Mahasiswa Plus Sutradara


Aksi di depan DPR

Bentrok antara mahasiswa dengan polisi kembali terulang, Rabu (25/6) malam. Aksi kurang simpatik dilakukan mahasiswa dengan merusak pos Polantas Bundaran Senayan, Jakarta Selatan. Polisi menangkap seorang demonstran.

Pemukulan serta penangkapan oleh polisi membuat mahasiswa tidak tinggal diam. Dalam jumlah yang lebih banyak, gabungan mahasiswa se-Jabotabek muncul dan balik menyerang polisi. Saling lempar batu, botol, dan tembakan gas air mata pun tak bisa dihindarkan.

Bentrokan baru berhenti setelah polisi mundur dan mahasiswa berhenti melakukan serangan. Demonstrasi dilakukan mahasiswa terkait dengan peristiwa kematian aktivis Univeritas Nasional Maftuh Fauzi beberapa waktu lalu.

Itulah berita yang diturunkan oleh Liputan6.com, kalau berbicara masalah ini sebenarnya sudah mengalami masa kadarluarsa alias basi. Kenapa begitu? anda yang sering mendengar dan melihat berita di berbagai media tentu punyai alasan.

Berbagai gaya berita yang bermunculan kini, menjadi “harga” tersendiri. Aktivis yang satu ngomong seperti ini dan yang lain tentunya ngomong seperti itu. Beragam wacana muncul ke publik atas aksi yang dinilai semua elit berlabelkan ANARKIS.

Ingat anarkis bukan kesesatan, melainkan sebuah KEBEJATAN. Aksi tidak dilarang, sebatas itu adalah hak semua warga untuk berpendapat dengan istilah kata “DEMOCRAZY” yang melebar tinggi.

Pak SBY sendiri turun suara atas kejadian rabu malam tersebut. Warga jadi korban, pagar rakyat dihancurkan, lagi-lagi duit rakyat di hantam juga. Menentang kebijakan dengan “berjubah” Kenaikan BBM mungkin untuk beberapa bulan ini adalah biasa saja.

Namun dibalik semua itu, siapa tahu maksud dan tindakan brutal tersebut. Beberapa oknum ada yang terlibat, bukan hanya mahasiswa tetapi beberapa bahkan setengahnya mengaku warga yang telah menyandang status Alumnus. Nasih bangsa memang buruk, kepala tidak lagi di “atas” untuk setahun kedepannya ini.

Kursi pemerintah bakal diganti, tentu aksi-aski seperti ini yang ingin mereka cari. Solusi dan solusi walhasil semua tertawa dengan lantangnya ketika ada pertanyaan yang datang kepada mereka. Jangan membawa nama MAHASISWA jika moral dan etika menghancur nama bangsa ini.

“Gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga”, itu hanya peribahasa. Tidak mungkin semua susu harus di buang. Ingat jangan selalu memaknai nama demi rakyat, nyatanya rakyat masih bisa hidup menunggu ajalnya.

Kursi nomor satu negara ini masih tinggal hitungan bulan, merekalah sutradaranya. Semoga kembali dalam hakikat memperjuangkan rakyat dengan seikhlas perbuatan dan suara yang tak pernah disumpal oleh embel-embel yang dunia.

Kecewa dan kecewa hanya satu bagi mereka MAHASISWA Yang di SUTRADARAI. Tidak ada guna lagi berkoar kalau ini saja yang bisa kita perbaiki belum ada rakyat yang setuju dengan aksi.

13 Responses

  1. kayaknya orang “besar ” yang jadi produsernya, kira2 bener ga ya?

  2. Bisa jadi orang BESAR, orang kecil kan gak sanggup buat mikir banyak.
    Paling cuma pemain latar aja.

  3. Wah, wah…
    Makin rusak saja…

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: