya juga sedikit investigasi dengan si supir tentang keberadaan mereka yang ternyata telah berpuluh-puluh tahun di bandara Polonia, satu dua info akhirnya telah mengantarkan saja ke Gajah Mada. Thank for Pak Supir Taksi Gelap (Dark Taxi).

Caleg di Jalan-Jalan
Perjalanan malam dari Medan menuju Aceh memang sangat saya dambakan, karena disaat malam paling tidak masih bisa beristirahat didalam bus walaupun tidurnya tidak senyenyak ditempat tidur. Namun, perjalanan kali ini saya enggan untuk menutup mata terlebih lagi saya berada di posisi paling depan deretan kiri sopir.

Jadi, posisi demikian tidak cocok untuk tidur ala ayam dibus berhubung juga jika anda tidak menutup mata anda dengan sesuatu, maka cahaya-cahaya lampu mobil yang ada dijalan sungguh melelahkan mata dan mengganggu apalagi bagi pak sopir (ya gak pak?).

Lanjut ke pemandangan jalan-jalan selama saya berada di bus, jelas keadaan malam tidak baik untuk melihat-lihat keadaan disekitar saat bus melewati kampung demi kampung sampai kota ke kota lainnya. Hanya lampu rumah-rumah dan lampu jalan negara yang menghiasi pemandangan sekitar dan juga baliho-baliho serta spanduk-spanduk yang penuh dengan muka-muka ‘penuh dosa’ (karena manusia penuh dengan dosa).

Ya, itulah dia muka-muka para calon legislatif yang akan bertarung pada tanggal 9 April 2009 nanti. Inilah inti dari tulisan Caleg di Jalan-jalan, bahkan sebelumnya di Depok juga demikian. Tulisan saya bukan berarti mengkritisi apalagi mau beradu argumen, toh saya gak bisa debat apalagi menyangkut dalam hal kategori politik yang bisa berkilaf lidah dengan seribu lima ratus empat puluh sekian-sekian argumen.

Anda tentu sudah tahukan caleg apa, dan mengapa mereka dibutuhkan serta buat apa mereka mencalonkan diri untuk menjadi seorang caleg. Kalau memang belum tahu atau memang tidak mau tahu lebih baik anda jangan coba-coba jadi caleg.

Sekarang masanya bagi para caleg untuk berkampanye, walaupun kampanye secara terbuka belum dimulai. Kampanye yang ada sekarang masih seputar wajah-wajar besar di jalan, di bilboard papan reklame yang ukurannya hampir satu kamar anak kos-kosan bahkan banner-banner kecil yang menghiasi pepohonan.

Belum lagi bendera-bendera yang berkibar begitu gembira di atas pohon-pohon atau pun sekedar numpang di papan reklame orang, yang penting gratis (banyaklah memberi tumpangan, karena anda sungguh akan banyak pahala).

Perjalanan kali ini hampir disemua ruas jalan negara Medan Banda Aceh yang dilewati bus yang saya tumpangi penuh dengan muka-muka caleg. Sesekali tersorot dengan lampu mobil mereka tersenyum dengan bahagia atau mungkin mereka pura-pura senyum saat di foto untuk dimuat dalam spanduk yang berada di jalan-jalan (entahlah-karena saya tidak bisa mendokumentasinya).

Pohon, ya itulah makhluk hidup yang membantu manusia sehari-hari dalam menghirup CO2 dan mengeluarkan O2 yang saling menguntungkan bagi sesama. Lihat saja apa yang dilakukan oleh sosok Bapak tua di Kota Bandung yang tanpa pamrih membersihkan kota itu dari sampah termasuk membersihkan wajah caleg di pohon-pohon yang berdiri tegak dari paku-paku yang mereka tancapkan untuk memberikan tanda bahwa mereka sekarang mau jadi caleg untuk rakyatnya.

Miris kalau kita lihat atas semua tindakan yang dilakukan oleh hampir semua caleg menempatkan foto tersenyumnya beserta nomor urut untuk dipakukan di pohon-pohon. Walaupun pohon tidak menjerit kesakitan, tapi malaikat pun tahu akan hal itu.

Mereka juga ingin hidup layaknya kita hidup, berarti ada satu-mungkin lebih dari satu-hal bahwa si celeng eh caleg tidak sayang sama pohon (wahai pecinta lingkungan kampanyelah masalah ini). Mengapa mereka harus menyuruh orang untuk menempatkan fotonya dipohon dengan harus melibatkan senjata tajam paku lagi. Apakah cara-cara intelek lain sudah hilang dimuka bumi ini untuk mempromosikan muka yang penuh senyum itu? jawab dalam hati masing-masing atau tulislah disini jika mau.

Dari satu pohon ke pohon lainnya, muka-muka sama dan ada juga yang berbeda. Kadang sering merusak tata letak kota, disebuah sudut jalan atau mungkin pas di bengkolan jalan kayu dengan seadanya sudah berdiri muka-muka yang saling berhadapan.

Caleg oh caleg kini waktu pesta akan bangsa ini sudah semakin dekat saja, pesan moral disini sangat simpel dan mudah untuk menyayangi lingkungan dan alam sekitar kita termasuk si puun alias pohon. Jika hendak memasang publikasi atau alat kampanye kenapa harus malam hari, seakan-akan terkesan seperti ‘pencuri’ bagi orang yang memasang sang idolanya di jalan-jalan (bisikan pak sopir disaat mengalahkan rasa bosannya menyupir bus pelangi).

Lebih tangkas lagi pak sopir pun ngomong “abeh dum hek ureueng dukung caleg nyoe dukung caleg jeh, ban ka jeut euntreuk ka tuwe keu geutanyoe (banyak orang dukung caleg ini dukung caleg itu, saat sudah jadi nanti lupa lah dia sama kita ini)” kurang lebihnya begitulah bang super (jangan baca super-manusia kuat-tapi bacalah super atau bahasa indonya supir) ngomong.

Saya pun tersenyum dengan kata-kata itu, banyak orang telah sadar akan calon pemimpinnya dan sesekali si sopir juga ngompol (baca: ngomong politik) ala SBY dan JK.

NB: huuuuhhh, lagi-lagi harus nulis panjang bikin capek orang baca aja.

26 Responses

  1. Selamat Pulang Kampung bro….
    Welcom back to Acheh…

    Oke Pak Milvan

  2. M.SAID. CALEG PMB DPR RI Says:

    18 November 2008 at 12:04 am.

    # MUHAMMAD SAID. S.Ag
    # CALEG DPR RI PARTAI MATAHARI BANGSA (PMB) DAPIL GRESIK – LAMONGAN
    # Sebelum semua terjadi, mari kita sama2 introspeksi akan kekurangan dan keterbatasan kita masing2. Jangan pernah merasa paling pinter apalagi merasa paling benar sendiri. Segala sesuatu butuh penyelesaian yang arif dan memberikan solusi jitu dan “kepuasan” bagi semua. kita sama2 introspeksi untuk memperbaiki mental dan pola pikir kita, karena bagaimanapun juga Indonesia butuh pemimpin yang bermental MENGABDI UNTUK RAKYAT, memperjuangkan kepentingan RAKYAT dan benar2 bekerja
    menjalankan amanat RAKYAT, bukan untuk kepentingan sekelompok. Kalau kondisinya seperti ini terus kapan Indonesia akan bisa maju dan disegani oleh Bangsa Lain ???? zaman telah berubah. tantangan dan Issue global harus dapat kita jawab secara ilmiah. Mari kita bangkit !!!!!
    Rakyat butuh pemimpin yang mau peduli jeritan hati rakyat, bukan pemimpin
    yang “pinter” tapi minteri. Percayalah !!! masih ada jalan, jangan pernah menyerah sebelum bertarung dan jangan pernah skeptis banget dengan orang yang masih mau peduli dan punya niatan baik untuk berjuang ditengah2 morat-maritnya mental dan moralitas. Kalau semua ogah dan tidak peduli….justru ini akan menjadi kesempatan empuk bagi mereka yang memanfaatkan kesempatan.

    ada yang promosi nih

  3. wahh…pengen banget pulang ke banda lewat Medan naik bus..malem-malem..:).

  4. Caleng2….piye iki toh????

    Kadang2 saya BT sendiri alo liat poster caleng yang terpampang di pinggiran jalan….😦

  5. >>> bluedicko
    tapi dijamin tidurnya gak bakal nyenyak

    >>> Fahrisal Akbar
    Kadang ada yang menggunakan foto dengan berbagai macam model…. leg….leg mau jadi pa poster mu itu😀

  6. caleg skg udah “lebay”
    apa itu yang namanya demokrasi?
    terlalu banyak pilihan membuat kita pusing sendiri
    gimana kita kedepannya kalo untuk milih pemimpin aja kita udah dibuat puyeng.
    indonesiaku….indonesiaku

    apa pun ceritanya ini yang dikatakan pesta demokrasi mba, pilih atau tidak semua ada ditangan anda! Bersabarlah….

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: