4 Tahun Yang Lalu


Tangis dan air mata

Tangis air mata atas kebesaran Mu Ya Allah/foto by HA

EMPAT tahun yang lalu di ujung pulau Sumatera, deras air mata dan tangis telah membasahi. Empat tahun yang lalu juga musibah tsunami telah menjadi kenangan yang tak pernah terlupakan di alam jagad raya ini.

Banyak yang telah terlewati dan seiring waktu berjalan, segala perubahan yang ada membuat yang lama menjadi bekas yang tidak hilang dari sejarah.

Semua yang dirasakan oleh mereka dan saya juga salah satu diantaranya merupakan hal yang tak bisa terlupakan begitu saja. Detik-detik yang meluluhlantakkan seisi kota dan bagian negara menjadi teriakan yang tak berdaya anak manusia.

Tak luput dari ingatan dan tak lekang dari goresan, menjadikan sebuah renungan untuk bangsa dari apa yang telah dirasakan. Dunia pun menatap beratnya pengorbanan yang harus mereka lepaskan dari mereka cintai dan kasihi.

Kini semua harapan telah kembali menjadi sebuah penantian, rumah yang diterjang ombak dan harta yang dibawa air serta reruntuhan yang menenggelamkan diri adalah makna yang sungguh terabaikan dalam sesaat.

Mulianya hari Jum’at ini tanggal 26 Desember 2008, membuat saya kembali meneteskan air mata. Bukan sesuatu yang cengeng dan bukan ingatan yang dibuat-buat, terasa bila itu terjadi hari ini sungguh bukan itu yang kita harapkan (na’udzubillah).

Teringat akan teman seperjuangan, teringat akan orang tua, guru dan sanak famili semua menangis dan histeris. Di atas semua yang telah berlalu ini bukan peristiwa tanpa ada hikmah dibaliknya.

Mereka yang terlunta-lunta, tanpa rumah dan orang tua. Anak yatim dan janda serta orang tua yang hilang anaknya dan masih banyak derita lain sampai saat ini masih membekas di jiwa kita.

Barak pun menjadi tempat singgah sementara dan/atau bahkan itu bisa menjadi rumah tetap saudara kita. Uang yang bercucuran datang dan masih banyak donasi lagi yang kini hilang entah kemana.

Nestapa yang membawa isak tangis adalah besar nilainya bila kita mengakui keagungan Allah SWT. Tuhan yang menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya ciptaan di atas bumi ini, Maha Besar Engkau atas segala nikmat-Mu Ya Rabb.

Engkau berikan sebuah ujian untuk tanah Seramoe Mekkah-Mu, bangsa yang banyak orang bersujud pada-Mu. Namun, hari itu 26 Desember 2004 semua kembali dari apa yang telah Engkau firmankan Kun Fayakun [Yaasiin:82].

Dua ratus ribu nyawa telah melayang, meraka dipanggil dalam berbagai keadaan. Berbagai nikmat dan kuasa juga diperlihatkan. Bau menyengat menhiasi tanah-tanah yang berlumuran lumpur, badan yang telanjang, tubuh yang hitam, raut muka yang tersenyum dan air yang membelah serta mukena yang masih utuh semua menunjukkan kebesaran Mu Ya Rabb.

Kini entah bagaimana jadinya, entah mereka masih mengingat dosa-dosa yang telah dilakukan. Masih ingat berjiarah ke pusara yang ada, hari itu jasad ini ibarat tidak ada apa-apanya. Diseret dengan alat berat, dikebumikan secara bersama-sama dalam lubang yang besar.

Mesjid Yang Tetap Utuh

A mosque stands alone amongst the ruins ot the tsunami in a district of Banda Aceh, Aceh province, in western Indonesia. Foto by boston.com

Itulah sejarah yang telah terlewatkan. Rumah Mu Ya Rabb Engkau selamat dari derasnya air beserta hamba-hambaMu yang berada di dalamnya. Sungguh sujud syukur atas apa yang telah Engkau anugerahkan.

Banyak yang telah terukhir di bumoe Iskandar Muda, goyangan dahsyat tanoeh Kutaraja telah hilang kekuatan Aceh untuk selamanya. Saya dan kita semua menjadi warisan atas semua yang terukhir di ujung pulau Sumatera.

Memori yang telah dituliskan, masih tidak cukup dari sebuah isi dan pikiran yang ada. Karena masih banyak perjalanan panjang yang harus ditempuh. Akhir kata, semoga tulisan ini membawa ingatan kembali untuk merenung sejenak dari lelahnya dunia untuk sebuah ujian yang telah kita rasakan pahit dan perihnya sebuah pengorbanan.

Untuk semua arwah yang telah berpulang kepada Mu Ya Rabb, tentramkan mereka di alam sana dan berita ketabahan serta kesabaran atas keluarga yang ditinggalkan karena kita semua akan pulang kehadirat Mu suatu saat nanti.[]

23 Responses

  1. […] on Antara 14 Februari & Musli…Cengkunek on Antara 14 Februari & Musli…diah on 4 Tahun Yang Laluaslam on Core 2 Duo atau Dual Coreaslam on Core 2 Duo atau Dual Corebluedicko on Antara 14 […]

  2. […] Aceh 4 Tahun sudah berlalu dari kejadian musibah gempa dan tsunami di Aceh, khatib juga memberikan gambaran apa yang telah […]

  3. kini, waktu telah bertambah, lima tahun sudah berlalu

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: