Buat Apa 10 Tahun Reformasi?


Reformasi IndonesiaSIAPA yang tidak ingat dengan peristiwa 12 Mei 1998, sepuluh tahun yang lalu telah menjadi saksi pergerakan mahasiswa nasional bagi bangsa Indonesia. Saya sendiri pun tidak begitu mengerti dengan masa itu, disaat rezim yang begitu “kejamnya” bangsa ini bisa dilumpuhkan oleh mereka-mereka pahlawan muda yang berstatus mahasiswa.

Mereka sering disebut sebagai aktivis bahkan orang yang nomor satu yang begitu peduli dengan nasib rakyat dibandingkan para wakil rakyat di gedung senayan, ketika rakyat diguncang dengan isu dan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak “pilih kasih”, aksi turun jalan menjadi pilihan untuk bersuara demi kata hati rakyat. Banyak referensi yang mungkin anda bisa membacanya diberbagai sumber-sumber yang teruji dengan kevalidasiannya.

Saya disini menulis bukan untuk mengangkat sisi cerita Mei sepuluh tahun yang lalu, melainkan sebatas pandangan orang biasa yang tidak pernah turun ke jalan sejak menjadi seorang mahasiswa. Bukan berarti hidup tanpa melihat penderitaan rakyat, karena kita sendiri sebagai mahasiswa juga layaknya rakyat biasa yang selalu dekat dengan rasa “penderitaan”, dimana setiap peraturan yang ada selalu ada rasa tidak nyaman dan tertekan pasti kebangkitan untuk bersuara itu pasti ada.

Sekarang ini bertepatan dengan bulan Mei, tepatnya kemarin (12/5) di hampir seluruh pelosok tanah air. Media cetak dan elektronik penuh dengan berita aksi para mahasiswa dengan menentang atas kebijakan-kebijakan yang dinilai tidak bisa mensejahterakan rakyat.

Momen yang sangat pas memang saat dimana pergerakan sepuluh tahun yang lalu kini dibangkitkan lagi. Memang isu seputar menurunnya jiwa aktivis yang ada sekarang pada mahasiswa telah sangat terlihat, dimana rasa kekompakan yang gampangnya kita lihat kian hari menyusut.

Fakta ini sebenarnya bukan opini pribadi saya saja tentunya, banyak mereka-mereka mantan aktivis ’98 yang mengemukan hal demikian. Bahkan para aktivis jaman jebolan sebelum era reformasi pun bisa menilainya sendiri. Senin kemarin mungkin menjadi aksi yang menambah rentetan makna bersejarah selama pemerintahan SBY-JK. Bukan hal biasa memang bila BBM terus naik tanpa ada kata sekali pun untuk turun kecuali kata-kata (alm) Harry Roesli yang dulu pernah dimuat harian kompas tujuh tahun yang lalu.

Walaupun judul kolom pada kompas tersebut hanya akal-akalan HR saja ternyata penuh dengan pesan-pesan yang memojokkan pemerintah pada saat itu. Apakah pemerintah saat ini sama seperti itu?, kenyataan di lapangan anda bisa melihatnya. Ada beberapa ucapan yang saya lihat dari tulisan HR memang masih sangat indah bersemi dan bercokol pada pemerintahan kita saat ini pada judul Harga BBM Turun (2), HR menulis;

“Nah kalau di Republik Beling bensin naik? Oh, itu bukan kiamat! Itu kan kata iklan sekedar menyesuaikan dengan harga bensin di Singapura! Tarif telepon naik? Itu sama sekali bukan kiamat! Itu kan sekedar perangsang supaya orang lebih sering kungjung-mengunjungi, tidak bicara lewat telepon! Tarif listrik naik? Masak ini disebut kiamat? Ini kan untuk mensubsidi para petinggi supaya lebih giat bekerja! Harga beras naik? Bodoh!! Ini bukan kiamat dong! Ini adalah untuk mengsosialisasikan program diet karbohidrat, sehat itu! Masa sehat disebut kiamat? Ingat! Mudah lho mendapatkan “kiamat” dari rakyat.”

Sepuluh tahun reformasi telah berlalu, dulu dan sekarang jauh berbeda. Terlebih masa pemerintahan yang kini saatnya “Indonesia Bersatu”, jauh sebelumnya rakyat telah hidup mati dalam kemiskinan, kemelaratan bahkan menjadi korban kebijakan dari moneter jadul. Selamat berjuang wahai para mahasiswa, raih dan gapai kembali supremasi kedaulatan bersuara dan selalu waspadai pihak-pihak “serigala yang berbulu domba”.[]

8 Responses

  1. emang dalam tiap jaman harus ada yg bersuara
    dan tiap suara memiliki jamannya masing-masing
    selamat berjuang di jalanmu!

  2. > edy
    dan terima kasih kepada seluruh pejuang bangsa! Mas juga pernah ikut berjuang seperti itu?

  3. betapa senangnya jika BBM turun meskipun sekali saja, tapi sepertinya mustahil.

  4. @marsini
    pemerintah: turun-no, naik-yes

  5. > riza
    sepertinya kata-kata itu sudah baku di ranah perpolitikan kita, sekali A harus A, sekali naik tetap naik.

  6. waspadai serigala berbulu domba
    and
    SELAMATKAN PARA DOMBA DARI SERIGALA REFORMASI

    domba-domba yang tersesat

  7. Saya rasa siapapun Presiden nya, situasi sekarang dengan harga minyak bumi semakin naik tidak ada pilihan lain kecuali menaiikan harga BBM. Tidak mungkin APBN hanya diisi dengan subsidi. Ternyata BBM subsidi banyak yang disalah gunakan. Kebocoran nya sangat luar biasa. Nah kalu sudah begini subsidi untuk siapa. Tikus juga kan.

    Kalau bisa disalahkan adalah pemerintah tidak siap dengan BBM alternatif seperti BBG, LPG, Bio Fuel dsb.

    Hingga pada masa sekarang yang terjadi pun tak lain dan tak bukan masih berlaku sama, terjebak dalam kongkalikong

  8. saya mengakui bagaimanapun 10 tahun reformasi ini memiliki makna dan arti tersendiri. meski dalam perjalanan reformasi yang sepuluh tahun terdapat pasang surut persoalan negeri ini yang tak kunjung usai, akan tetapi realitas obyektif berkat reformasi tentulah ada. misalnya, kebebasan pers, suara demokrasi yang makin dijunjung, dst. kakanda amien rais dan kawan-kawan mahasiswa yang menjadi ikon/elemen reformasi kiranya perlu diberikan penghargaan di negeri ini. itu aja, yakusa!

    Semoga kedepan bisa lebih baik dari hasil reformasi ini

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: