Bukan Dangdut Seperti Yang Dulu Lagi


Melihat acara “Topik Kita” di antv, memang isu hangat tentang goyangan dangdut selama ini menambah panjang tentang permasalah moral bangsa. Dalam acara tersebut tampil bintang tamu dari sebuah group dangdut trio macan yang kebetulan group ini sangat terkenal dengan goyangannya.

Hal menarik dari berbagai pertanyaan yang diajukan dalam acara topik ini selalu bermunculan kata-kata yang umum dari mereka (trio macam, pen) tentang pendapat dan pandangan mereka dalam aksi panggung.

“Semua tergantung…”, seperti itulah ketika ada pertanyaan yang mereka anggap semua kembali ke publik, sempat dalam acara yang sama pula melalui line telepon Walikota Bogor menilai hal ini harus bisa diminimalisir oleh mereka para pen-dangdut (walaupun bukan kata baku) untuk bisa menjaga nilai kesopanan dalam setiap aksi dan gerakan.

Masih banyak sebenarnya pendangdut Indonesia yang berlaku sama seperti trio macam baik itu dari tingkat goyangan sampai dengan kualitas dari hiburan itu sendiri yang makin menjurus dalam pornografi atau pun pornoaksi. Apalagi yang berlaku dalam penyiaran seperti di televisi memang harus melibatkan pihak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang melakukan sensor terhadap tanyangan yang ada.

Namun hasilnya anda bisa melihat sendiri, berbagai tanyangan konser-konser dangdut hampir semua memiliki rate yang jauh dari perkiraan. Bobroknya moral sebuah bangsa memang tidak harus dilihat dari segi hiburan dangdut saja misalnya, masih banyak celah yang lain. Tapi setidaknya hal tersebut merupakan langkah yang paling manjur untuk mencegah kurangnya budaya malu di bangsa ini yang makin hari makin merosot.

Hal yang paling aneh selama ini terjadi di media adalah adanya artis dangdut yang protes akan tindakannya melalui jalur hukum yang dianggap telah menjegal aktivitasnya sebagai pendangdut. Memang dunia sudah edan, orang menilai sesuatu serba penuh dengan logika saja. Kalau itu enak buat pribadi ya tetap dijalankan saja, bagaimana dengan orang lain terserah mereka yang menilai terlebih harus membawa-bawa nama agama.

Kata-kata seperti itu kerap kita dengar, artis yang menjadi publik figur sebenarnya mempunyai kode etik tersendiri. Dimana harus memberikan contoh yang baik ke masyarakat luas, bukannya hanya memikirkan diri pribadi bahkan hak privasi yang biasanya dilecehkan orang.

Sungguh inilah realita dalam kehidupan di dunia hiburan di Indonesia, negara barat saja seperti Amerika sebenarnya telah menerapkan denda bagi penyanyi yang melakukan aksi tidak senonoh di depan publik. Nah, untuk Indonesia hal seperti ini harus menunggu waktu lama.

Maka sangat jelas hiburan dangdut di Indonesia “Bukan Dangdut Seperti Yang Dulu Lagi” dimana nilai-nilai etika dan moral kian hari makin merosot, apakah hanya musik ber-genre dangdut saja? anda punya jawabannya.

4 Responses

  1. maaf, anda harusnya belajar bahasa Indonesia lagi, dan juga harus belajar ngetik yang benar. periksa dulu postingan anda untuk mencari salah-ketik dan tata bahasa, sebelum dipublish di internet

    Ya masukan, rata-rata terlalu ke EYD. Walaupun begitu terima kasih juga dah

  2. @ikssan
    Itu saran yg luar biasa. Biar orang enak bacanya. (masa ada kata pendangdut Ul??😀 )
    Sebenarnya sih tidak masalah, dengan segala postingan yg ditulis di blog. Karena blog dikuasai mutlak oleh pemilik blog.
    ———————————————————————————–

    Ul, yg bener tuh trio macan or macam?

    Yang pasti sih gung macan tapi gak tutul, atas semua masukan akhirnya sudah direvisi paling tidak sedikit.
    Menunggu masukan yang lain………

  3. saya tidak pernah menyebut-nyebut soal EYD tuh. Isi blognya bagus, saya suka baca blog ini, cuma kadang2 terganggu dengan banyaknya kata-kata yang salah ketik dan kalimat yang menggantung. Maksud saya kan baik.. Nah sekarang setelah direvisi lebih enak dibaca kan?

    Oh begitu rupanya, okelah saya akan menulis dengan penuh ketelitian lagi. Btw, mas Hifni Ahmad ada tulisan atau nge-blog juga?, barang kali kita bisa saling bersilaturrahmi.

  4. […] Erotis, hmmm inilah yang buat mereka bisa menarik dan menarik lagi massanya alias simpatisan. Goyangan dahsyat sampai merobohkan panggung sungguh luar Biasa (bukan dangdut seperti yang dulu lagi). […]

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: