Betapa Indah Sakit Ini


Sejak malam minggu yang lalu, pas saat puncaknya malam CGT di Fasilkom. Badan ini sudah tidak lagi bersahabat dengan yang empunya jiwa. Memang pertanda awal batuk dan sedikit dehidrasi. Lama nian sudah tidak pernah update lagi blog ini, sejak terhitung 1 Maret sampai hari ini.

Belum ada kebebasan untuk bernafas lega, karena bertumpuk deadline dan tugas-tugas. Itu sih sudah biasa, masa-masa menjelang akan tibanya beberapa minggu lagi untuk ujian/UTS.

Kembali ke topik utama kali ini, yakni tentang sebuah cobaan kecil untuk manusia. Apalagi kalau bukan sakit, tidak ada manusia di dunia ini yang rela tubuhnya selalu berada dalam keadaan tidak fit atau dengan kata lain kurang sehat/sakit.

Memang keadaan Depok dan sekitarnya dalam beberapa hari ini kurang bersahabat dengan tubuh-tubuh lemah akan antibodi, contohnya saja saya atau mungkin ini sudah waktunya bagi saya kali ya. Memang semenjak saya menginjak kaki di Depok ini, alhamdulillah cobaan sakit di tubuh ini yang sampai harus mengliburkan diri untuk kuliah masih bisa dihitung jari.

Semenjak tahun pertama sudah lengkap dengan “penderitaan”, jadi di penghujung tahun ke tiga ini saya sudah mengalami 3 masa down baik di asrama dulu maupun di kosan sekarang ini. Memang ini sebuah sesuatu yang luar biasa yang pernah saya rasakan, kenapa saya mengatakan ini luar biasa? karena nikmatnya sakit itu tidak akan terhitung bila kita sekarang dalam keadaan sehat.

Tidak akan pernah kita berpikir akan melakukan segala aktivitas dalam keadaan sakit, namun hanya satu pernah terbesit dalam pikiran ini. Apakah Allah masih memberikan peringatan bagi saya untuk terus hidup di alam fana ini?, memang kalau untuk menceritakan masalah yang satu ini saya pernah merasakan hal yang diluar dugaan. Hal tersebut semua tersemai dalam mimpi-mimpi ketika waktu-waktu malam orang-orang sakit tertidur.

Pernah dulu suatu hari saya menceritakan pengalaman sakit saya kepada seorangan teman SMA yang kini dia sudah almarhum saat tsunami beberapa tahun yang silam. Sakit yang saya alami waktu itu memang sangat-sangat diluar perkiraan, hampir 3 minggu lebih saya tidak keluar rumah tanpa ada kejelasan atas penyakit yang saya derita.

Padahal semua check up dan tes darah sudah dilakukan. Aneh memang, namun itulah yang sangat membekas di pikiran ini, itulah waktu paling berdurasi lama selama hidup ini dalam indahnya sakit saya. Adapun saat cerita itu saya sampaikan kepada teman tersebut, mereka langsung kaget dan mengatakannya terlalu ngeri waktu itu untuk mendengarkannya. Alhasil saya hanya bercerita setengah jalan saja.

Pada kali ini pun saya tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah bersedia menolong, membantu serta menemani saya waktu sakit kepada Aa’ Ikhlas, Mas Rizal, Bung Risnal, teman-teman semua yang telah mendo’akan saya untuk kembali ke kampus serta mereka-mereka para netter AFC yang setia dengan rakyatnya. Semoga jasa kalian mendapat limpahan rahmat dan berkah dari Allah SWT.

Itulah intinya betapa indah sakit ini bila kita bisa selalu berbagi bersama teman-teman dan sahabat disekeliling kita, tidak terasa berbagai macam dorongan memang begitu saja. Namun berkat do’a semuanya Allah masih memberikan yang terbaik bagi saya untuk berkumpul bersama-sama lagi di kampus tercinta ini.

Sebuah hal yang mungkin ini terlalu ekstrim saya kemukakan adalah ketika sakit mendatangi tubuh ini, itu pertanda Allah masih mencintai kita atau bahkan Allah telah sebaliknya. Nauzhubillah minzdaliq.

Saya sempat terngiang dan beberapa kali terpikir sejauh hidup di dunia ini selama kurang lebih 20 tahun melihat dunia ini, apakah waktu-waktu yang saya rasakan itu (masa-masa kritis saat sakit) adalah masa deadline saya “bertugas” di dunia ini telah berakhir. Umur kita sebentar, tidak memandang usia, kecil, muda dan tua bahkan pangkat serta jabatan sekali pun. Semua sama di hadapan Allah, hanya kadar dan kodrat kita sejauh mana mengabdi kepada-Nya. Allahu Akbar!

Dikesempatan kali ini pula saya menyampaikan duka yang terdalam atas berpulang kerahmatullah bapak (mentri) Hasan, ayahanda dari teman/keluarga saya di Matangglumpang dua, semoga amal beliau diterima disisi-Nya.

Saya semalam juga sempat belajar dari kisah perjalanan lama (alm) Bapak Hasan, yang pergi dengan tenang tanpa ada sakit dan tanda-tanda lainnya. Namun itulah janji Allah seperti dalam surat Ali Imran ayat 185 dimana Allah berfirman; kullu nafsin dzaa-iqatu almawti (“Setiap yang bernyawa itu pasti mati”).

Maka bersiaplah kita untuk menghadapi episode yang baru ini kapan pun itu datang, Anda siap? berbanyaklah bersyukur pada-Nya.

2 Responses

  1. klo ikhlas disana bukannya nemenin owl, tapi……:mrgreen:

  2. […] ada apa-apanya lagi yang bisa kita banggakan, mungkin para ahli kesehatan sering menyebutnya dengan sehat itu mahal harganya. Makanya jangan sampai kesehatan ini diabaikan begitu saja dan dibuang untuk […]

Komentar berisi spam dan SARA, tidak akan ditayangkan!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: