Hilangkan Egois


egois

Ilustrasi: Google Images

PERTEMUAN jum’at kali ini (6/6) di Mesjid Ukhuwah Islamiyah (MUI) Depok, masih dibayangi dengan tema seputar kenaikan BBM. Sang khatib dalam pesan singkatnya kali ini mencoba sedikit mengutarakan pandangannya mengenai BBM di mimbar yang mulia.

Berlandaskan pandangan Islam yang harus diperhatikan, khatib sangat menekankan padangan egoisme manusia yang semakin hidup tanpa memikirkan apa yang ada dibalik sifat itu.

Ketika sebuah sikap yang disangka menyusahkan rakyat, kita terus menuntut dan menuntut untuk dihilangkan. Namun, tidak terpikirkan oleh manusia itu sendiri bagaimana sikap borosnya ketika sebuah harga itu menjadi murah dan sangat disayangkan rasa keadilan untuk sesama umat hilang begitu saja.

Pandangan sang khatib tentang kenaikan BBM memang berbeda, dalam artian kata bukan menolak kenaikan BBM atau pun menuntut untuk dihapuskan kebijakan tersebut.

Melainkan khatib berpesan dalam waktu yang singkat, dimana posisi kita sebagai manusia yang berikan nikmat dan karunia oleh Allah SWT, sungguh luput dari rasa syukur yang ada.

Indonesia negeri yang kaya akan sumber daya, memang semua kekayaan yang ada kini terbeli dengan sangat mahal. Minyak yang ada yang harus di jual keluar, energi yang kini melimpah butuh pengelolaan yang mahal.

Bukan bangsa ini tidak mampu untuk berdiri sendiri, tetapi ketamakan dan borosnya manusia yang ada kini telah membuat manusia hidup bergantungan demi sebuah kebijakan yang di nilai tidak adil.

Nikmat listrik yang ada sekarang, masih banyak manusia di Indonesia yang lain belum bisa menikmatinya dan betapa sedihnya kalau rasa keadilan ini sendiri bisa terjaga. Karena sangat banyak pembuangan energi yang dilakukan manusia tanpa tersadari.

Hidup boros tanpa memikirkan kesejahteraan orang lain memang bukan sesuatu yang bisa di banggakan, karena kita sering merasa dengan apa yang sudah bisa memenuhi kebutuhan selama ini.

Mengutamakan akal dan pikiran dalam kesejahteraan umat adalah hal yang sangat mulia, bukan langsung beradu dengan kekerasan ataupun dengan tudingan yang semua itu belum tentu bisa menyelesaikan masalah.

Akhir kata sang khatib menghimbau untuk selalu bisa mengontrol diri dari semua isu yang ada, berpikir lebih dulu sebelum berbuat adalah tindakan yang sangat bijak. Jangan sampai kesempatan seperti ini bisa membuat orang-orang luar masuk ke dalam tubuh Islam untuk mencerai beraikan semua.

Hidup seorang muslim bagaikan bangunan, dimana satu bagian saling menguatkan bagian yang lain. Begitulah tekad yang kita perlu untuk waktu yang sangat kritis ini.

11 Responses

  1. Bung adithya harap bersabar, semua kembali ke mereka bagaimana melihat agama itu sendiri.

    Kuatnya kita ini karena bersatu, ibaratkan sebuah tubuh.

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: